Lorjhu’ Membawa Bahasa Madura ke Panggung Musik Modern
- 18 Agt 2026 15:30 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Lorjhu' adalah band asal Sumenep yang secara konsisten menggunakan bahasa Madura dalam seluruh lirik lagunya.
- Penggunaan bahasa Madura dalam musik modern menjadi ciri khas yang membedakan Lorjhu' dari musisi-musisi lain di industri musik Indonesia.
- Band ini membuktikan bahwa bahasa daerah tidak hanya terbatas pada percakapan sehari-hari atau kesenian tradisional, tetapi dapat hadir dalam format musik kontemporer.
RRI.CO.ID, Jakarta – Bahasa daerah sering dianggap hanya cocok digunakan dalam percakapan atau kesenian tradisional. Lorjhu’ justru membawa bahasa Madura ke dalam panggung musik modern.
Band asal Sumenep ini dikenal menggunakan bahasa Madura dalam seluruh lirik lagunya. Pilihan tersebut menjadi salah satu ciri yang membedakan Lorjhu’ dari banyak musisi lain.
Lorjhu’ digagas Badrus Zeman yang lahir dan besar di kawasan Prenduan, Sumenep, Madura. Pengalaman hidup di kampung halaman kemudian menjadi sumber cerita dalam lagu-lagunya.
Bagi Badrus, bahasa Madura bukan sekadar pemanis dalam karya musik. Bahasa tersebut menjadi cara untuk menyampaikan pengalaman dan ingatan tentang tempat asalnya.
Hal itu terlihat dalam album perdana Paseser yang dirilis pada 2022. Sembilan lagu dalam album tersebut menggunakan bahasa Madura dan banyak bercerita tentang kehidupan pesisir.
Salah satunya adalah lagu “Nemor” yang berarti musim kemarau dalam bahasa Madura. Lagu tersebut menggambarkan kehidupan petani tembakau, nelayan, dan petani garam di Madura.
Ada pula “Toron” yang mengangkat tradisi pulang kampung masyarakat Madura. Sementara “Kembang Koning” membawa cerita dan bahasa lokal dalam kemasan musik rock yang modern.
Menariknya, penggunaan bahasa Madura tidak membuat musik Lorjhu’ hanya didengarkan masyarakat Madura. Badrus menyebut sebagian besar pendengarnya justru tidak memahami bahasa tersebut.
Kondisi itu menunjukkan bahwa pendengar tetap bisa menikmati musik meski tidak memahami seluruh liriknya. Melodi, aransemen, dan karakter vokal akhirnya menjadi pintu masuk sebelum pendengar mengenal maknanya.
Musik Lorjhu’ sendiri tidak sepenuhnya mengambil bentuk musik tradisional Madura. Mereka memadukan rock, psychedelic, folk, serta sejumlah unsur musik tradisional Madura.
Perpaduan tersebut membuat bahasa Madura terdengar dalam konteks yang berbeda. Bahasa daerah tidak harus selalu hadir bersama musik tradisional untuk menunjukkan identitas budaya.
Pilihan Lorjhu’ juga memperlihatkan bahwa bahasa daerah dapat menjadi bagian dari musik populer. Bahkan, penggunaan bahasa lokal justru menjadi karakter yang membuat musik mereka mudah dikenali.
Perjalanan Lorjhu’ kemudian membawa bahasa Madura ke berbagai panggung di luar daerah asalnya. Mereka pernah tampil dalam festival musik nasional dan menjangkau pendengar dari berbagai wilayah.
Bagi bahasa daerah, kehadiran dalam musik seperti ini memberikan ruang untuk terus terdengar di kalangan generasi yang lebih luas. Apalagi, bahasa Madura sendiri masih digunakan masyarakat Madura dan memiliki tradisi sastra yang terus hidup.
Lorjhu’ akhirnya menunjukkan bahwa mempertahankan bahasa daerah tidak selalu harus dilakukan melalui cara yang konvensional. Lewat musik, bahasa Madura menemukan ruang baru untuk dikenal oleh pendengar yang bahkan tidak memahami bahasanya. (Rahmania Ulfah)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....