Rani Jambak Suarakan Krisis Lingkungan Sumatra Lewat Musik

  • 17 Des 2025 11:48 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

KBRN, Jakarta: Musisi Rani Jambak menampilkan pertunjukan musik eksperimental di pusat kota Melbourne sebagai medium menyampaikan keprihatinan krisis lingkungan Sumatra. Ia membawa konteks bencana ekologis serta kehilangan nyawa ke ruang seni internasional melalui lapisan bunyi ritmis dan elektronik.

Pertunjukan bertajuk ‘Sounds from Sumatra in Melbourne’ memosisikan panggung seni sebagai ruang kesaksian kerusakan ekologis. Penampilan tersebut berlangsung dalam program Inter.Sonix 06 yang digagas organisasi seni nirlaba ‘Liquid Architecture’ di Naarm, Melbourne.

“Saya tidak datang membawa kegembiraan. Saya datang membawa kabar duka dari Sumatra,” ujarnya di atas panggung, di Melbourne, Jumat (12/12/2025).

Liquid Architecture berdiri sejak 1999 dan dikenal sebagai platform seni eksperimental yang menempatkan suara sebagai tindakan kritis. Organisasi ini konsisten membuka dialog Australia dengan Global South melalui praktik artistik bersinggungan isu sosial politik.

Keterlibatan Rani merupakan bagian seri kuratorial Inter.Sonix yang menyoroti praktik sonik kontemporer Asia Tenggara. Program tersebut sebelumnya menghadirkan sejumlah seniman Indonesia lintas generasi dan pendekatan artistik.

“Inter.Sonix memberi saya ruang untuk bicara jujur. Disini, suara tidak harus netral, ia boleh sedih, marah, dan berpihak,” ucapnya.

Agenda Rani di Melbourne terbagi dalam diskusi publik dan pertunjukan sebagai bagian kunjungan artistik internasional. Ia terlibat dalam forum ‘Li( )stening Exchange: Sonic Heritage’ yang membahas perjalanan serta latar filosofis kekaryaan.

Rani dulu menempuh studi magisternya di Macquarie University, Sydney. Pengalaman akademik tersebut menjadikan Australia salah satu titik krusial dalam perkembangan praktik keseniannya.

Dalam diskusi, Rani memperkenalkan Kincia Aia, instrumen bunyi terinspirasi kincir air tradisional Minangkabau. Instrumen ini diposisikan sebagai arsip pengetahuan relasi manusia, alam, serta teknologi lokal.

Rani membawa lanskap sonik Sumatra ke dialog ritmis musik elektronik lintas geografi. Melalui pementasan, Rani menyoroti tragedi ekologis Sumatra terkait konflik Batang Toru dan bencana akhir 2025.

Dua peristiwa tersebut memperkuat peringatan tekanan ekologis ekstrem yang belum tertangani secara tuntas. “Kalau hutan tidak lagi punya suara, biarlah musik yang berbicara,” katanya.

“Dengan berbagai cara dan beragam media, dunia harus tahu. Bahwa Sumatra sedang memanggil dan nafasnya semakin pendek,” ujarnya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....