LSF: Anak Rentan Terpapar Konten Digital Tak Sesuai Usia

  • 21 Jul 2026 15:30 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • LSF menggelar Literasi Gerakan Nasional Budaya Sensor Mandiri (GNBSM) di CGV Depok Mall
  • Sebanyak 332 mahasiswa dan komunitas mengikuti literasi serta nonton bareng dua film nasional
  • LSF mengajak masyarakat memilih tontonan sesuai klasifikasi usia di tengah pesatnya konten digital
  • Pemkot Depok mendukung GNBSM sebagai upaya membangun karakter melalui film
  • Kegiatan diakhiri dengan diskusi bersama anggota LSF, produser, sutradara, dan pemeran film

RRI.CO.ID, Depok – Lembaga Sensor Film (LSF) menggelar Literasi Gerakan Nasional Budaya Sensor Mandiri (GNBSM) yang dirangkai dengan nonton bareng film nasional Jangan Buang Ibu dan Takkan Kubiarkan Kau Menangis di CGV Depok Mall, Selasa 21 Juli 2026. Kegiatan yang diikuti sebanyak 332 mahasiswa dan komunitas itu bertujuan meningkatkan literasi masyarakat agar memilih tontonan sesuai klasifikasi usia sekaligus mendorong apresiasi terhadap film nasional.

Ketua LSF RI, Naswardi, mengatakan perkembangan teknologi informasi telah mengubah pola masyarakat dalam mengakses tontonan. Berdasarkan hasil survei nasional LSF pada 2024, sekitar 72 persen masyarakat kini lebih banyak mengakses film melalui internet, layanan over the top (OTT), video on demand, hingga media sosial.

Menurutnya, kondisi tersebut menjadi tantangan karena tidak seluruh konten digital telah melalui proses filtrasi dan kurasi sebagaimana film yang ditayangkan di bioskop maupun televisi. Akibatnya, anak-anak berpotensi terpapar konten yang tidak sesuai dengan klasifikasi usianya, seperti pornografi, kekerasan, perjudian, narkotika, dan konten sensitif lainnya.

"Mari menjadi bagian dari literasi budaya sensor mandiri. Mari memilih tontonan sesuai dengan klasifikasi usia kita masing-masing," ucap Naswardi.

Ia menjelaskan LSF setiap tahun menerbitkan sekitar 41 ribu Surat Tanda Lulus Sensor (STLS) sebagai bagian dari amanat Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2009 tentang Perfilman. Saat ini, film dari 33 negara juga masuk ke Indonesia dan melalui proses penilaian sebelum diedarkan kepada masyarakat.

Naswardi menambahkan, Gerakan Nasional Budaya Sensor Mandiri merupakan upaya memperkuat perlindungan masyarakat yang tidak cukup hanya mengandalkan kebijakan sensor. Menurutnya, masyarakat juga perlu dibekali literasi agar memiliki kesadaran memilih tontonan yang aman, bermutu, dan sesuai usia.

Sementara itu, Wakil Wali Kota Depok Chandra Rahmansyah menyatakan Pemerintah Kota Depok mendukung penuh pelaksanaan Gerakan Nasional Budaya Sensor Mandiri. Bahkan, Kota Depok menjadi salah satu lokasi pencanangan gerakan tersebut sebagai bentuk edukasi kepada masyarakat.

Menurut Chandra, film tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga menjadi sarana pendidikan dan pembentukan karakter generasi muda. Ia menilai film Jangan Buang Ibu dan Takkan Kubiarkan Kau Menangis mengangkat pesan moral yang relevan, terutama mengenai pentingnya komunikasi antara orang tua dan anak dalam kehidupan sehari-hari.

Kegiatan LSF Nonton Bareng Film Indonesia menghadirkan dua studio pemutaran. Studio 5 menayangkan film Takkan Kubiarkan Kau Menangis, sedangkan Studio 6 menayangkan Jangan Buang Ibu, yang dilengkapi diskusi bersama anggota LSF, insan perfilman, produser, sutradara, hingga pemeran film sebagai bagian dari penguatan literasi perfilman di kalangan masyarakat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....