Tadashi Dorong Generasi Muda Kenali Seni Tradisional Jepang lewat King Lear
- 16 Sep 2026 21:50 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Tadashi Suzuki menilai seni tradisional Jepang semakin kurang mendapat perhatian generasi muda di tengah berkembangnya budaya modern.
- Ia menyebut dukungan terhadap anime dan manga berkembang lebih besar, sementara teater tradisional membutuhkan perhatian berkelanjutan.
- Pementasan King Lear menjadi ruang kolaborasi seni Jepang dan Indonesia untuk memperkenalkan kembali nilai tradisional.
RRI.CO.ID, Jakarta - Sutradara King Lear, Tadashi Suzuki ingin menghidupkan kembali seni tradisional Jepang yang mulai ditinggalkan generasi muda. Menurutnya, anak muda Jepang kini lebih tertarik pada seni modern, sementara warisan tradisional semakin kurang mendapat perhatian pemerintah.
Ia menilai kondisi tersebut perlu diperhatikan karena perkembangan industri hiburan modern berjalan lebih cepat dibandingkan pelestarian teater tradisional Jepang. Ia melihat dukungan terhadap seni modern berkembang pesat, sedangkan teater tradisional membutuhkan perhatian agar tetap hidup dan dikenal generasi berikutnya.
"Kesenian di Jepang sudah kian menurun, dahulu banyak kesenian tradisional yang sangat unggul di sana dan menjadi identitas budaya. Anime dan manga kini mendapat dukungan lebih besar pemerintah, sedangkan industri teater tradisional belum memperoleh perhatian yang sebanding dari negara," katanya dalam konferensi pers pertunjukan teater King Lear, Gedung Kesenian Jakarta, Jakarta Pusat, Rabu, 16 September 2026
Ia mengatakan perubahan tersebut tidak terlepas dari perjalanan ekonomi Jepang yang pernah berkembang pesat dan memiliki daya beli kuat. Kekuatan ekonomi membuat Jepang mampu memperoleh berbagai kebutuhan dari luar, sekaligus mempelajari banyak hal melalui proses impor dan pertukaran.
Menurutnya, perkembangan ekonomi kemudian ikut membentuk cara generasi muda memandang budaya dan warisan seni yang tumbuh di lingkungan mereka. Ketika perhatian masyarakat lebih banyak tertuju pada aktivitas ekonomi, seni tradisional berpotensi semakin jauh dari kehidupan anak muda Jepang.
"Karena memiliki kekuatan ekonomi, Jepang bisa belajar banyak hal dengan cara mengimpor berbagai kebutuhan dan pengetahuan dari luar negeri. Namun, warisan budaya kemudian dianggap ringan oleh sebagian anak muda karena perhatian lebih banyak tertuju pada aktivitas ekonomi modern," ucapnya.
Ia berharap perhatian terhadap seni tradisional kembali tumbuh melalui proses belajar, pertunjukan, serta pertemuan antarseniman lintas negara. Menurutnya, kolaborasi seni dapat menjadi ruang untuk memperkenalkan kembali nilai tradisional sekaligus membuka pengalaman baru bagi generasi muda.
Gagasan tersebut turut memberi warna dalam pertunjukan King Lear yang mempertemukan pengalaman seni Jepang dengan proses kreatif bersama Indonesia. Melalui pementasan ini, ia membawa pandangan tentang pentingnya menjaga tradisi agar tetap berkembang mengikuti perubahan zaman.
"Saya ingin seni tradisional Jepang kembali mendapat perhatian, terutama dari generasi muda yang akan meneruskan kehidupan kebudayaan pada masa depan. Melalui kerja sama dan pertunjukan, kami berharap seni tradisional tetap hidup serta menemukan ruang baru bersama generasi muda," ujarnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....