Penulis Eka Kurniawan Ceritakan Proses Ide Awal Naskah 'Monster Pabrik Rambut'

  • 07 Jun 2026 17:40 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Kolaborasi kembali Eka Kurniawan dan Edwin setelah sukses lewat Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas, kali ini menghadirkan film horor fantasi Monster Pabrik Rambut.
  • Ide cerita berangkat dari budaya kerja berlebihan, dengan premis sederhana tentang seseorang yang kurang tidur karena lembur hingga mulai melihat hantu.
  • Inspirasi monster dan dunia film banyak dipengaruhi komik serta film Indonesia era 1980-an yang memadukan unsur horor, komedi, dan fantasi.

RRI.CO.ID, Jakarta - Penulis novel sekaligus sastrawan Eka Kurniawan kembali bekerja sama dengan sutradara Edwin dalam film horor Monster Pabrik Rambut. Setelah sukses berkolaborasi dalam Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas (2021), keduanya kembali menyatukan ide menghadirkan cerita baru.

Eka mengungkapkan proses menulis skenario film memiliki tantangan yang berbeda dibandingkan saat menulis novel. Menurutnya, menulis novel merupakan pekerjaan yang lebih personal karena seluruh proses dikerjakan sendiri.

“Orang sering tanya, apa bedanya nulis novel dan skenario? Sederhananya, menulis novel itu pekerjaan individual, sementara menulis skenario film itu pekerjaan tim,” kata Eka Kurniawan dalam keterangan tertulis.

Ia menjelaskan, saat menulis novel dirinya harus menghadapi berbagai kebuntuan seorang diri. Sebaliknya, dalam penulisan skenario film, tantangan datang dari proses kolaborasi dan dinamika yang melibatkan banyak anggota tim produksi.

“Setelah Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas, Edwin bertanya, bikin apa lagi ya?. Jawaban saya, yuk bikin cerita dari nol,” ujarnya.

Dari obrolan tersebut, Eka mulai mengembangkan sebuah premis sederhana yang kemudian menjadi fondasi cerita film. “Menulis draft pertama dari premis sederhana, bagaimana kalau kamu terpaksa kurang tidur karena lembur, terus jadi lihat hantu?” katanya.

Premis itu kemudian berkembang menjadi cerita yang berlatar sebuah pabrik. Proses pengembangannya berlangsung cukup panjang dengan belasan versi naskah yang dikerjakan selama hampir dua tahun.

Cerita semakin menemukan bentuknya setelah Eka dan Edwin mengunjungi sebuah pabrik wig untuk melakukan riset. Pengalaman melihat gudang penyimpanan serta berbagai peralatan produksi yang menurut mereka terasa menyeramkan ikut memperkuat atmosfer cerita.

Edwin menambahkan proses penciptaan sosok monster dalam film ini \banyak dipengaruhi referensi yang ia dan Eka nikmati sejak kecil. Komik-komik Indonesia era 1980-an menjadi salah satu sumber inspirasi utama.

“Komik Indonesia dibumbui dengan banyak cerita komedi, action, dan juga horor. Bahkan komik Petruk dan Gareng yang harusnya komedi saja bisa jadi horor,” ujar Edwin.

Selain komik, film-film Indonesia era 1980-an turut memberi pengaruh terhadap pendekatan visual dan penciptaan monster dalam film ini. Edwin menilai efek praktikal yang terkesan sederhana atau bahkan sedikit konyol justru meninggalkan kesan kuat bagi penonton.

Di balik elemen fantasi, Edwin menegaskan film ini tetap berangkat dari kondisi sosial yang dekat dengan kehidupan masyarakat. Menurutnya, budaya kerja berlebihan yang dianggap normal menjadi sumber ketakutan yang ingin dieksplorasi dalam film.

“Kita berada di sebuah kondisi yang bisa dibilang cukup horor. Karena kita seperti tidak punya kontrol terhadap diri kita sendiri dan memberikan segala sesuatunya secara berlebihan kepada pekerjaan,” kata Edwin.

Ia menilai situasi tersebut berpotensi menimbulkan dampak serius, namun sering kali dianggap risiko yang wajar dalam dunia kerja modern. “Yang bisa berakibat fatal, dan seramnya lagi itu dinormalisasikan, dari situlah monster di film ini tercipta,” ujarnya.

Film ini dibintangi Rachel Amanda, Lutesha, Iqbaal Ramadhan, Didik Nini Thowok, Sal Priadi, dan Kiki Narendra. Film yang lebih dulu menjalani world premiere di Berlinale 2026 ini sudah tayang di bioskop 4 Juni 2026.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....