Mengenal Muzdalifah, Tempat Jemaah Haji Bermalam setelah Wukuf di Arafah

  • 27 Mei 2026 16:10 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Muzdalifah menjadi salah satu lokasi penting dalam rangkaian ibadah haji setelah wukuf di Arafah.
  • Jemaah haji bermalam di Muzdalifah sambil berzikir dan mengumpulkan batu kerikil untuk lempar jumrah.
  • Pemerintah Arab Saudi terus meningkatkan fasilitas dan sistem keamanan di kawasan Muzdalifah.

RRI.CO.ID, Jakarta - Muzdalifah menjadi salah satu kawasan suci penting dalam rangkaian ibadah haji yang setiap tahunnya dipenuhi jutaan jemaah dari seluruh dunia. Kawasan yang terletak di antara Arafah dan Mina itu menjadi tempat bermalam setelah wukuf di Arafah malam 10 Dzulhijjah.

Di Muzdalifah, para jemaah melaksanakan salat Magrib dan Isya secara jamak dan qasar dalam suasana penuh kekhusyukan. Tradisi tersebut mengikuti sunah Nabi Muhammad SAW yang juga bermalam di kawasan tersebut sebelum melanjutkan rangkaian ibadah haji ke Mina.

Nama Muzdalifah diyakini berasal dari kata izdalaf yang berarti ‘mendekat’, merujuk posisinya yang semakin dekat dengan Masjidil Haram. Selain itu, ada pula pendapat yang menyebut nama tersebut berkaitan dengan waktu kedatangan jemaah pada awal malam.

Muzdalifah memiliki luas lebih dari 11,68 juta meter persegi dan mampu menampung lebih dari dua juta jemaah. Berbeda dengan kawasan lain, Muzdalifah merupakan area terbuka tanpa bangunan permanen sehingga tetap mempertahankan karakter religiusnya.

Kawasan ini juga memiliki nilai spiritual mendalam bagi umat Islam. Dalam Al-Qur’an disebutkan anjuran untuk berzikir kepada Allah di Al-Masy’ar Al-Haram, yang berada di pusat kawasan Muzdalifah.

Selain menjadi tempat berdoa, Muzdalifah juga menjadi lokasi jemaah mengumpulkan batu kerikil yang nantinya digunakan untuk lempar jumrah di Mina. Aktivitas tersebut menjadi bagian penting dalam rangkaian ibadah haji.

Seiring meningkatnya jumlah jemaah setiap tahun, pemerintah Arab Saudi terus melakukan pengembangan fasilitas di Muzdalifah. Salah satunya melalui proyek Jalur Mashaer yang dibangun di area seluas 170 ribu meter persegi.

Proyek tersebut dilengkapi lantai karet ramah lingkungan untuk mengurangi panas dan kelelahan fisik jemaah. Selain itu tersedia pula jalur kendaraan, area duduk, stasiun air minum, pengisian daya ponsel, kipas kabut, hingga papan petunjuk arah.

Kementerian Urusan Islam Arab Saudi juga melakukan peningkatan fasilitas di Masjid Al-Masy’ar Al-Haram. Area salat perempuan diperluas hingga 100 persen, disertai peningkatan sistem pencahayaan, audio, pendingin udara, dan kamera pengawas.

Untuk memastikan keamanan jemaah, otoritas Arab Saudi memanfaatkan sistem digital dan kamera pintar guna memantau pergerakan jemaah dari Arafah menuju Muzdalifah. Langkah tersebut dilakukan agar pelaksanaan ibadah haji berjalan aman, tertib, dan nyaman bagi jutaan jemaah.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....