Rani Jambak Padukan Sulam Tradisional dan Teknologi Audio

  • 17 Mei 2026 21:40 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Rani Jambak Padukan Sulam Tradisional dan Teknologi Audio
  • Sulam Tradisional dan Teknologi Audio

RRI.CO.ID, Jakarta — Seniman asal Sumatra Barat, Rani Jambak, memadukan sulam tradisional Minangkabau dengan teknologi audio dalam karya Mamasak Asa. Pertunjukan tersebut digelar di Galeri Nasional Indonesia, Sabtu 16 Mei 2026.

Karya itu menjadi bagian dari pameran Indonesian Women Artists (IWA) #4: On The Map. Pameran menghadirkan praktik seni perempuan lintas generasi di Indonesia.

Dalam pertunjukannya, Rani menggunakan bingkai sulam tradisional Minangkabau atau pamedangan. Aktivitas menyulam diubah menjadi sumber bunyi elektronik.

Setiap tusukan jarum menghasilkan sinyal yang diproses menjadi komposisi audio. Bunyi tersebut berpadu dengan suara alam dan pembacaan naskah tradisional Minangkabau.

Rani menggunakan perangkat elektronik Touch Me dari Playtronica dalam proses kreatifnya. Teknologi itu memungkinkan tubuh manusia menjadi penghantar sinyal bunyi.

Menurut Rani, tradisi tidak harus dipandang sebagai sesuatu yang statis. Tradisi justru dapat berkembang dan berdialog dengan teknologi modern.

“Saya ingin menunjukkan bahwa tradisi sebenarnya memiliki frekuensi yang masih bisa kita dengarkan hari ini,” ujar Rani.

Aktivitas menyulam yang identik dengan kerja domestik perempuan dihadirkan sebagai medium artistik. Pengunjung bahkan diajak ikut menyulam dan menghasilkan bunyi dalam instalasi Pamedangan.

Karya tersebut juga terinspirasi dari sejarah perempuan Minangkabau. Salah satu tokoh yang menjadi rujukan adalah Rohana Kudus.

Rohana Kudus dikenal sebagai jurnalis perempuan pertama Indonesia. Ia mendirikan Rumah Kerajinan Amai Setia di Koto Gadang pada 1915.

Menurut Rani, Amai Setia menjadi simbol ruang belajar dan pemberdayaan perempuan Minangkabau. Sulam tidak hanya dipandang sebagai kerajinan, tetapi juga sarana pendidikan dan emansipasi.

Dalam pengembangan karya, Rani belajar langsung dari penyulam tradisional di Koto Tuo. Ia juga bekerja sama dengan penyulam generasi keempat, Essy Hariya.

Kolaborasi itu dilakukan untuk menjaga pengetahuan perempuan lintas generasi. Rani menilai tradisi menyulam memiliki nilai budaya yang penting untuk dipertahankan.

Pameran IWA #4 dikuratori Carla Bianpoen, Nyoman Vidhyasuri Utami, dan Bagus Purwoadi. Pameran menghadirkan karya perupa perempuan yang mengeksplorasi budaya, tubuh, teknologi, dan lingkungan.

Melalui Mamasak Asa, Rani menunjukkan bahwa tradisi dan teknologi dapat berjalan beriringan. Karya itu juga menjadi upaya menghadirkan kembali pengetahuan perempuan dalam seni kontemporer Indonesia.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....