Kisah Citra di Sekolah Rakyat: dari Kehilangan Ayah hingga Jadi Juara Karate
- 13 Agt 2026 08:12 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Citra adalah gadis berusia 10 tahun asal Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan, Sulawesi Selatan, yang tumbuh dalam keterbatasan sejak kecil.
- Ayah Citra meninggal dunia pada saat Citra berusia delapan tahun akibat penyakit diabetes, meninggalkan kesedihan mendalam bagi keluarganya.
- Perjalanan hidup Citra penuh dengan berbagai ujian dan tantangan yang terus berlanjut sejak masa kecilnya.
RRI.CO.ID, Pangkajene dan Kepulauan - Sejak kecil, Citra telah melalui berbagai fase kehidupan yang tidak mudah. Gadis berusia 10 tahun asal Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan, Sulawesi Selatan, ini tumbuh dalam serba keterbatasan sejak dini.
Namun, ujian Citra tak berhenti sampai di situ. Pada usia delapan tahun, ayah Citra meninggal dunia akibat penyakit diabetes, menimbulkan kesedihan mendalam bagi dirinya dan keluarga yang ditinggalkan.
Kendati demikian, sang ayah tetap peduli terhadap masa depan Citra. Sebelum berpulang, aa sempat menitipkan baju dan sepatu kepada sang ibu agar Citra tetap bisa bersekolah.
"Citra itu, waktu Bapaknya meninggal, ia sedih karena dia lengket sama bapaknya," ucap Hajrah, Ibu Citra, seperti dikutip Rabu 12 Agustus 2026.
Hanya saja, kehidupan Citra di sekolah juga tidak berjalan mulus. Ia kerap menjadi sasaran perundungan karena kondisi sang ibu yang mengalami disabilitas. Hal tersebut membuatnya semakin tidak nyaman untuk terus melanjutkan pendidikan.
Demi menghindari perundungan tersebut, Citra kemudian memilih berkeliling berjualan kacang. Kegiatan itu juga ia lakukan demi menambah pemasukan keluarga, mengingat sang ibu bekerja sebagai penyapu masjid sebagai mata pencaharian utamanya.
Berbagai tantangan tersebut lambat laun membuat Citra merasa rendah diri. Ia tak hanya kehilangan kesempatan untuk fokus melanjutkan pendidikan, tetapi juga tidak bisa mengembangkan bakatnya.
Namun, kehidupan Citra perlahan berubah setelah ia masuk ke Sekolah Rakyat (SR) Integrasi 67 Pangkajene dan Kepulauan. Di sana, Citra dikelilingi oleh lingkungan yang suportif, mulai dari siswa-siswi, wali asrama, hingga tenaga pengajar.
Kondisi tersebut membuat Citra kembali bersemangat belajar. Bahkan, ia mendapatkan kesempatan untuk mengasah bakatnya secara serius di cabang olahraga karate. Berkat ketekunannya, kecintaan Citra terhadap karate pun membuahkan prestasi.
"Dia bilang, 'Mama saya ini dapatkan juara dua karate', lalu saya bilang Alhamdulillah'," ujar Hajrah dengan bangga.
Maysaroh, Wali Asuh Citra di SR Terintegrasi 67, juga mengaku bangga dengan perkembangan Citra. Ia mengaku bahagia melihat Citra yang tadinya merasa rendah diri kini kembali menemukan kepercayaan dirinya melalui karate.
"Alhamdulillah, setelah di sekolah rakyat, Citra sudah mampu berinteraksi dengan teman-temannya dengan baik. Dan Citra juga memperlihatkan beberapa bakat, termasuk karate, yang sekarang Citra berprestasi dalam bidang itu," ujarnya.
Sekolah Rakyat tidak hanya memberikan lingkungan yang suportif, tetapi juga memberi harapan baru bagi Citra. Sebagai bentuk apresiasi, ia kemudian mengucapkan terima kasih kepada Presiden Prabowo Subianto atas kesempatan untuk melanjutkan pendidikan yang sekaligus dapat membangun kepercayaan dirinya.
"Halo Pak Presiden, terima kasih telah membuat sekolah rakyat, sehingga Citra bisa bersekolah lagi di sekolah rakyat, sehingga tidak ada yang mem-bully saya di sini," kata Citra.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....