NU Satu Abad, Muzani: Penjaga Persatuan Indonesia
- 31 Jan 2026 13:58 WIB
- Pusat Pemberitaan
RRI.CO.ID, Jakarta – Ketua MPR RI Ahmad Muzani menegaskan Nahdlatul Ulama (NU) merupakan pilar utama persatuan bangsa dan penjaga Republik Indonesia sejak sebelum kemerdekaan hingga saat ini. Menurut Muzani, peran historis NU tidak hanya tercatat dalam buku sejarah, tetapi hidup dalam denyut perjuangan bangsa dari masa penjajahan hingga mengisi kemerdekaan.
Ia menyampaikan NU genap berusia 100 tahun pada Sabtu, 31 Januari 2026. Bahkan lebih tua dibanding Republik Indonesia yang baru akan berusia satu abad pada 2045 mendatang.
“Hari ini, Sabtu 31 Januari 2026, usia NU tepat 100 tahun. NU lebih tua dari Republik Indonesia yang baru akan berusia 100 tahun pada 2045, 19 tahun lagi,” ujar Ahmad Muzani dalam peringatan satu abad NU.
Muzani mengingatkan bahwa saat NU didirikan pada 1926, kondisi bangsa Indonesia masih berada dalam tekanan penjajahan dan kemiskinan yang meluas. Rakyat hidup dalam keterbatasan pendidikan dan ekonomi, namun para ulama dan kiai memiliki kesadaran tinggi terhadap nasib bangsa, rakyat, dan umat.
“Pada saat NU berdiri, kondisi rakyat kita miskin, tidak berpendidikan, dan serba kekurangan. Tapi para ulama dan kiai memiliki kesadaran yang tinggi akan bangsanya, akan rakyatnya, akan umatnya, kemudian mendirikan NU,” katanya.
Sejak awal berdirinya, NU telah menanamkan kesadaran melawan penjajahan melalui pendidikan pesantren dan pengajaran agama. Semangat menegakkan keadilan serta membebaskan bangsa dari penindasan terus tumbuh seiring perjalanan NU dalam sejarah Indonesia.
“Kontribusi NU terhadap Republik Indonesia sejak berdiri sampai sekarang begitu besar,” ujar Muzani. Ia mencontohkan lahirnya organisasi perjuangan di lingkungan NU, seperti Ansor pada 1934 dan Barisan Ansor Serbaguna (Banser) pada 1936.
Organisasi-organisasi tersebut berdiri jauh sebelum Republik Indonesia lahir dan menjadi bagian dari penguatan basis perlawanan terhadap penjajah. Ahmad Muzani juga menyinggung peran besar NU dalam mempertahankan kemerdekaan, khususnya pada peristiwa heroik November 1945 di Surabaya.
Saat Belanda dan Inggris berupaya kembali menguasai Indonesia, santri NU dan rakyat Surabaya bersatu mengangkat senjata mempertahankan kemerdekaan. "Ketika Belanda dan Inggris ingin kembali menguasai Indonesia pada November 1945, generasi muda NU, para santri, dan seluruh rakyat Surabaya bersatu melawan,” ujarnya.
Ia menambahkan, fatwa jihad yang dikeluarkan para ulama kala itu menjadi pemantik persatuan dan keberanian rakyat melawan penjajah. "Tanpa diminta, fatwa jihad keluar, seluruh santri NU, laki-laki dan perempuan, di desa dan di kota, mengangkat bambu runcing untuk mempertahankan Republik Indonesia,” katanya.
Dalam perjalanan sejarah berikutnya, NU juga berperan besar menjaga ideologi negara saat Indonesia menghadapi ancaman komunisme. Banyak pesantren dan santri menjadi korban demi keselamatan bangsa dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Tak hanya dalam perjuangan ideologi dan politik, NU juga selalu hadir di tengah rakyat saat bencana melanda berbagai daerah. NU berperan menenangkan umat dan masyarakat melalui pendekatan keagamaan dan sosial.
“NU hadir menenangkan umatnya, menenangkan rakyatnya, bahwa bencana adalah ujian dari Allah, ujian kesabaran dan kekuatan,” ujar Muzani. Ia menyebut doa-doa melalui yasinan, tahlilan, zikir, dan selawat menjadi bagian dari ikhtiar menjaga ketenangan dan persatuan bangsa.
“Barangkali itulah yang menyebabkan kita masih kuat dan tetap bersatu sampai sekarang. Bangsa ini berutang kepada NU,” ucapnya.
Karena itu, Muzani menegaskan negara membutuhkan NU yang kuat untuk menjaga keutuhan dan masa depan Indonesia. Menurutnya, NU yang kuat akan melahirkan Indonesia yang kuat dan berdaya saing.
“Kalau NU kuat, Indonesia akan kuat. NU kuat apabila jamaahnya sehat, kenyang, bekerja, dan hidup layak,” katanya.
Ia menambahkan, Indonesia akan kuat jika rakyatnya sehat jasmani dan rohani, cerdas pikirannya, serta memiliki pekerjaan yang layak. Menutup sambutannya, Ketua MPR RI menegaskan NU tidak mengejar pujian dan tidak gentar terhadap celaan.
Bagi NU, yang utama adalah pengabdian dan keikhlasan demi ridho Allah SWT. "Pimpinan NU, santri NU, pengurus NU, dan para nyai NU tidak perlu pujian dan tidak perlu makian, yang penting bagi NU adalah ridho Allah SWT,” ucapnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....