LSF: Pentingnya Literasi Menonton di tengah Dominasi Platform Digital
- 21 Jul 2026 22:15 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Lembaga Sensor Film menekankan pentingnya literasi menonton sebagai langkah perlindungan anak dari konten dewasa dan sensitif di platform digital.
- Survei nasional LSF tahun 2024 menunjukkan 72 persen masyarakat Indonesia mengakses konten lebih banyak melalui internet dibandingkan saluran tradisional.
- Konten digital di media sosial belum sepenuhnya melalui proses filtrasi dan kurasi yang ketat seperti halnya konten bioskop dan televisi yang tersensor.
RRI.CO.ID, Jakarta - Lembaga Sensor Film (LSF) menekankan pentingnya literasi menonton di tengah meningkatnya konsumsi film melalui platform digital. Edukasi tersebut dinilai menjadi langkah penting untuk melindungi masyarakat dari paparan konten yang tidak sesuai usia.
"Anak-anak yang menjadi kelompok rentan terpatar oleh konten-konten dewasa, konten-konten yang sifatnya sensitif. Mulai dari pornografi, kekerasan, perjudian, narkotika, termasuk yang diatur melalui Peraturan Presiden nomor 111 tentang LGBT," ucap Ketua LSF RI, Dr. Naswardi, di CGV Depok Mall, Depok, Selasa, 21 Juli 2026.
Naswardi mengatakan lembaganya rutin melakukan survei nasional mengenai budaya menonton masyarakat Indonesia. Hasil survei pada 2024 menunjukkan sebanyak 72 persen masyarakat lebih banyak mengakses tontonan melalui internet.
Menurut Naswardi, tidak seluruh konten digital telah melalui proses filtrasi maupun kurasi sebagaimana film bioskop dan televisi. Kondisi tersebut berpotensi membuat anak-anak terpapar konten dewasa dan materi sensitif yang tidak sesuai.
"Materi dan konten yang ada di media sosial itu belum sepenuhnya melalui proses filtrasi dan kurasi yang baik. Karena Surat Tanda Lulus Sensor dari LSF diterbitkan lebih banyak untuk bioskop atau televisi," ujarnya.
Ia menegaskan LSF terus mengajak masyarakat membudayakan sensor mandiri melalui kebiasaan memilah dan memilih tontonan. Langkah itu diharapkan mampu meningkatkan literasi menonton sekaligus memperkuat perkembangan perfilman nasional.
Sementara itu, Pemerintah Kota Depok mengapresiasi penyelenggaraan GNBSM di Kota Depok. Pemerintah mendukung penuh gerakan tersebut sebagai upaya membangun budaya menonton yang sehat.
"Kami Pemerintah Kota Depok memberikan apresiasi kepada LSF, badan perfilman, serta semua stakeholder terkait. Pemkot Depok pastinya siap mendukung secara penuh gerakan sensor mandiri ini," kata Wakil Wali Kota Depok, Chandra Rahmansyah, pada kesempatan yang sama.
Chandra menilai film tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga menjadi sarana edukasi bagi masyarakat. Karena itu, literasi menonton sesuai klasifikasi usia penting untuk membentuk generasi muda yang lebih bijak.
"Film bukan sekedar hiburan semata, tetapi juga sebagai sarana edukasi. Dengan gerakan sensor mandiri ini, mudah-mudahan perfilman akan menjadi sarana edukasi yang tepat dan efektif, khususnya bagi generasi muda," ucapnya.
Ia menyebut film 'Jangan Buang Ibu' mengandung banyak pesan moral yang relevan bagi kehidupan masyarakat. Selain itu, film 'Takkan Kubiarkan Kau Menangis' dinilai mengangkat persoalan komunikasi keluarga yang sering terjadi sehari-hari.
Melalui GNBM, LSF berharap masyarakat semakin sadar memilih tontonan sesuai klasifikasi usia. Literasi menonton dinilai menjadi bekal penting menghadapi pesatnya perkembangan platform digital dan arus informasi global. (Shafa)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....