Perjuangan Penjual Daun Pisang Asal Wonosobo hingga Berangkat Haji

  • 19 Mei 2026 08:00 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Painah, 65 tahun, penjual daun pisang asal Wonosobo, menunaikan haji setelah menabung selama 40 tahun
  • Perjalanan haji Painah dimulai dari aktivitas sehari-hari memetik dan menjual daun pisang
  • Putranya, Sabar Munasir, mendampingi karena Painah tidak lolos istithaah

RRI.CO.ID, Jeddah - Painah, 65 tahun, jemaah asal kloter YIA 22 menjadi pusat perhatian saat tiba di Bandara Internasional King Abdulaziz, Jeddah, Selasa, 19 Mei 2026 pukul 12.00 WAS. Penjual daun pisang dari Dusun Ngegok, Wonosobo Barat itu akhirnya menapakkan kaki di Tanah Suci setelah menabung selama puluhan tahun demi menjalankan ibadah haji tahun ini.

Painah terbang bersama 360 orang, terdiri atas 354 jemaah dan enam petugas, dengan pesawat Garuda Indonesia GA-6522 yang lepas landas dari Yogyakarta International Airport pukul 05.40 WIB. Ia tergabung dalam rombongan 6, ditempatkan di Sektor 8 Makkah, tepatnya di Number One Hotel 1.

Perjalanan haji bagi Painah dimulai jauh sebelum penerbangan. Sejak pukul 01.30 dini hari, ia sudah berjalan kaki menuju pasar sambil menggendong tumpukan daun pisang untuk dijual ke Pasar Pagi Wonosobo.

Aktivitas ini ia lakukan selama puluhan tahun sebagai sumber penghidupan sekaligus jalan menabung biaya haji. “Saya itu buruh," ujar Painah kepada tim Media Center Haji (MCH) 2026 di Bandara Jeddah, Selasa, 19 Mei 2026.

"Buruh memetik daun, setiap hari tidak pernah telat. Itu sudah lebih dari 40 tahun,” katanya.

Daun pisang yang dipetik dilipat, ditimbang per kilogram, dan dimasukkan ke dalam karung sebelum dijual di pasar. Hasil dari berjualan daun pisang menjadi satu-satunya sumber pendapatan yang ia andalkan.

“Kalau sekarang memetik, lalu dilipat, ditimbang satu kilo satu kilo, lalu dimasukkan ke karung terus dijual ke pasar. Dari itu jualan daun, tidak lain-lain,” ucapnya.

Harga daun pisang berkisar Rp 2 ribu hingga Rp 5 ribu per kilogram. Penghasilan Painah pun tidak menentu, kadang hanya Rp 15 ribu per hari, namun pada hari tertentu bisa mencapai Rp 200 ribu.

Sebagian uang hasil jualan disisihkan untuk tabungan haji. Ia mulai mendaftar haji sejak 2012 dan menabung sedikit demi sedikit dari hasil berdagang.

“Uangnya dikumpulkan di rumah. Kalau jualan kadang dapat Rp 200 ribu, kadang Rp 100 ribu, kadang Rp 50 ribu, kadang Rp 15 ribu. Saya jualan berangkat jam setengah dua dini hari sampai menjelang Subuh,” katanya.

Selama 14 tahun menunggu antrean keberangkatan, Painah sempat khawatir tidak sempat berangkat karena faktor usia. “Remen sanget (senang sekali) bisa sampai tanah suci menjalankan ibadah haji,” ungkapnya penuh syukur.

Painah pergi haji ditemani putranya, Sabar Munasir, 33 tahun, yang menggantikan ayahnya karena dinyatakan tidak istithaah. “Saya menggantikan Bapak. Bapak tidak lolos istithaah,” ujar Sabar.

Ia menambahkan bahwa ibunya menabung selama bertahun-tahun menggunakan uang receh untuk biaya haji. “Daftar haji pakai uang receh," katanya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....