Film ‘Nobody Loves Kay’ Jadi Debut Panjang Penuh Makna bagi Sutradara Bernardus Raka

  • 29 Mei 2026 00:05 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Bernardus Raka tidak pernah membayangkan menggarap film panjang pada usia sekarang sebelum mendapat kesempatan tersebut
  • Kisah persahabatan dalam film ‘Nobody Loves Kay’ terasa dekat dengan pengalaman pribadi Bernardus Raka semasa di Surabaya
  • Penulis Johanna Wattimena melakukan riset mendalam mengenai keluarga TKI dan dunia Mobile Legends untuk pengembangan cerita film

RRI.CO.ID, Jakarta - Sutradara film ‘Nobody Loves Kay’ Bernardus Raka mengaku tidak pernah membayangkan menggarap film panjang pada usia sekarang. Ia mengatakan sebelumnya lebih menikmati mengerjakan video musik, film pendek, dan berbagai proyek berdurasi singkat lainnya.

Raka mengungkapkan kesempatan mengerjakan film panjang terasa spesial setelah bertemu penulis, produser, serta para pemain yang menyenangkan selama produksi. Ia merasa seluruh proses tersebut seperti perjalanan hidup yang memang membawanya menuju proyek film panjang pertamanya.

“Jadi, pas dapat kesempatan ini dan ketemu sama penulis, ketemu sama produser, dan ketemu sama cast yang sangat menyenangkan. Aku akhirnya, ‘Oh ini emang kayaknya Tuhan memang naruh aku di sini,’ sudah ditakdirkan gitu mungkin ya,” kata Raka dalam konferensi pers film ‘Nobody Loves Kay’ di Senayan City, Jakarta, Kamis, 28 Mei 2026.

Menurutnya, bagian paling menguras emosi dalam film tersebut berasal dari cerita mengenai hubungan persahabatan antar karakter utama film. Ia mengaku kisah tersebut terasa dekat dengan pengalaman pribadinya bersama teman-teman lama ketika masih tinggal di Surabaya.

Raka menjelaskan pengalaman menggarap film panjang mengajarkannya mengenai pentingnya daya tahan selama keseluruhan proses produksi berlangsung bersama kru. Ia bersyukur bertemu pemain dan kru yang membuat suasana syuting berjalan santai tanpa ketegangan berlebihan selama produksi berlangsung.

Ia mengatakan pendekatan persahabatan sengaja diterapkan kepada para pemain selama proses reading dan pengembangan karakter dilakukan bersama-sama. Menurutnya, pendekatan tersebut dilakukan agar seluruh pemain dapat membangun kedekatan emosional yang terasa alami dalam film.

“Karena memang aku harus memposisikan diri sebagai sahabat di sini, bukan sebagai sutradara, karena film ini tentang persahabatan gitu. Dan itu treatment-ku agar mereka bertiga bisa bisa bisa bersatu gitu, kita bisa bersatu, kita semua bisa bisa berteman,” ucapnya.

Sementara itu, penulis skenario Johanna Wattimena menjelaskan proses riset dilakukan melalui diskusi bersama keluarga tenaga kerja Indonesia (TKI) dari berbagai daerah. Ia mengatakan tim produksi juga mendatangi Filipina untuk memahami kehidupan keluarga dan lingkungan tempat cerita berkembang.

Johanna menyebut pengembangan cerita turut melibatkan tim development serta seorang gamer guna memahami dunia permainan kompetitif secara mendalam. Menurutnya, tim produksi mempelajari dinamika kerja sama pemain Mobile Legends untuk diterjemahkan menjadi cerita film menarik.

“Karena ini Mobile Legends, cara main game-nya kan satu tim harus kerja sama, bareng-bareng tuh, beda sama first-person shooter game. Jadinya kita melihat itu gimana caranya translate ke cerita film seperti ini yang enggak cuma tentang Kay,” ujar Johanna.

Ia mengatakan Ia sengaja menulis film tersebut tidak hanya berfokus pada karakter Kay, tetapi juga perjalanan tokoh lain dalam cerita. Johanna menambahkan proses pengembangan skenario berlangsung selama beberapa bulan bersama sutradara dan tim produksi terkait.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....