Pengamat Sebut Penggemar Musik Metal di Indonesia Terlalu Banyak Maunya
- 24 Apr 2026 12:00 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Pengamat menilai penikmat musik metal di Indonesia cenderung memiliki ekspektasi tinggi dan sulit dipuaskan, terutama terkait harga tiket dan line-up Hammersonic Festival 2026.
- Perubahan konsep festival serta variasi genre dinilai wajar karena penyesuaian bisnis dan penghapusan klaim sebagai festival metal murni.
- Kebijakan refund 100 persen dipicu pembatalan line-up akibat situasi global, meski disayangkan karena sebagian penonton dinilai terlalu berfokus pada band favorit.
RRI.CO.ID, Jakarta - Pengamat Musik Ekstrem Indonesia, Dickie menilai sebagian penikmat musik metal di Indonesia cenderung memiliki ekspektasi tinggi. Terutama dalam menyikapi penyelenggaraan konser musik, Hammersonic Festival 2026.
Menurutnya, perubahan konsep festival yang terjadi dalam waktu singkat kerap memicu keluhan dari penonton. Ia mencontohkan peralihan konsep Hammersonic, mulai dari harga tiket yang terjangkau hingga menjadi festival privat juga menjadi berbagai reaksi.
"Ketika harga mahal, protes, saat harga murah, juga protes. Diberikan line-up deathcore, minta hardcore, saat sudah dipenuhi, bergeser lagi meminta black metal," ujarnya dalam akun Instagram pribadinya, Kamis, 23 April 2026.
Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan bahwa sebagian penonton lebih berfokus pada preferensi pribadi dibandingkan memahami konsep festival. Ia menegaskan bahwa festival musik bukan sekadar mengikuti 'playlist' individu, melainkan harus mengakomodasi kepentingan banyak pihak.
Ia juga menyoroti banyaknya permintaan terkait line-up, mulai dari genre hingga nama band tertentu. Namun, ketika permintaan tersebut dipenuhi, masih muncul ketidakpuasan karena dianggap tidak sesuai ekspektasi.
Terkait kritik bahwa line-up tidak lagi didominasi musik metal seperti sebelumnya, ia menilai hal itu wajar. Menurutnya, penyelenggara telah menghapus klaim sebagai festival metal murni, sehingga variasi genre menjadi bagian dari penyesuaian konsep.
"Memang Hammersonic tagline festival metalnya masih ada? kan sudah tidak ada. Mereka (promotor) sudah menghilangkan, artinya festival tersebut sudah bukan festival metal lagi," ucapnya.
Selain itu, ia mengingatkan, faktor ekonomi juga berpengaruh besar. Nilai tukar rupiah yang relatif lemah membuat biaya mendatangkan musisi internasional menjadi lebih tinggi.
"Penyelenggaraan festival ini juga bagian dari bisnis, bukan sekadar layanan sosial. Banyak aspek yang harus dipertimbangkan," katanya, menegaskan.
Ia juga menyayangkan adanya penonton yang meminta pengembalian dana penuh hanya karena band favoritnya batal tampil. Menurutnya, festival musik seharusnya dinikmati sebagai keseluruhan pengalaman, bukan hanya berfokus pada satu penampil.
Sementara itu, kritikus Musik Ekstrem, Ghulam Tufail membeberkan, alasan penyebab pihak promotor Hammersonic Festival 2026 mengadakan pengembalian dana (refund) seratus persen. Menurutnya, kebijakan tersebut dipicu oleh tuntutan sejumlah penggemar usai pembatalan beberapa line-up akibat situasi geopolitik global.
"Informasi ini mendadak sekali, banyak penggemar yang sudah menyewa penginapan dan membayar perjalanan ke Jakarta. Mudah-mudahan masih ada kesempatan untuk menonton," ujarnya, menjelaskan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....