Kisah Sri Huning Mustiko Tuban

  • 14 Mei 2024 21:37 WIB
  •  Semarang

KBRN, Semarang: Jika anda penikmat seni suara berpola langgam jawa, tentu sering mendengar lagu bertajuk Sri Uning (Sri Huning). Lagu ciptaan Ki Sukron Suwondo, dalang kondang dari Blitar, Jawa Timur yang sangat memasyarakat ini, memberikan sedikit gambaran cerita seorang pahlawan wanita dari Tuban Jawa Timur.

Kisah Sri Huning menjadi cerita rumit sebuah perjuangan cinta suci yang berakhir tragis. Inilah wanita ‘sulistyo ing warno’ yang dapat membedakan antara cinta asmara dengan kewajiban bela negara.

Sri Huning lebih dari sekedar kisah bela negara tetapi juga sebuah riwayat tentang cinta yang sedia bertaruh nyawa. Kisah yang penuh dengan konflik dan perjuangan.

Cerita Sri Huning semakin terlupakan, terlebih hanya sedikit yang diterbitkan dalam bentuk buku. Meskipun pementasan lakon ketoprak masih ada yang mengangkat kisah ini.

Sri huning adalah seorang putri di Kadipaten Tuban, memiliki dua orang kakak yaitu Raden Wiratmoyo dan Wiratmoko. Kepada Raden Wiratmoyo sebenarnya saling mencintai layaknya wanita mencintai pria, namun Sri Huning tetap berusaha untuk mengabaikan cintanya.

Akan tetapi pada suatu hari, dihadapan Sri Huning dan Wiratmoyo, ibunya bercerita bahwa Sri Huning sebenarnya hanyalah anak angkat adipati Tuban.
Ayah Sri Huning merupakan seorang pejuang yang telah gugur bersama Adipati Ronggolawe, kakek dari Wiratmoyo, pada saat terjadi pertikaian berdarah di kalangan internal Majapahit.

Sehingga Sri Huning kecil akhirnya diasuh oleh keluarga Kadipaten Tuban. Raden WiratMoyo sangat bahagia mendengar cerita ibunya itu karena dirinya tak merasa bersalah jika mencintai Sri Huning.

Ia bergegas menemui sang Ayah, Adipati Tuban, namun sayang, mereka terlambat. Ternyata sang Adipati terlanjur meminang Putri Kadipaten Bojanegoro bernama Dewi Kumoloretno untuk diperistri Raden Wiratmoyo.

Lamaran itu tidak bisa dibatalkan karena sudah disetujui oleh pihak Kadipaten Bojonegoro. Dengan berbesar hati Sri Huning mengantarkan Raden Wiratmoyo menuju Bojonegoro untuk menikahi wanita lain.

Di tengah perjalanan menuju Bojonegoro rombongan dihadang oleh pasukan dari kadipaten Lamongan yang kecewa karena lamarannya ditolak dan berniat untuk menculik paksa dewi Kumolo Retno. Meskipun seorang wanita, Sri Huning yang berjiwa prajurit menemui Adipati Lamongan berusaha mengadakan pendekatan persuasif untuk mengurai persoalan.

Namun Adipati Lamongan yang keras kepala dan merasa tak tertandingi kesaktiannya menolak ajakan musyawarah, sehingga terjadilah peperangan yang tak bisa dihindari melawan Sri Huning. Wanita cantik itupun gugur di medan laga.

Mendengar kabar kematian adiknya sekaligus pujaan hatinya, Wiratmoyo segera masuk ke medan laga melawan Adipati Lamongan untuk membalaskan dendam kematian adiknya. Namun na’as dirinya juga gugur dalam pertempuran yang sama.

Adipati Tuban sangat murka lantaran mendengar putra-putrinya gugur di tangan Adipati Lamongan. Sesaat kemudian keduanya ‘silih ungkih’ adu kesaktian. Adipati Tuban berhasil memenangkan pertempuran.

Di akhir cerita jasad Sri Huning dan jasad Wiratmoyo dimakamkan berdampingan, diharapkan hidup bahagia bersama di alam keabadian. Sementara itu, Dewi Kumolo Retno dinikahkan dengan Raden Wiratmoko, adik dari Wiratmoyo.


Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....