Harapan Ibu untuk Citra di Sekolah Rakyat: Harus Lebih Sukses, Tak Seperti Mama
- 13 Agt 2026 09:20 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Citra Nur Rahmadani adalah siswi berusia 10 tahun dari Sekolah Rakyat Terintegrasi 67 Pangkajene dan Kepulauan, Sulawesi Selatan, yang berjuang meraih cita-citanya dari kondisi keterbatasan ekonomi.
- Tidak semua anak memiliki kesempatan yang sama dalam memulai masa kecil mereka, sebagian harus belajar tentang kehidupan lebih cepat karena keadaan yang memaksa mereka untuk menjadi kuat sejak dini.
- Perjalanan Citra menuju cita-citanya dimulai dari keadaan yang serba terbatas, mencerminkan perjuangan banyak anak Indonesia yang tinggal di daerah dengan keterbatasan sumber daya pendidikan.
RRI.CO.ID, Pangkajene dan Kepulauan - Tidak semua anak memulai masa kecil dengan cerita yang mudah. Bagi sebagian anak, perjalanan menuju cita-cita harus dimulai dari keadaan yang serba terbatas.
Mereka belajar tentang kehidupan lebih cepat, bahkan sebelum benar-benar memahami mengapa keadaan memaksa mereka untuk menjadi kuat. Kisah itu pula yang pernah dilalui Citra Nur Rahmadani, siswi berusia 10 tahun di Sekolah Rakyat Terintegrasi 67 Pangkajene dan Kepulauan, Sulawesi Selatan.
Di balik senyumnya hari ini, tersimpan cerita. Cerita tentang kehilangan, perjuangan, dan harapan seorang ibu yang ingin melihat anaknya memiliki masa depan yang lebih baik.
Dulu, sepulang sekolah, Citra masih harus membagi waktunya dengan berjualan kacang. Di usianya yang masih belia, hari-harinya tidak selalu diisi dengan bermain bersama teman atau mengerjakan pekerjaan rumah.
Ada masa ketika ia harus ikut membantu ibunya mencari penghasilan untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Ada pula masa ketika Citra lebih banyak memilih diam.
Perundungan yang dialaminya di sekolah membuat senyumnya tak selalu mudah muncul. Lalu, sebuah kehilangan besar datang dalam hidupnya.
Ayah yang begitu dekat dengannya pergi untuk selamanya. Bagi Citra, kepergian sang ayah bukan sekadar kehilangan seorang sosok yang dicintai.
Ia juga menyaksikan bagaimana ibunya, Hajrah, harus bekerja lebih keras untuk menjaga keluarganya tetap bertahan. Hajrah masih mengingat betul kedekatan Citra dengan ayahnya.
“Citra itu waktu meninggal bapaknya sedih, karena dia lengket sama bapaknya,” kata Hajrah, dalam wawancara dengan Bakom RI, ditulis Rabu 12 Agustus 2026. Sejak saat itu, Hajrah menjalani hari-hari dengan bekerja apa saja yang bisa dilakukan.
Pagi hari, ia menyapu masjid. Setelah pekerjaan itu selesai, ia kembali melanjutkan pekerjaannya menjadi buruh rumah tangga demi mendapatkan penghasilan untuk keluarga.
“Sakit karena kita sendiri cari uang,” ujarnya.
Temukan Harapan Baru di Sekolah Rakyat Terintegrasi
Di tengah segala keterbatasan itu, Hajrah hanya memiliki satu harapan, yaitu anaknya bisa memiliki kehidupan yang lebih baik darinya. Harapan itu menemukan jalan ketika Citra menjadi siswi Sekolah Rakyat Terintegrasi 67 Pangkajene dan Kepulauan.
Di sekolah tersebut, perlahan Citra menemukan kembali ruang untuk menjadi dirinya sendiri. Ia bertemu teman-teman yang menerimanya, guru-guru yang mendukungnya, dan lingkungan yang membuatnya berani untuk kembali tersenyum.
Bagi Citra, sekolah bukan lagi sekadar tempat untuk belajar. Di sana, ia mulai menemukan keyakinan bahwa dirinya memiliki kemampuan untuk tumbuh dan meraih sesuatu yang lebih besar. Hajrah pun melihat perubahan itu.
Menurutnya, sejak masuk Sekolah Rakyat, Citra semakin rajin belajar dan rajin menjalankan ibadah. Yang paling membuatnya bahagia, putrinya juga menjadi semakin mandiri.
“Citra itu masuk sekolah rakyat, rajin belajar, rajin salat. Saya bangga sekali dia masuk di sekolah rakyat itu,” kata Hajrah.
Kebanggaan itu bukan semata-mata karena Citra bersekolah di tempat baru. Bagi Hajrah, melihat putrinya tumbuh menjadi anak yang lebih percaya diri dan mandiri adalah seperti melihat sebuah harapan yang perlahan menjadi nyata.
Di balik senyum Citra hari ini, Hajrah melihat perjuangan panjang yang mereka lalui bersama. Dari kehilangan ayah, bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan keluarga, hingga melihat Citra berjuang menghadapi perundungan.
Kini, ia ingin perjalanan anaknya terus berlanjut. “Citra harus lebih sukses, tidak kayak Mama,” ucap Hajrah.
Kalimat itu terdengar sederhana. Namun, di dalamnya tersimpan seluruh harapan seorang ibu yang tidak ingin anaknya mengulang beratnya kehidupan yang pernah ia jalani.
Hajrah ingin Citra memiliki kesempatan yang lebih luas. Ia ingin anaknya belajar setinggi mungkin, mengembangkan kemampuannya, dan kelak berdiri dengan kakinya sendiri.
Dan Citra tampaknya memahami betul siapa yang selama ini berdiri paling kuat di belakangnya. Dengan suara penuh haru, ia menyampaikan rasa terima kasih kepada sang ibu.
“Mama, terima kasih karena telah membesarkan kami, menjaga kami semenjak kepergian Bapak. Saya sangat berterima kasih kepada Mama atas perjuangan Mama. Terima kasih, Mama. Aku sayang Mama,” ucapnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....