Kemenhaj Matangkan Skema Armuzna Demi Kelancaran Puncak Haji

  • 21 Mei 2026 12:00 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Kemenhaj matangkan skema Armuzna untuk mitigasi kepadatan jemaah
  • Pergerakan jemaah menuju Arafah dimulai 25 Mei 2026
  • Jemaah diminta disiplin jadwal dan menjaga kondisi fisik

RRI.CO.ID, Jakarta – Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) mematangkan skema Armuzna untuk memastikan pelayanan dan mobilitas jemaah berjalan tertib. Fase puncak haji meliputi Arafah, Muzdalifah, dan Mina dengan pengaturan berbasis mitigasi kepadatan.

Juru Bicara Kemenhaj, Maria Assegaff, menuturkan Armuzna menjadi fase paling krusial selama pelaksanaan ibadah haji. Menurutnya, disiplin jadwal dan kepatuhan terhadap arahan petugas sangat menentukan kelancaran pergerakan jemaah.

Kemenhaj juga membentuk Satuan Operasional Armuzna guna memastikan pergerakan jemaah berlangsung bertahap dan terukur. “Pengaturan mobilitas, disiplin jadwal, kepatuhan terhadap arahan petugas, dan kesiapan fisik jemaah menjadi sangat penting,” kata Maria dalam keterangan tertulisnya yang diterima, Kamis, 21 Mei 2026.

Hingga hari ke-29 operasional haji 1447 Hijriah, sebanyak 481 kloter dengan 186.041 jemaah telah diberangkatkan menuju Arab Saudi. Sebanyak 472 kloter dengan 182.332 jemaah tercatat telah tiba di Makkah bersama 1.888 petugas pendamping.

Pergerakan jemaah dari Makkah menuju Arafah dimulai sejak, Senin, 25 Mei 2026 dalam tiga gelombang keberangkatan berbeda. Seluruh jemaah ditargetkan sudah diberangkatkan menuju Arafah sebelum pukul 24.00 Waktu Arab Saudi.

Maria mengimbau jemaah tidak menunggu di lobi hotel sebelum jadwal keberangkatan resmi diberlakukan petugas. Jemaah juga diminta menjaga kondisi tubuh, membawa identitas, serta tetap bersama rombongan masing-masing.

Pelaksanaan wukuf di Arafah berlangsung, Selasa, 26 Mei 2026 pukul 10.00-13.00 Waktu Arab Saudi. Setelah magrib, jemaah diberangkatkan menuju Muzdalifah sebelum melanjutkan perjalanan menuju Mina sesuai skema masing-masing.

“Jangan memaksakan diri apabila kondisi kesehatan tidak memungkinkan,” ujarnya. Syariat juga memberikan keringanan melalui mekanisme badal lontar bagi jemaah yang memiliki uzur.

Maria menambahkan, keberhasilan Armuzna tidak hanya bergantung pada kesiapan petugas selama operasional puncak haji berlangsung. Kedisiplinan jemaah menjaga jadwal, kekompakan, serta penghematan tenaga menjadi faktor penting keberhasilan ibadah haji. (MCH)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....