Bayu Skak Libatkan Ratusan Animator untuk Wujudkan Alien di 'Foufo'

  • 14 Jul 2026 12:00 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Bayu Skak menghadirkan film komedi fiksi ilmiah Foufo yang menggabungkan kisah alien dengan budaya Madura.
  • Film tersebut menjadi film layar lebar Indonesia pertama yang menggunakan bahasa Madura secara dominan.
  • Produksi Foufo melibatkan ratusan animator untuk membuat efek CGI serta membuka kesempatan bagi talenta baru dari Madura dan Jawa Timur melalui open casting.

RRI.CO.ID, Jakarta - Sutradara Bayu Skak kembali menghadirkan karya terbaru lewat film Foufo yang tayang di bioskop pada 9 Juli 2026. Berbeda dari film-film sebelumnya, kali ini Bayu menggabungkan unsur komedi, fiksi ilmiah, dan budaya Madura dalam satu cerita.

Film produksi Skak Studios dan Sinemart tersebut menjadi film layar lebar Indonesia pertama yang menggunakan bahasa Madura secara dominan. Bayu menyebut keputusan itu sebagai upaya menghadirkan warna baru sekaligus memperkenalkan budaya Madura kepada penonton yang lebih luas.

Menurut Bayu, Foufo menjadi proyek paling menantang sepanjang kariernya sebagai sutradara. Selain mengangkat kisah keluarga dengan latar budaya Madura, film ini juga menghadirkan penggunaan teknologi visual efek atau CGI dalam skala besar.

“Foufo adalah project-ku yang paling berani. Karena ada alien, tentunya kami menggunakan CGI dan itu ternyata susah banget, melibatkan ratusan animator untuk membuatnya,” ujar Bayu.

Ia mengaku sengaja keluar dari zona nyaman setelah sebelumnya dikenal lewat film-film berlatar budaya Jawa. Melalui Foufo, Bayu ingin menghadirkan kombinasi cerita yang belum banyak dijumpai di perfilman Indonesia.

Tak hanya dari sisi cerita, Bayu juga melibatkan banyak talenta baru dalam proses produksi film tersebut. Sebanyak 2.500 peserta mengikuti open casting yang digelar untuk mencari pemain, terutama dari wilayah Madura dan Jawa Timur.

Hasilnya, sejumlah pemain dalam Foufo merupakan pendatang baru yang belum memiliki pengalaman profesional di dunia akting. Bayu menilai kesempatan bagi talenta daerah perlu terus dibuka agar industri perfilman tidak hanya berpusat di Jakarta.

"Ketika teman-teman di daerah diberi kesempatan, mereka juga bisa menunjukkan kemampuannya. Banyak peserta open casting yang akhirnya kini menjadi bagian dari pemain film ini," katanya.

Foufo juga menjadi debut Ahmad Faishol sebagai penulis skenario film panjang untuk layar lebar. Sebelumnya, ia menyelesaikan pendidikan di kampus film sebelum bergabung dalam proyek tersebut.

Bayu menegaskan film ini tidak hanya ditujukan bagi masyarakat Madura atau Jawa Timur. Meski menggunakan bahasa Madura secara dominan, Foufo tetap dilengkapi dengan subtitle agar dapat dinikmati penonton dari berbagai daerah.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....