Usai Idulfitri, Satgas Rehab-Rekon Aceh Kebut Pembersihan Lingkungan

  • 28 Mar 2026 18:21 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

RRI.CO.ID, Banda Aceh – Momentum pasca Hari Raya Idul Fitri 1447 H tidak menyurutkan ritme kerja pemulihan di Aceh. Satuan Tugas Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Rehab-Rekon) terus memacu progres fisik di lapangan, salah satunya melalui program pembersihan lingkungan dengan mekanisme Padat Karya Tunai atau Cash for Work.

Pada tahap pertama akhir Maret ini, kegiatan difokuskan di dua wilayah terdampak: Kabupaten Pidie Jaya dan Kabupaten Aceh Tamiang. Ratusan personel gabungan bersama elemen masyarakat setempat dikerahkan untuk mempercepat pemulihan.

Di Kabupaten Pidie Jaya, sebanyak 375 orang terlibat dalam pengerahan awal. Mereka terdiri dari personel Satpol PP, Linmas, Relawan Pemadam Kebakaran (Redkar), dan masyarakat umum. Aksi bersih-bersih dipusatkan di Gampong Meunasah Lhok (Kecamatan Meureudu) serta Gampong Meunasah Raya (Kecamatan Meurah Dua) yang berlangsung 28 Maret hingga 4 April 2026.

Sementara di Kabupaten Aceh Tamiang, sekitar 400 warga lokal sudah lebih dulu memulai kegiatan serupa sejak 27 Maret hingga 2 April 2026. Program ini tidak hanya menyasar pemulihan kebersihan lingkungan, tetapi juga menguatkan ekonomi warga secara langsung.

Kepala Posko Wilayah Aceh, yang juga Dirjen Bina Administrasi Kewilayahan (Adwil) Kemendagri, Safrizal ZA, menegaskan bahwa skema Cash for Work dipilih agar masyarakat memperoleh manfaat ganda dari proses rehabilitasi dan rekonstruksi.

“Kami ingin memastikan bahwa rehabilitasi dan rekonstruksi ini tidak hanya memperbaiki infrastruktur dan lingkungan, tetapi juga menyentuh aspek ekonomi rumah tangga. Melalui Cash for Work, warga terlibat langsung dalam pemulihan wilayahnya sekaligus mendapatkan penghasilan instan untuk memenuhi kebutuhan pasca lebaran,” ujar Safrizal ZA, yang juga pernah menjabat Pj Gubernur Aceh.

Safrizal juga menekankan pentingnya kecepatan dan ketepatan penyaluran hak para pekerja. Setiap warga yang ikut serta berhak menerima uang lelah Rp120.000 dan uang makan Rp45.000 per hari.

“Prinsip kami adalah transparansi dan efektivitas. Dana disalurkan secara tunai langsung kepada para pekerja di lapangan. Semangat gotong royong harus tetap terjaga, namun pemenuhan hak ekonomi masyarakat tetap menjadi prioritas untuk segera dicairkan,” ia menegaskan.

Kegiatan ini menjadi bagian dari komitmen keberlanjutan pemerintah untuk memastikan seluruh wilayah terdampak di Aceh pulih dengan standar yang lebih baik (build back better).

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....