Fenomena Blood Moon 2025, Saat Sains Berpadu Budaya

  • 09 Sep 2025 07:38 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

LANGIT malam Indonesia kembali menjadi panggung utama bagi fenomena astronomi langka, blood moon pada 7-8 September 2025. Gerhana Bulan Total (GBT) memperlihatkan purnama berubah merah darah selama 82 menit, menjadikannya gerhana terlama dalam dekade terakhir.

Bulan berwarna merah darah ini tidak sekadar tontonan indah. Tersimpan pelajaran tentang mekanika langit, keteraturan orbit, hingga bukti ilmiah bentuk bumi di balik rona merahnya. 

Prof Thomas Djamaluddin dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menegaskan, setiap gerhana membawa pesan edukatif yang jarang disadari masyarakat. Indonesia beruntung karena bisa menyaksikan seluruh fase gerhana dari awal hingga akhir tanpa alat khusus. 

Kondisi ini menempatkan Nusantara dalam posisi istimewa. Baik sebagai lokasi pengamatan maupun sebagai ruang interaksi antara pengetahuan ilmiah dan kekayaan budaya langit.

Sejarah mencatat, masyarakat Nusantara memaknai gerhana dengan beragam cara, dari ritual hingga doa bersama. Kini, fenomena yang sama hadir dengan wajah baru.

Sains dan teknologi membantu generasi muda memahami hukum alam, sekaligus merawat tradisi menatap langit. Fenomena ini seolah menjadi jembatan antara masa lalu dan masa kini, antara ritual leluhur dan riset modern.

Mampukah masyarakat Indonesia menjadikan blood moon 2025 sebagai momentum menghidupkan kembali budaya langit Nusantara? Mampukah pula masyarakat Indonesia menjadikan blood moon 2025 sebagai sarana memperkuat literasi sains


Selanjutnya, Antusiasme Masyarakat Menonton dan Mempelajari dari Ahlinya 

Ribuan warga memadati Taman Ismail Marzuki (TIM) pada Minggu malam (7/9/2025). Mereka hadir untuk menyaksikan fenomena gerhana bulan total atau blood moon yang berlangsung pukul 19.00 hingga 21.00 WIB.

Acara bertajuk Piknik Malam Bersama Gerhana Bulan Total itu berlangsung meriah dengan animo pengunjung tinggi. Ribuan tiket daring terjual habis sehingga panitia menyediakan fasilitas tambahan untuk kenyamanan.

“Antusias pengunjung sangat tinggi, dari 2 ribu tiket daring yang dibuka sudah penuh. Karena itu kami tambahkan fasilitas termasuk delapan teleskop agar bisa dipakai bergantian,” kata Penanggung Jawab Acara Eko Wibowo di Taman Ismail Marzuki.

Baca juga: Ribuan Warga Padati TIM Saksikan 'Blood Moon'

Ia menambahkan, gerhana bulan sesungguhnya dapat disaksikan dengan mata telanjang tanpa menggunakan alat bantu. Namun, penggunaan teleskop memungkinkan pengunjung melihat fase umbra gerhana secara lebih jelas.

“Kami telah menyediakan alat teleskop dan bagi pengunjung Muslim juga disiapkan salat sunah gerhana di masjid setempat. Salat dilaksanakan saat memasuki fase awal gerhana, sekitar pukul 22.30 WIB,” ujarnya.

Acara tersebut turut didampingi oleh Himpunan Astronomi Amatir Jakarta yang ikut memandu masyarakat. Para peneliti dari BRIN juga hadir memberi penjelasan tentang fenomena astronomi.

Masyarakat yang hadir diajak memahami lebih dalam makna gerhana bulan total yang sering disebut bulan merah darah. Pendampingan ini dimaksudkan agar peristiwa astronomi dapat dinikmati sekaligus menjadi bahan edukasi.


Selanjutnya, Umat Muslim Indonesia Sambut dengan Seruan Salat

Masyarakat Indonesia yang muslim biasanya menyambut fenomena astronomi ini dengan Salat Gerhana (Salat Khusuf). Salat sunah ini dilakukan saat mulai, hingga gerhana berakhir. 

Ketua Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh Tgk H Faisal Ali, mengimbau seluruh umat Islam melaksanakan salat khusuf berjemaah. Pelaksanaan salat gerhana merupakan tuntunan sunah yang diajarkan Nabi Muhammad SAW.

"Salat gerhana adalah bentuk penghambaan kita kepada Allah SWT. Salat ini sekaligus mengingatkan bahwa segala peristiwa di alam semesta ini terjadi atas kehendak-Nya," katanya kepada RRI.

Baca juga: MPU Aceh Ingatkan Salat Gerhana Malam ini

Selain melaksanakan salat, masyarakat juga dianjurkan untuk memperbanyak doa, zikir, sebagai wujud mendekatkan diri kepada Allah SWT. MPU berharap seluruh masjid dan meunasah di Aceh dapat mengumumkan, serta mengajak jemaah untuk bersama-sama melaksanakan ibadah tersebut.

Masyarakat diharapkan tidak hanya menjadikan fenomena gerhana bulan hanya sebagai tontonan. Namun, fenomena ini harus dijadikan sebagai momentum meningkatkan ketakwaan dan mempertebal iman kepada Allah. 


Selanjutnya, Penjelasan BRIN tentang Blood Moon

Peristiwa ini terjadi ketika bumi berada tepat di antara matahari dan bulan saat purnama. Bayangan Bumi menutupi purnama sehingga memunculkan rona merah dramatis.

Peneliti Ahli Utama BRIN, Prof Thomas Djamaluddin mengatakan, bulan tampak merah akibat pembiasan cahaya Matahari oleh atmosfer Bumi. Cahaya biru tersaring, sedangkan gelombang merah lebih panjang membias hingga mengenai Bulan.

“Alih-alih gelap saat GBT, purnama justru memerah. Hanya cahaya merah yang mencapai bulan karena warna lain dihamburkan atmosfer Bumi,” ujarnya. 

Baca juga: Ini Penjelasan Peneliti BRIN Soal Fenomena Blood Moon

Fenomena ini dapat disaksikan dari seluruh wilayah Indonesia, tanpa alat khusus. Thomas menegaskan, pengamatan dapat dilakukan cukup dengan mata telanjang.

“Gerhana ini bisa dinikmati tanpa alat. Namun teleskop dan kamera akan lebih baik untuk mengabadikannya,” ucapnya.

GBT terbagi menjadi fase penumbral, gerhana sebagian, gerhana total, lalu kembali ke fase semula. Setiap tahapan menghadirkan nuansa visual berbeda dan memukau bagi pengamat langit.

Selain keindahan, Thomas menilai GBT sarat nilai edukatif. Ia mendorong masyarakat memanfaatkannya sebagai sarana belajar astronomi dan mengenal keteraturan orbit Bulan serta konfigurasi bumi-matahari.

“Fenomena ini bukan sekadar tontonan, tetapi momentum mengenal mekanika benda langit,” katanya. Menurutnya, kelengkungan bayangan bumi di bulan membuktikan bumi bulat, bukan datar.

Blood moon juga terlihat di Asia, Australia, Afrika, dan sebagian Eropa. Hanya Indonesia dan Asia Tenggara dapat menyaksikan rangkaian penuh, sementara Amerika tidak karena gerhana terjadi siang hari.


Selanjutnya, Fenomena Blood Moon Versi Himpunan Astronomi

Ketua Himpunan Astronomi Amatir Jakarta (HAAJ), Muhammad Rezky, menjelaskan warna merah bulan dipengaruhi cahaya matahari dibelokkan atmosfer bumi. Cahaya matahari tidak menembus bumi secara langsung, tetapi melewati atmosfer terlebih dahulu. 

Gas-gas yang ada di atmosfer menghamburkan cahaya. Terutama warna biru yang kemudian tersaring.

‎“Warna merah muncul karena cahaya biru lebih dulu terhamburkan oleh partikel atmosfer. Sisa cahaya kemerahan akhirnya mengenai permukaan bulan,” katanya dalam gelar bicara di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Minggu (7/9/2025).

Baca juga: Mengapa Bulan Tampak Merah Saat Gerhana? Ketahui Penjelasannya

‎Ia menambahkan, proses ini membuat bulan tampak jingga hingga merah darah saat fase totalitas. Fenomena ini sekaligus menunjukkan peran atmosfer dalam membiaskan cahaya dari matahari.

‎“Blood moon menjadi bukti nyata interaksi antara cahaya matahari dengan atmosfer bumi. Hasilnya bisa dinikmati langsung dengan mata biasa,” ujarnya.

‎Rezky menegaskan, penjelasan ilmiah itu penting agar masyarakat tidak terjebak mitos. Ia menilai, fenomena ini murni peristiwa astronomi yang dapat dipelajari secara ilmiah.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyiapkan tiga lokasi untuk memantau blood moon. Lokasinya di lapangan dr Murdjani Banjarbaru Kalimantan Selatan, BMKG Jakarta, dan Stasiun Meteorologi Komodo Labuan Bajo. 

Fenomena blood moon 2025 telah menjadikan langit Nusantara sebagai panggung penyatuan keindahan, ilmu pengetahuan, dan keyakinan. Warna merah di wajah bulan bukan hanya hasil pembiasan cahaya, melainkan juga simbol keterhubungan manusia dengan alam.

Ribuan pasang mata yang menatap langit, dari taman kota hingga halaman masjid, menghadirkan suasana kebersamaan. Teleskop dan doa berdampingan, sementara sains dan tradisi berjalan seiring tanpa saling meniadakan.

Masyarakat tidak hanya belajar tentang orbit dan cahaya dari momen ini. Mereka juga merawat warisan budaya, sembari meneguhkan kembali ikatan spiritual dengan semesta yang tak pernah berhenti memberi pesan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....