Tari Angguk, Kesenian Tradisional Kulon Progo
- 16 Mei 2024 06:12 WIB
- Semarang
KBRN, Semarang: Kesenian Angguk Kulon Progo diyakini muncul diseputar tahun 1900. Idenya berasal dari pesta dansa para tentara dan opsir Belanda.
Mereka berdansa sambil bernyanyi waktu menduduki wilayah kabupaten Purworejo, Jawa Tengah. Untuk itu di wilayah Kulon Progo yang mula-mula muncul kesenian Angguk adalah di daerah yang berbatasan langsung dengan Purworejo, Jawa Tengah yaitu Kecamatan Kokap.
Di awal kemunculannya, para pemain (penari) kesenian Angguk adalah laki-laki. Kesenian ini berkembang di daerah pedesaan, terutama di Kulon Progo bagian barat dan utara.
Namun kesenian ini juga ditemui di Kecamatan Sentolo, meski kehadirannya tidak seawal di Kokap. Sampai tahun 1990-an, kesenian Angguk di Kulon Progo hanya dimainkan oleh penari laki-laki.
Pada tahun 1991, di dusun Pripih, Hargomulyo, Kokap untuk pertama kalinya muncul seni Angguk dengan penari perempuan (Angguk Putri) yang digelar pada tanggal 17 Agustus 1991. Sejak pentas perdana itu, fenomena Angguk Putri dengan penari semuanya perempuan, lebih populer dibanding angguk dengan penari laki-laki.
Nama Angguk diambil dari gerakan mengangguk-anggukkan kepala yang dilakukan oleh para penari saat sedang menari. Konon, sambil mengangguk-anggukkan kepala sehabis panen padi di bawah sorot bulan purnama, sebagai ungkapan syukur dan terima kasih kepada Tuhan YME atas limpahan hasil panen yang didapat.
Seni Angguk lahir di Kulon Progo di mana masyarakatnya sebagian besar menggantungkan hidup dari hasil bertani (masyarakat agraris). Pelaku adat dimasyarakat pertanian, sebelum menyelenggarakan pertunjukan Angguk selalu memohon keselamatan kepada Tuhan YME melalui simbol-simbol sesaji khas masyarakat pertanian.
Gerakan Tari Angguk relatif lebih sulit dibandingkan gerakan tari pada umumya. Pada dasarnya Tari Angguk dibagi dua jenis tari yaitu Tari Jejeran (Ombyokan) dan Tari Pasangan.
Tari Jejeran dimainkan oleh keseluruhan penari. Tari Jejeran terdiri dari Jejeran Pembuka, Jejeran Ndadi, Jejeran Barat Gunung dan Jejeran Ambil Kain.
Sedangkan Tari Pasangan dimainkan penari secara berpasang-pasangan, biasanya tampil dua penari-dua penari tetapi bisa juga tiga atau empat penari. Pemain Angguk setiap kali pentas selalu menggunakan busana khas yang sudah menjadi ciri khusus kesenian tersebut.
Pada awalnya alat musik pengiring Angguk hanya 1 bedug, 1 kendang biasa, 1 kendang Jaipong, 4 rebana, 3 Saron, dan 1 Kecrek. Untuk pengembangan dan menghilangkan kebosanan penonton, kini musik pengiring Angguk sudah ditambah dengan 1 organ dan 1 drum sehingga menghasilkan musik yang bervariasi di telinga penonton.
Seni Angguk juga digunakan sebagai media dakwah melalui syair dan sholawat Islam. Syair dan tembang-tembang yang mengiringi Tari Anggukpun mengajak kepada kebajikan menjauhi perilaku menyimpang.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....