Ki Narto Sabdo, Kisah Cinta dengan Suara Sulingnya
- 26 Jun 2024 19:39 WIB
- Semarang
KBRN, Semarang: Ki Narto Sabdo sang maestro pedhalangan pada masanya. Tidak saja punya berbagai keunikan pada karya-karyanya, dalam cerita kehidupan pribadi dan keluarganyapun terwarnai keunikan.
Dari putra angkat beliau, bernama Danang Respati Puguh, banyak informasi kisah sewaktu hidupnya. Seorang istri bagi Narto Sabdo bisa membantu dan memberi dorongan moral namun kadang-kadang suka membatasi.
Ki Narto Sabdo merasa kehadirannya bukan untuk keluarganya saja tapi ia harus hidup bertetangga, bermasyarakat, berhubungan dengan dunia luar. Dan sebagai seniman, ia harus selalu berkarya.
Dan soal ilham, ia tidak pernah kehabisan, makin tua makin ‘edan’. Di dalam menciptakan lagu-lagu gending Jawa, ia selalu butuh primadona yang cantik.
Tapi kemudian ia cepat menyambung, “tapi ucapan ini jangan diartikan yang sempit.”Wajah wanita cantik, baginya selalu membangkitkan suatu cita rasa dan keindahan tersendiri.
Dengan adanya wanita cantik, Narto Sabdo menjadi lebih peka terhadap motivasi. Sehingga ia akan sanggup menangkap inspirasi untuk kemudian digubahnya dalam irama gending.
Karya pertamanya, sebuah gending yang berjudul Swara Suling membikin namanya mencuat. Tentang ini ada kisahnya.
Tahun 1953, ketika Parto Tanoyo (nama asli Narto Sabdo) masih remaja, ia kasmaran pada seorang gadis. Suatu malam ia menunggu sang kekasih sambil duduk-duduk di atas balok kayu, tapi sang kekasih tak juga kunjung datang.
Dengan kecewa ia terus menunggu. Dalam malam yang hening seperti itu, tiba-tiba terdengar suara suling dari kejauhan, sangat merdu.
Kemerduan suara suling yang membawakan lagu Minto, sebuah lagu Jepang menyentuh kalbunya. Lalu dicarinya siapa peniup suling itu.
Ternyata ia seorang gelandangan yang dengan nikmat meniup seruling dari dalam gubuk reot. Kemudian digubahnya menjadi gending Swara Suling.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....