Lamhot: Transformasi Energi Industri Kunci Daya Saing dan Kemandirian Energi

  • 28 Apr 2026 22:29 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Lamhot: Transformasi Energi Industri Kunci Daya Saing dan Kemandirian Energi
  • Transformasi Energi Industri Kunci Daya Saing dan Kemandirian Energi

RRI.CO.ID, Jakarta — Komisi VII DPR RI menegaskan konsistensinya dalam mendorong transformasi menuju energi bersih (green energy). Dorongan di tengah masih tingginya ketergantungan sektor industri terhadap bahan bakar berbasis minyak, khususnya solar.

Wakil Ketua Komisi VII DPR RI Lamhot Sinaga menyatakan, percepatan peralihan ke energi alternatif seperti compressed natural gas (CNG) menjadi langkah mendesak. Hal ini untuk menekan ketergantungan impor energi sekaligus meningkatkan efisiensi dan daya saing industri nasional.

Menurut Lamhot, pengembangan CNG merupakan langkah strategis memperkuat ketahanan energi nasional. CNG juga memberikan dampak signifikan terhadap efisiensi biaya di sektor industri.

“Ketergantungan kita terhadap LPG impor masih sangat tinggi. Data menunjukkan lebih dari 70 persen kebutuhan LPG nasional dipenuhi dari impor," ujar Lamhot merespons rencana kebijakan yang tengah dibahas pemerintah di bawah arahan Presiden Prabowo Subianto, dengan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia sebagai leading sektor dalam perumusan strategi energi nasional.

"Ini tentu membebani neraca perdagangan. Dan juga fiskal negara melalui subsidi energi,” ujar Lamhot dalam keterangannya, Selasa 28 April 2026.

Ia menilai, pemanfaatan CNG yang bersumber dari gas bumi domestik akan menjadi solusi rasional. Mengingat Indonesia memiliki cadangan gas yang cukup besar dan belum dimanfaatkan secara optimal, khususnya untuk sektor hilir.

Berdasarkan data Kementerian ESDM, konsumsi gas bumi nasional terus meningkat. Dengan sektor industri menyerap lebih dari 30 persen total penggunaan energi gas.

Sektor ini mencakup manufaktur, makanan dan minuman, tekstil, hingga petrokimia. Sebagian besar masih bergantung pada energi berbasis minyak dan LPG.

Lamhot menyoroti bahwa tingginya konsumsi energi di sektor industri menjadi alasan kuat perlunya percepatan transformasi menuju energi alternatif. Energi yang lebih efisien dan berkelanjutan.

“Industri adalah pengguna energi terbesar. Jika kita bisa mengalihkan sebagian konsumsi dari BBM dan LPG ke CNG, maka efisiensi biaya produksi akan meningkat, daya saing industri nasional juga ikut terdongkrak,” katanya.

Dari sisi ekonomi, penggunaan CNG dinilai lebih kompetitif dan lebih rendah dibandingkan harga energi berbasis minyak yang fluktuatif mengikuti pasar global. Selain itu, CNG memiliki keunggulan dari sisi operasional.

Gas yang dikompresi hingga tekanan tinggi memungkinkan distribusi ke wilayah yang belum terjangkau jaringan pipa. Sehingga membuka akses energi bagi kawasan industri baru maupun pelaku usaha kecil dan menengah.

Lamhot menilai kondisi ini memberikan keuntungan ganda, baik bagi negara maupun sektor swasta.

“Negara diuntungkan karena bisa menekan impor dan subsidi energi. Sementara swasta, khususnya industri, mendapatkan energi yang lebih murah, stabil, dan ramah lingkungan,” ujarnya.

Ia juga menekankan bahwa penggunaan CNG memiliki emisi karbon yang lebih rendah dibandingkan BBM maupun LPG. Sehingga sejalan dengan komitmen Indonesia dalam mencapai target net zero emission pada 2060 atau lebih cepat.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....