Perlawanan Iran Menolak Hegemoni AS

  • 08 Mar 2026 01:54 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

SEPEKAN ini, mata dunia mengarah ke Timur Tengah yang sedang membara karena perang Amerika Serikat (AS)-Israel versus Iran. Iran kembali harus menghadapi agresi AS dan Israel seorang diri.

Iran bahkan ‘terpaksa’ menggempur Qatar, Bahrain, Kuwait, Uni Emirat Arab dan Arab Saudi. Namun gempurannya terarah hanya ke basis militer AS yang ada di negara-negara Arab itu.

Sementara serangan AS-Israel menyasar ke fasilitas-fasilitas publik di Iran. Utamanya ke sekolah-sekolah yang menyebabkan korban jiwa di kalangan anak-anak.

Puncaknya adalah serangan AS-Israel ke kediaman pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Khamenei. Sehingga Khamenei dan keluarganya gugur syahid.

Presiden Donald Trump yang menjadi arsitek serangan ke Iran, sesumbar rakyat Iran akan menyerah setelah Khamenei tumbang. Tapi perkiraannya meleset, Iran malah semakin berani dan masif membalas serangan AS-Israel.

Tanpa rasa takut, rakyat Iran justru memadati jalan-jalan mengecam tindakan AS yang membunuh pemimpin tertinggi mereka. Sementara warga Israel yang ketakutan, memilih bersembunyi di dalam bunker menghindari rudal-rudal Iran.

Perang yang menurut AS hanya akan makan waktu beberapa hari, nampaknya akan panjang. Iran tetap tangguh melakukan perlawanan dan dengan tegas menolak negosiasi dan mediasi.

Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Ali Larijani seperti dikutip dari Al Jazeera mengatakan, “Kami tidak akan bernegosiasi dengan AS.” Larijani bahkan menyebut Presiden Trump sudah mengorbankan tentara AS untuk memenuhi nafsu Israel untuk menguasai Iran.

Belakangan, Presiden Trump mulai membuat narasi seolah-olah Iran sudah kalah dan ingin kembali ke meja perundingan. Narasi yang justru menunjukkan Trump mulai putus asa menghadapi ketangguhan Iran dan Israel mulai kewalahan menghadapi serangan-serangan balasan Iran.

Di sisi lain, Iran banyak mendapat dukungan dari masyarakat internasional. Sedangkan AS justru ditinggalkan sekutu NATO nya. Spanyol misalnya, melarang AS menggunakan pangkalan militernya, dan Prancis menyebut AS sudah melanggar hukum internasional.

Perang Iran adalah perang untuk membalas serangan AS dan Israel, perang untuk membela diri. Karena Iran sudah menunjukkan niat baik untuk berunding dengan AS, tapi AS justru berkhianat, menyerang saat perundingan masih berjalan.

Salah satu sudut kota Teheran, Iran (Foto:Magdalena Krisnawati)

Nuklir Iran dan Tuduhan Palsu AS

Serangan AS-Israel ke Iran dipicu oleh persoalan lama seputar program nuklir Iran. Sejak lama, AS menginginkan program nuklir Iran dihentikan dengan tudingan Iran membuat senjata nuklir.

Sikap AS berbeda ketika menyoal nuklir Israel. AS tidak pernah sekali pun mempersoalkan dan mengusik Israel yang justru sudah membuat senjata nuklir.

Iran menolak tuduhan AS, apalagi program nuklir Iran di bawah pengawasan Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA). Sementara Israel menolak diawasi oleh IAEA.

Tahun 2015 Iran menyetujui kesepakatan dengan AS, Inggris, Prancis, Tiongkok, Rusia plus Jerman untuk membatasi pengayaan uraniumnya. Sebagai imbalannya, AS dan Eropa melonggarkan sanksi yang selama puluhan tahun dikenakan ke Iran.

Kesepakatan itu dikenal dengan kesepakatan program nuklir untuk keperluan damai. Iran dan negara P5+1 tersebut bergabung dalam Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA).

Tetapi secara sepihak AS menarik diri dari kesepakatan tersebut, dan kembali mengenakan sanksi terhadap Iran. Sejak itu hubungan AS dengan Iran kembali meruncing, hingga AS melakukan aksi militer ke Iran pada Juni 2025.

AS menargetkan serangannya ke fasilitas-fasilitas nuklir Iran. Perang terbuka tak terhindarkan, hingga AS sendiri terdesak dan mengajak gencatan senjata.

Presiden Trump akhirnya mengirimkan surat ke Khamenei dan mengajak Iran kembali ke meja perundingan. Perundingan pun berjalan dari pertengahan tahun hingga akhir tahun 2025, namun belum mencapai kata sepakat.

Perundingan berlanjut pada Februari 2026 di Jenewa dengan mediasi negara Oman. Perundingan berjalan alot, AS menuntut Iran menutup tiga fasilitas nuklir utamanya di Natanz, Isfahan dan Fordow dan menyerahkan stok uraniumnya.

Iran tentu saja menolak permintaan yang merugikan itu. “Hak Iran untuk melakukan pengayaan uranium dan mengembangkan nuklirnya untuk keperluan damai,” kata Ali Larijani tegas ketika itu.

Tapi AS mengambil tindakan sendiri, sebelum perundingan benar-benar dinyatakan selesai. Hari Minggu, 28 Februari 2026, AS melancarkan serangan sepihak ke wilayah Iran.

Dari isu nuklir persoalan melebar, Presiden Trump menyatakan sasaran utamanya adalah menumbangkan kepemipimpinan Ayatollah Ali Khamenei. Niat AS yang sebenarnya pun terkuak, AS ingin menumbangkan kepemimpinan negara yang menolak tunduk pada kemauan AS.

Propaganda Barat sering menyudutkan kaum perempuan Iran yang terbelenggu. Padahal perempuan Iran leluasa berkiprah di banyak profesi (Foto:Magdalena Krisnawati)

AS Ikut Campur Pilih Pemimpin Baru Iran

Watak AS menumbangkan pemimpin sebuah negara yang tidak mau tunduk dengan kemauannya, bukanlah cerita baru. Itulah cara AS untuk menancapkan hegemoninya ingin menguasai dan mengatur dunia.

Saat ini, Iran menjadi satu-satunya negara Islam yang selalu gagal ditaklukkan AS. Program nuklir hanya menjadi dalih AS untuk mengganti kepemimpinan di Iran dengan sosok yang mudah dikendalikan AS.

Iran sendiri belum menentukan siapa yang akan menggantikan Ayatollah Khamenei setelah ia gugur syahid. Tiba-tiba Trump dalam mengatakan bahwa dirinya harus telibat dalam pemilihan pemimpin baru di Iran.

“Saya harus terlibat dalam penunjukan itu. Saya menginginkan sesorang yang akan membawa perdamaian di Iran,” ujar Trump berdalih.

Trump menyatakan menolak Mojtaba Khamenei-putra Ali Khamenei- yang gencar disebut-sebut akan menggantikan kepemimpinan ayahnya. Trump mendesaka Iran untuk menyerah dan mengancam akan melakukan serangan darat ke Iran.

Tapi ancaman itu itu direspons dengan senyum oleh Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi. Dalam wawancara dengan NBC News, Araghchi bahkan menyatakan menunggu serangan darat AS.

“Iran tidak takut?” tanya pewawancara. “ Tidak. Kami menunggu mereka,” jawab Araghchi.

Menlu Iran itu menegaskan, Iran yakin dapat menghadapi tentara AS di darat. “Itu akan bencana besar bagi mereka (AS),” ujarnya tegas.

Dunia masih menunggu akhir dari perang AS-Israel versus Iran. Dari perang ini, Iran kembali menunjukkan dirinya sebagai bangsa yang berani dan bermartabat.

Ketika negara-negara muslim lainnya memilih bersekutu dan menormalisasi hubungan dengan entitas zionis Israel. Iran tetap menunjukkan komitmennya membantu perjuangan rakyat Palestina untuk meraih kemerdakaannya.

Perang ini juga menunjukkan, ketangguhan Iran yang meski puluhan tahun disanksi Barat, Iran mampu mengembangkan teknologi militernya. Iran bahkan disebut-sebut sudah memiliki rudal lintas benua.

Bagi Iran, perlawanan adalah pilihan untuk membalas serangan. Pemimpin Besar Iran, Ayatolla Ali Khamenei sebelum gugur meninggalkan pesan yang tegas.

“Bunuh Aku, perang tidak akan berakhir. Pertarungan ini bukan milik saya. Ini milik pemuda Iran. Anda tidak melawan seorang pria, tapi sebuah bangsa yang mempertahankan martabatnya.”

Rekomendasi Berita