Pemulihan Pascabencana Sumatera harus Menyentuh Aspek Ketenagakerjaan
- 03 Feb 2026 17:12 WIB
- Pusat Pemberitaan
RRI.CO.ID, Jakarta - Bencana tidak hanya merusak infrastruktur fisik, tetapi juga memutus sumber penghidupan dan mengguncang stabilitas ekonomi rumah tangga. Khususnya bagi pekerja informal, petani kecil, buruh harian, perempuan pekerja, dan pelaku usaha mikro.
Dampak ekonomi akibat banjir besar di Sumatera tahun 2025 bersifat mendalam dan berkepanjangan. Juga memengaruhi ketahanan keluarga, pendidikan, kesehatan, hingga mobilitas penduduk.
Kepala Pusat Riset Kependudukan (PRK) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Ali Yansyah Abdurrahim, menegaskan bahwa pemulihan pascabencana yang tidak menyentuh, berisiko menghasilkan pemulihan semu. Berbagai kajian BRIN menunjukkan pendekatan padat karya atau cash for work, jika dirancang berbasis data pra-bencana dan disertai dukungan pendapatan sementara, mampu menjaga konsumsi dasar rumah tangga, memulihkan aset produktif, serta memperkuat ketahanan ekonomi penduduk terdampak.
“Pemulihan pascabencana harus berfokus pada pemulihan mata pencaharian, bukan semata pembangunan fisik,” ujar Ali dalam Weekly Webinar Series Update Sumatera ke-5 bertema “Penguatan Ketenagakerjaan untuk Pemulihan dan Ketahanan Ekonomi Pascabencana”, yang diselenggarakan PRK BRIN di Jakarta, Kamis 29 Januari 2026. Sejalan dengan itu, Profesor Riset PRK BRIN Zantermans Rajagukguk menekankan bahwa kehilangan pekerjaan dapat menjadi “bencana kedua” bagi penduduk terdampak.
Ia menegaskan pentingnya pengembangan kemampuan kerja yang adaptif dan berbasis data agar pemulihan pascabencana dapat berjalan berkelanjutan dan bermartabat. Sementara itu, Peneliti Pusat Riset Koperasi, Korporasi, dan Ekonomi Kerakyatan BRIN, Syahrir Ika menyoroti perlunya menghidupkan kembali usaha rakyat dan ekonomi lokal melalui asesmen yang akurat, penguatan rantai pasok, pendampingan usaha, serta dukungan pembiayaan khusus pascabencana.
“Pendekatan terpadu antara pemerintah, dunia usaha, dan lembaga keuangan dinilai krusial untuk mempercepat kebangkitan ekonomi masyarakat,” ucapnya. Peneliti Pusat Riset Kependudukan BRIN, Beni Teguh Gunawan menambahkan bahwa pemulihan ekonomi pascabencana perlu mengintegrasikan bantuan pendapatan dengan pekerjaan produktif melalui skema padat karya tunai atau model hibrida agar tetap menjaga martabat dan produktivitas warga terdampak.
Sementara itu Ngadi, Peneliti Pusat Riset Kependudukan BRIN, menegaskan bahwa pemulihan mata pencaharian pascabanjir Sumatera harus difokuskan pada rehabilitasi aset produktif, bantuan tunai produktif, diversifikasi mata pencaharian, serta akses pembiayaan lunak. “Dengan pendekatan tersebut, masyarakat terdampak diharapkan dapat kembali berproduksi, memperoleh penghasilan layak, dan memperkuat ketahanan ekonomi komunitas secara berkelanjutan,” katanya. (GS/ed:jml)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....