Peran Pedagang Perantara dan Distribusi Picu Tekanan Harga Pangan jelang Lebaran

  • 11 Mar 2026 01:11 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

PEMERINTAH menyoroti peran pedagang perantara atau middleman dalam kenaikan harga pangan menjelang Lebaran. Lonjakan permintaan musiman memperkuat tekanan harga sejumlah komoditas utama.

Komoditas yang menjadi perhatian antara lain daging ayam ras, telur ayam ras, cabai rawit, dan bawang merah. Komoditas tersebut memiliki bobot konsumsi tinggi dalam pengeluaran rumah tangga.

Isu ini kembali mencuat dalam rapat koordinasi pengendalian inflasi daerah menjelang Ramadan dan Idulfitri, Senin 11 Maret 2026. Pemerintah pusat dan daerah membahas dinamika harga pangan nasional.

Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman mengungkap kenaikan harga ayam tidak terjadi di tingkat peternak. Harga meningkat setelah komoditas masuk ke pedagang perantara.

Menurut Amran, pedagang perantara mengambil margin besar dalam rantai distribusi. Hal itu menyebabkan harga ayam meningkat di tingkat konsumen.

“Yang menaikkan ternyata middleman. Daging dia naikkan Rp23.000 per kilogram,” kata Amran di Gudang Perum Bulog Kanwil DKI Jakarta dan Banten, Rabu 4 Maret 2026.

“Ayam dia naikkan Rp8.000 per kilogram,” ucapnya. Amran menjelaskan harga dari distributor besar masih sesuai ketentuan pemerintah.

Namun margin pedagang perantara membuat harga meningkat di pasar.

Tindakan Tegas Praktik Penjualan Melanggar HET

Pemerintah tidak akan mentolerir praktik penjualan yang melanggar harga eceran tertinggi. Amran menegaskan pelaku usaha dapat ditindak tegas.

“Kami minta segel tutup. Aku yang tanggung jawab,” ucapnya. “Ada HET, tidak boleh dilanggar,” kata Amran.

Temuan tersebut diperkuat data Badan Pusat Statistik (BPS) terkait dinamika harga pangan. Sejumlah komoditas mulai mengalami kenaikan menjelang Ramadan.

Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti menyebut inflasi tahunan Februari 2026 sebesar 4,76 persen. Namun angka tersebut dipengaruhi normalisasi tarif listrik dan harga emas global.

Jika pengaruh listrik dikeluarkan, inflasi sekitar 2,54 persen. Tanpa kenaikan harga emas, inflasi diperkirakan sekitar 1,5 persen.

“Jika listrik dan emas tidak dihitung, inflasi sebenarnya hanya sekitar 1,5 persen,” kata Amalia dalam Rakor Pengendalian Inflasi Daerah di Jakarta, Senin 9 Maret 2026.

Komoditas Pangan jadi Perhatian Utama Pemerintah

Meski demikian komoditas pangan tetap menjadi perhatian utama pemerintah. Kenaikan harga pangan berpotensi mendorong inflasi.

BPS mencatat harga telur ayam ras mencapai rata-rata Rp32.475 per kilogram. Kenaikan terjadi di sekitar 210 kabupaten dan kota.

Di beberapa daerah harga telur bahkan melampaui harga acuan pemerintah. Kenaikan tersebut menjadi perhatian menjelang Lebaran.

Harga cabai rawit nasional tercatat sekitar Rp71.429 per kilogram. Di sejumlah daerah harga cabai rawit mencapai Rp120.000 per kilogram.

Harga rata-rata nasional daging ayam ras sekitar Rp41.181 per kilogram. Kenaikan harga terjadi di lebih dari 150 kabupaten dan kota.

BPS mencatat komoditas pangan memiliki bobot besar dalam konsumsi rumah tangga. Kenaikan harga komoditas tersebut berdampak signifikan terhadap inflasi.

Komoditas dengan bobot konsumsi terbesar antara lain beras, ayam ras, telur ayam ras, dan bawang merah. Daging sapi juga termasuk komoditas dengan konsumsi tinggi.

“Jika harganya naik, dampaknya terhadap inflasi akan besar,” ucap Kepala BPS.

Kepala Daerah harus Aktif Pantau Harga Pangan

Selain faktor middleman, distribusi antar daerah juga menjadi sorotan pemerintah. Rantai distribusi panjang memicu kenaikan harga pangan.

Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian menyebut kenaikan harga ayam tidak terjadi di tingkat peternak. Harga meningkat setelah komoditas masuk ke pedagang perantara.

“Di tingkat peternak tidak terjadi kenaikan,” kata Tito. “Tapi ketika masuk middleman, mereka menaikkan harga,” ujarnya.

Tito juga menyoroti distribusi cabai di Aceh yang dinilai tidak efisien. Produksi cabai dari dataran tinggi Gayo memiliki rantai distribusi panjang.

Cabai dari Gayo dikirim lebih dulu ke Medan sebelum kembali ke wilayah Aceh. Rantai distribusi panjang membuat harga cabai meningkat.

Akibatnya harga cabai di wilayah dataran rendah menjadi tinggi. Kondisi tersebut menunjukkan persoalan distribusi pangan daerah.

Menghadapi Lebaran, pemerintah meminta kepala daerah aktif memantau harga pangan. Pengawasan pasar perlu diperkuat.

Kepala daerah diminta tetap berada di wilayah masing-masing selama Lebaran. Hal itu untuk memastikan stabilitas harga dan distribusi pangan.

Pemerintah daerah juga diminta memantau transportasi dan distribusi barang. Infrastruktur mudik harus dipastikan siap.

Koordinasi dengan aparat keamanan dan pelaku usaha juga diperlukan. Hal tersebut untuk mencegah gangguan pasokan.

Lonjakan permintaan pangan menjelang Lebaran merupakan pola musiman setiap tahun. Kondisi ini kerap memicu kenaikan harga komoditas.

Pemerintah menilai stabilitas harga tidak hanya bergantung pada produksi. Efisiensi distribusi dan pengawasan rantai perdagangan juga penting.

Pengendalian inflasi pangan membutuhkan koordinasi pemerintah pusat dan daerah. Langkah tersebut penting menjaga keterjangkauan harga bagi masyarakat.

"Tapi tanggung jawab melayani rakyat (kepala daerah), saya yakin juga itulah ibadah yang kalau berjalanan lancar, aman, rakyatnya senang. Itu ibadahnya, Insyaallah pahalanya juga berlipat ganda," katanya.

Rekomendasi Berita