Ketahanan Pangan Lewat Kuliner Tradisional, Pasar Kangen 2025
- 19 Sep 2025 14:55 WIB
- Yogyakarta
KBRN, Yogyakarta: Pasar Kangen 2025 resmi digelar di Taman Budaya Yogyakarta (TBY) mulai 18 hingga 24 September 2025, dengan melibatkan 218 pedagang terpilih dari total 1.136 pendaftar. Ketua TBY, Dra. Purwiati, dalam pidato pembukaan pada Kamis (18/9/2025), menyebutkan peserta terdiri dari 152 stan kuliner tradisional serta 66 stan kerajinan dan barang antik.
Mengusung tema “Nandur opo sing dipangan, mangan opo sing ditandur”, Pasar Kangen 2025 seakan mengingatkan kembali hubungan manusia dengan alam. Tema ini menegaskan peran manusia yang tidak hanya sebatas konsumen, tetapi juga bertanggung jawab untuk menjaga, memulihkan, dan memelihara setiap bahan alam yang telah dinikmati.
Selain sebagai media bernostalgia, Pasar Kangen 2025 diharapkan mampu menjadi ruang edukasi, pemberdayaan, dan penguatan filosofi hidup warisan leluhur. Berbagai aktivitas harian seperti pentas seni kerakyatan dan aktivitas lokakarya turut memeriahkan gelaran Pasar kangen 2025.
Filosofi itu juga tercermin dari jajanan lawas yang disajikan para pedagang. Eva Utami, penjual Tiwul Ayu, mengatakan bahwa ia melibatkan petani lokal dalam memenuhi kebutuhan bahan baku singkong.
“Tiwul itu bahan dasarnya dari singkong. Jadi proses pembuatannya itu nanti singkongnya digiling dulu, terus dijemur, dikukus, terus dicetak gini. Nah, singkongnya biasanya dari setoran petani,” kata Eva menjelaskan
Senada dengan Eva, Uci Handayani, penjual Jenang Jagung Mbah Bayan, juga mendapatkan bahan baku dari petani lokal. Jagung yang telah digiling akan diolah dengan campuran kelapa parut menjadi hidangan bubur bercita rasa manis gurih. Resep ini diturunkan dari kakek dan neneknya yang telah berjualan di pasar tradisional dari tahun 1970-an. “Karena (temanya) ketahanan pangan ya kan, yang bisa kita tanam ada jagung, ada umbi-umbian itu bisa dijadikan alternatif pengganti nasi,” ujar Uci saat diwawancarai mengenai pemilihan jenang jagung sebagai menu jualan.
Penggunaan tema juga dinilai berkesinambungan dengan filosofi toto, titi, tanam, tuwuh oleh Dian Lakshmi Pratiwi, S.S., M.A., Kepala Dinas Kebudayaan Yogyakarta. Dalam sambutannya, ia menyampaikan bahwa prinsip tertib, teliti dan hati-hati dalam membangun usaha atau dalam aspek kehidupan lainnya akan menghasilkan sesuatu yang tumbuh dan berkembang. Melalui Pasar Kangen 2025, ia berharap akan memberi dampak pada kemandirian pangan lokal.
“Melalui Pasar Kangen 2025, saya berharap masyarakat semakin mengenal, mengapresiasi dan memanfaatkan hasil bumi, baik yang ditanam sendiri maupun yang dihasilkan oleh petani lokal. Dengan cara itu, kita akan memperkuat ketahanan dan kedaulatan pangan lokal, serta menjaga kesinambungan antara budaya agraris dan kehidupan modern,” katanya. (A.Ninja.N.Chikam)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....