Dua Produk Radiofarmaka untuk Terapi Kanker Siap Hilirisasi

  • 06 Feb 2026 14:58 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

RRI.CO.ID, Jakarta - Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Teknologi Radioisotop, Radiofarmaka dan Biodosimetri Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Rohadi Awaludin, memaparkan pengembangan dua produk radiofarmaka utama yang siap didorong ke tahap hilirisasi, yakni Samarium-153 EDTMP dan Iodium-131 MIBG. Paparan tersebut disampaikan dalam Temu Bisnis Radioisotop dan Radiofarmaka, di Gedung B.J. Habibie, Jakarta, Kamis 5 Februari 2026.

Rohadi menjelaskan kebutuhan terhadap radiofarmaka di Indonesia sangat besar, terutama untuk penanganan kanker dan penyakit jantung. Ia menyebutkan angka kasus kanker di Indonesia telah mencapai ratusan ribu kasus per tahun sehingga diperlukan penanganan nasional yang terintegrasi, termasuk penyediaan radiofarmaka dalam negeri.

Menurut Rohadi, radiofarmaka memiliki keunggulan dibandingkan modalitas diagnostik lain karena bekerja pada tingkat fungsi dan molekuler. “Kalau menggunakan radiofarmaka, itu imaging di tingkat fungsi atau tingkat molekul, yang merupakan fungsi dari suatu organ atau metabolisme,” ujarnya.

Ia menjelaskan perubahan metabolisme dapat diketahui lebih awal sebelum terjadi perubahan anatomi. “Artinya, sebelum ada perubahan anatomi pun bisa diketahui dengan metode ini,” katanya.

Untuk terapi, Rohadi menekankan konsep targeted therapy. “Untuk terapi, kata kuncinya adalah targeted therapy. Artinya bahan aktif itu tidak ke mana-mana, hanya menuju ke target yang dituju, sehingga efek samping sangat kecil,” jelasnya.

Keunggulan lain radiofarmaka adalah dapat digunakan dalam pendekatan pengobatan personal atau personalized medicine, karena setelah diberikan dapat diketahui distribusi obat di dalam tubuh pasien.

Dalam kesempatan tersebut, Rohadi memaparkan dua produk utama yang telah dikembangkan BRIN. Produk pertama adalah Samarium-153 EDTMP yang digunakan untuk terapi paliatif kanker dengan metastasis tulang. Pasien kanker dengan metastasis tulang umumnya mengalami nyeri hebat dan membutuhkan analgesik hingga morfin.

“Dengan Samarium ini, bisa satu kali pemberian, bisa satu bulan, bahkan kadang dua bulan, dengan sekali pemberian,” kata Rohadi. Terapi tersebut sangat membantu pasien dalam meningkatkan kualitas hidup. 

Rohadi menyontohkan pengalaman pasien kanker yang setelah mendapatkan terapi masih dapat beraktivitas. “Jadi ini sangat membantu pasien, meningkatkan kualitas hidup pasien,” ujarnya.

Produk kedua yang dipaparkan adalah Iodium-131 MIBG yang digunakan untuk diagnosis dan terapi kanker neuroblastoma. Neuroblastoma merupakan kanker yang banyak terjadi pada anak-anak dan relatif jarang, namun penanganannya sulit. 

“Ini bisa untuk diagnosis dan bisa juga untuk terapi,” katanya. Untuk diagnosis digunakan dosis kecil, sedangkan untuk terapi digunakan dosis yang disesuaikan dengan hasil diagnosis.

Rohadi menyampaikan radiofarmaka I-131 MIBG ini pernah digunakan dan memiliki dokumen perizinan yang lengkap. Ia menilai produk ini memiliki potensi besar karena belum banyak rumah sakit yang mampu menyediakannya. 

“Tidak banyak rumah sakit yang mampu menyediakan ini,” ujarnya. Ia bahkan menyebutkan pasien dari negara lain pernah datang ke Indonesia untuk mendapatkan terapi serupa.

Selain dua produk utama tersebut, Rohadi memaparkan sejumlah produk radiofarmaka lain yang masih dalam tahap pengembangan, di antaranya radiofarmaka Lutetium-177 PSMA untuk terapi kanker prostat. Radiofarmaka I-131 Rituximab sebagai agen radioimunoterapi kanker limfoma, radiofarmaka untuk diagnosis infeksi, radiofarmaka 131 I-Hippuran untuk diagnosis fungsi ginjal, serta 9mTc-HIDA (asam iminodiasetat hepatobilier) digunakan untuk mendiagnosis deteksi fungsi sistem hepatobiliary (aliran) pada masalah hati, kandung empedu, dan saluran empedu.

Ia menegaskan seluruh pengembangan tersebut membuka peluang kolaborasi dengan mitra industri. “Kalau Bapak-Ibu berminat, kami akan memberikan penjelasan lebih detail untuk proses pembuatannya,” kata Rohadi.

Ia berharap kerja sama dengan industri dapat mempercepat pemanfaatan radiofarmaka hasil riset BRIN bagi layanan kesehatan nasional. (tnt)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....