Kerinduan Pascahaji Wajar, Gangguan Aktivitas Jadi Tanda Waspada

  • 07 Jun 2026 13:00 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • * Kerinduan pascahaji umumnya muncul akibat pengalaman spiritual, sosial, dan emosional yang kuat.
  • * Peneliti menilai rasa rindu setelah haji masih tergolong wajar dalam batas tertentu.
  • * Gangguan terhadap aktivitas sehari-hari menjadi indikator penting yang perlu dicermati

RRI.CO.ID, Jakarta - Kerinduan mendalam setelah menunaikan ibadah haji umumnya muncul akibat pengalaman spiritual yang sangat kuat. Kenangan terhadap suasana ibadah, interaksi sosial, dan pengalaman emosional memunculkan rasa rindu, setelah kepulangan.

Peneliti psikologi sosial, Wawan Kurniawan mengatakan tantangan utama terletak pada batas kondisi normal dan tidak wajar. Rasa rindu dinilai wajar selama tidak mengganggu aktivitas sehari-hari maupun fungsi sosial jemaah.

“Pada dasarnya jemaah haji mengalami peristiwa baru dan pengalaman spiritual yang sangat kuat. Pengalaman itu bisa menimbulkan kerinduan setelah pulang, itu sesuatu yang sah dan wajar,” kata Wawan dalam perbincangan bersama Pro3 RRI, Minggu, 7 Juni 2026.

Menurut Wawan, mengenang pengalaman selama menjalankan ibadah haji merupakan kondisi yang masih normal. Batas perhatian muncul ketika kerinduan mulai memengaruhi rutinitas dan aktivitas harian seseorang.

“Mengenang pengalaman haji sewajarnya tentu tidak menjadi masalah. Namun ketika kerinduan tersebut mulai mengganggu aktivitas sehari-hari, itu bisa menjadi tanda yang perlu diperhatikan,” katanya.

Ia menjelaskan pengalaman spiritual mendalam tidak hanya dialami kelompok jemaah lanjut usia. Jemaah berusia lebih muda juga berpotensi merasakan kerinduan kuat setelah menjalani penghayatan mendalam.

Sebagian besar jemaah, menurut dia, mampu beradaptasi dengan baik setelah kepulangan mereka. Kenangan spiritual yang masih terasa kuat umumnya dikelola melalui peningkatan kesadaran diri.

Ia menilai kesadaran terhadap perubahan kondisi diri membantu proses penyesuaian pascakepulangan berlangsung baik. Kemampuan mengelola pengalaman spiritual juga mendukung aktivitas harian tetap berjalan normal.

“Poin kuncinya adalah ketika aktivitas sehari-hari terganggu. Itu bisa menjadi warning atau alarm bahwa ada sesuatu yang berbeda dan perlu dicermati lebih lanjut,” ujarnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....