Rani Jambak Hadirkan Pertunjukan “Mamasak Asa” di Galeri Nasional

  • 17 Mei 2026 21:25 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Rani Jambak Hadirkan Pertunjukan “Mamasak Asa” di Galeri Nasional
  • Rani Jambak Hadirkan Pertunjukan “Mamasak Asa”

RRI.CO.ID, Jakarta — Seniman bunyi asal Sumatra Barat, Rani Jambak, menghadirkan pertunjukan performans bertajuk Mamasak Asa di Galeri Nasional Indonesia, Sabtu (16/5/2026). Pertunjukan itu menjadi bagian dari pameran Indonesian Women Artists (IWA) #4: On The Map.

Suasana Ruang Pamer Gedung A Galeri Nasional berubah hening saat pertunjukan dimulai. Pengunjung mendengar bunyi gesekan jarum, tarikan benang, serta suara elektronik yang berpadu dengan pembacaan naskah tua Minangkabau.

Rani tampil di depan bingkai sulam tradisional Minangkabau atau pamedangan. Ia tidak memainkan alat musik konvensional, melainkan menyulam di atas kain khusus.

Setiap tusukan jarum menghasilkan bunyi elektronik yang diproses secara langsung. Suara tersebut berpadu dengan rekaman alam dan pembacaan Tambo Alam Minangkabau.

Sekitar seratus pengunjung menyaksikan pertunjukan tersebut. Banyak di antara mereka terlihat mengikuti pertunjukan dengan khidmat hingga akhir acara.

Karya Mamasak Asa merupakan pengembangan dari instalasi multimedia interaktif Pamedangan. Instalasi itu telah dipamerkan sejak 10 April hingga 30 Juni 2026 dalam ajang IWA #4.

Dalam karya tersebut, Rani menggabungkan sulam tradisional Minangkabau dengan teknologi bunyi. Ia juga memadukan unsur video dan partisipasi publik dalam satu ruang artistik.

Pameran IWA #4 diselenggarakan Yayasan Cemara Enam bersama Galeri Nasional Indonesia. Tema yang diangkat tahun ini adalah On The Map — Towards New Futures.

Sebanyak 12 perupa perempuan Indonesia terlibat dalam pameran tersebut. Mereka mengeksplorasi isu budaya, tubuh, teknologi, dan lingkungan melalui seni kontemporer.

Rani menjadikan Gunung Marapi sebagai pusat narasi dalam pertunjukannya. Gunung tersebut dianggap sebagai simbol penting dalam kebudayaan Minangkabau.

Ia menggunakan teknik sulam tradisional Suji Caia untuk membentuk motif gunung. Teknik itu dipadukan dengan kain tembaga anti-radiasi yang terhubung perangkat elektronik.

Menurut Rani, Gunung Marapi bukan sekadar bentang alam. Gunung itu menjadi bagian dari memori kolektif masyarakat Minangkabau.

“Ketika mendengar ledakan dan melihat abu vulkanik yang tinggi, saya merasa perlu meresponsnya melalui karya,” kata Rani. Ia mengaku pengalaman tinggal di kaki Gunung Marapi memengaruhi proses kreatifnya.

Kurator dan pengunjung menilai karya tersebut menghadirkan pengalaman artistik yang berbeda. Pertunjukan itu memadukan tradisi lokal dengan teknologi modern secara intim.

Melalui Mamasak Asa, Rani mengajak publik mendengar kembali hubungan manusia dengan alam dan sejarah budaya. Jarum, benang, dan bunyi digunakan sebagai medium untuk merawat ingatan kolektif.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....