'Labbayk: Here I Am' Suara Identitas Muslim Belanda dalam Perjalanan Haji-Umrah
- 20 Mei 2026 17:59 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Pameran fotografi “Labbayk: Here I Am” yang digelar oleh Pusat Kebudayaan Belanda di Jakarta menghadirkan kisah perjalanan spiritual Muslim Belanda.
- Pameran ini menjadi ruang visual yang merekam pengalaman religius sekaligus dinamika identitas komunitas Muslim diaspora di Eropa.
- Penyajian kisah-kisah spiritual melalui fotografi diharapkan dapat memperluas pemahaman masyarakat terhadap nilai-nilai budaya Islam sekaligus mendorong tumbuhnya penghargaan terhadap keberagaman dalam tatanan sosial global.
Melanjutkan narasi tentang pengalaman spiritual Muslim Belanda dalam pameran “Labbayk: Here I Am”. Fotografer Muslimah Ebru Aydin menjelaskan bahwa karya-karya dalam pameran tersebut juga menggunakan pendekatan kamera analog.
Metode ini dipilih untuk menghadirkan nuansa visual yang lebih personal, intim, dan bermakna. Terutama dalam merekam perjalanan ibadah haji para jamaah.
Ia mengatakan penggunaan kamera analog menjadi bagian dari upaya artistik untuk menangkap momen spiritual di Tanah Suci secara lebih mendalam. Setiap karya, lanjutnya, tidak hanya diambil secara spontan, tetapi juga melalui proses kurasi yang ketat.
"Jadi ide saya adalah karena ini seperti hadiah dari Makkah. Saya ingin menampilkan foto-foto ini dengan cara yang lebih menarik," ujarnya kepada wartawan usai pameran fotografi 'Labbayk: Here I am', Pusat Kebudayaan Belanda, Jakarta Selatan, Selasa, 19 Mei 2026.
Menurutnya, pendekatan visual tersebut sejalan dengan pesan utama pameran yang sebelumnya menyoroti pengalaman emosional dan. Dengan teknik analog, hasil gambar dinilai lebih memiliki karakter, ketidaksempurnaan alami, dan kesan waktu yang memperkuat makna perjalanan spiritual.
Ia menambahkan, kepercayaan dari para subjek menjadi faktor penting dalam proses pengambilan gambar. Kedekatan identitas sebagai sesama Muslim membuat para jamaah merasa lebih nyaman dan terbuka untuk didokumentasikan dalam momen-momen ibadah mereka.
Dalam proses produksi pameran, ia menjelaskan bahwa pemilihan subjek dilakukan melalui berbagai cara, termasuk panggilan terbuka di media sosial. Dari proses tersebut, banyak Muslim yang menunjukkan minat untuk terlibat, sehingga proyek ini berkembang menjadi dokumentasi yang luas.
Ia menegaskan bahwa keberagaman subjek menjadi prinsip penting dalam pameran ini. Hal tersebut bertujuan untuk menggambarkan identitas Muslim yang tidak tunggal, melainkan beragam dari sisi latar belakang budaya.

Kamera (analog) Haji dalam pameran fotografi 'Labbayk: Here I am', Pusat Kebudayaan Belanda, Jakarta Selatan, Selasa 19 Mei 2026 (Foto: RRI/Annisa Ramadhannia)
"Keberagaman subjek menjadi hal penting dalam proyek ini agar dapat merepresentasikan identitas Muslim yang lebih luas. Jadi bukan hanya kelompok tertentu," ucapnya.
Lebih lanjut, ia menyampaikan bahwa keterlibatannya dalam berbagai kegiatan sosial turut membantu membangun kepercayaan komunitas Muslim terhadap karyanya. Hal itu membuat proses dokumentasi berjalan lebih inklusif dan memungkinkan terciptanya ruang cerita yang lebih jujur.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....