Majukan Seni Rupa Nasional, Tujuh Seniman Indonesia Ramaikan Venice Biennale 2026
- 09 Mei 2026 12:58 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Kementerian Kebudayaan menghadirkan Paviliun Indonesia di Venice Biennale 2026 sebagai bagian dari diplomasi budaya Indonesia di panggung dunia.
- Menteri Kebudayaan Fadli Zon menegaskan budaya Indonesia menjadi fondasi masa depan sekaligus kekuatan untuk membangun percakapan global melalui seni.
- Kepala Kurator Galeri Nasional Indonesia, Aminudin TH Siregar menyebut proyek “Printing the Unprinted” menghadirkan tujuh seniman Indonesia lintas generasi dengan karya seni grafis kontemporer.
RRI.CO.ID, Jakarta - Kementerian Kebudayaan (Kemenbud) menghadirkan Paviliun Indonesia dalam Pameran Seni Internasional ke-61 Venice Biennale 2026. Kehadiran ini menjadi bagian dari upaya diplomasi kebudayaan Indonesia untuk memperkuat posisi seni rupa Indonesia dipanggung internasional.
Menteri Kebudayaan (Menbud), Fadli Zon mengatakan bahwa kehadiran Indonesia dalam Venice Biennale menjadi momentum penting. Hal ini dikarenakan momentum tersebut merupakan partisipasi pertama di bawah Kementerian Kebudayaan.
"Kami meyakini bahwa budaya bukan sekadar warisan, tetapi juga fondasi bagi masa depan. Indonesia hadir bukan hanya untuk memperkenalkan kebudayaan kepada dunia, tetapi juga untuk ikut membentuk percakapan global melalui seni," ucapnya dalam keterangan pers yang diterima RRI, Sabtu, 9 Mei 2026.
Ia juga menegaskan bahwa Indonesia merupakan sebuah peradaban megadiversitas. Yaitu dengan lebih dari 17.000 pulau dan 1.340 kelompok etnis, dan 718 bahasa daerah.
Kekayaan budaya tersebut, kata dia, dibentuk oleh sejarah panjang pertukaran maritim, tradisi spiritual, dan inovasi artistik. Adapun warisan hidup yang terus berkembang hingga hariini.
"Indonesia memiliki salah satu ekosistem budaya paling dinamis di dunia. Bahkan warisan prasejarah Indonesia menunjukkan bahwa kepulauan ini telah lama menjadi salah satu pusat kreativitas tertua umat manusia," ucapnya.
Lebih lanjut, ia menilai bahwa Indonesia memiliki potensi untuk menjadi salah satu pusat kebudayaan dunia. Yaitu tempat tradisi, imajinasi, dan masa depan bertemu.
Semangat tersebut tercermin dalam tema 'Printing the Unprinted' yang merupakan perayaan atas kekuatan imajinasi yang melampaui batas-batas. "Melalui karya-karya yang ditampilkan di paviliun, para seniman Indonesia menghadirkan narasi-narasi imajinatif yang mengisi ruang-ruang yang belum tercatat," ujarnya, menjelaskan.
Sementara itu, Kepala Kurator Galeri Nasional, Aminudin TH Siregar mengatakan bahwa proyek ini mempertemukan tujuh Seniman Indonesia lintas generasi. Diantaranya Agus Suwage, Syarizal Pahlevi, Nurdian Ichsan, R.E. Hartanto, Theresia Agustina Sitompul, Mariam Sofrina, dan Rusyan Yasin.
Melalui beragam pendekatan artistik, 'Printing the Unprinted' menghadirkan dialog tentang ingatan, dan jejak. Serta kemungkinan-kemungkinan baru dalam praktik seni grafis kontemporer Indonesia di panggung dunia.
"Gagasannya adalah memperlihatkan beberapa karya grafis yang terkait dengan Indonesia di masa lalu. Termasuk buku-buku tua, litografi, dan berbagai materi visual lain yang dapat memberikan gambaran tentang perkembangan seni rupa Indonesia," ucapnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....