'Ghost in the Cell', Perpaduan Horor-Komedi Joko Anwar Angkat Isu Sosial Indonesia
- 12 Apr 2026 11:50 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Film ke-12 Joko Anwar, 'Ghost in the Cell' menggabungkan horor, komedi, dan aksi dengan pesan reflektif tentang kondisi Indonesia.
- Film ini berhasil mendapat sambutan internasional, tayang perdana di Berlinale 2026 dan mendapatkan hak edar dibeli di 86 negara.
- Mengangkat isu korupsi dan sistem yang bermasalah, sekaligus menekankan harapan dan peran masyarakat untuk perubahan.
RRI.CO.ID Jakarta -Film terbaru karya sutradara Joko Anwar, Ghost in the Cell, siap tayang di bioskop mulai 16 April 2026. Film ini menjadi karya ke-12 Joko bersama Come and See Pictures, menawarkan pengalaman sinematik baru dengan perpaduan horor-komedi.
Sejak awal penayangannya, film ini mendapat sambutan positif dari publik internasional. Ghost in the Cell bahkan sukses mencuri perhatian saat world premiere di Berlinale 2026, serta telah dibeli hak tayangnya di 86 negara.
Antusiasme juga terlihat di dalam negeri, saat film ini lebih dulu diputar di 16 kota di Indonesia. Seluruh tiket pemutaran tersebut dilaporkan habis terjual, menunjukkan tingginya minat penonton.
Joko Anwar dikenal sebagai sineas yang piawai menggabungkan berbagai genre dalam satu karya. Dalam film ini, ia memadukan unsur komedi, aksi, dan horor, sekaligus mengangkat isu-isu yang relevan dengan kondisi Indonesia saat ini.
Beberapa tema yang diangkat meliputi persoalan lingkungan, agama, hingga politik. Joko menyebut, pendekatan absurd dalam film ini merupakan refleksi dari situasi Indonesia yang dinilainya juga penuh kejanggalan.
“Karena situasi Indonesia sudah terlalu absurd, jadi kalau mau membuat film tentang Indonesia juga harus bisa menangkap kesan ini. Misinya supaya penonton bisa tertawa, tapi lalu sadar bahwa kita sedang melihat diri kita sendiri,” ujar Joko dalam keterangan tertulis, dikutip Sabtu 11 April 2026.
Melalui film ini, Joko juga ingin menegaskan bahwa harapan masih tetap ada di tengah sistem yang dianggap kacau. Ia percaya masih ada masyarakat yang jujur dan berani bersuara demi perubahan.
“Saya memilih untuk percaya, harapan itu masih ada. Kalau tidak ada, tidak ada lagi kekuatan untuk bangun setiap pagi,” katanya.
Semangat harapan tersebut juga menjadi benang merah dalam cerita film. Dikisahkan, para napi dan sipir akhirnya bekerja sama untuk menghadapi ‘hantu’ yang sebenarnya.
Film ini turut menyoroti isu korupsi dan ketimpangan dalam sistem hukum. Diperlihatkan bagaimana seorang koruptor tetap memiliki privilese meski sedang menjalani hukuman.
Produser Tia Hasibuan menyebut, meski ceritanya sangat lekat dengan konteks Indonesia, tema yang diangkat bersifat universal. Ia menilai isu sistem yang korup dan harapan akan perubahan relevan dengan berbagai negara.
Ghost in the Cell dibintangi deretan aktor papan atas Indonesia serta talenta Asia Tenggara. Beberapa di antaranya adalah Abimana Aryasatya, Bront Palarae, Tora Sudiro, hingga Rio Dewanto.
Abimana Aryasatya yang memerankan Anggoro menjelaskan, karakter yang ia perankan memiliki keterikatan kuat dengan keluarga. Bahkan di dalam penjara, tokoh tersebut membentuk ‘keluarga’ baru pilihannya.
Ia juga menyoroti kompleksitas adegan aksi dalam film ini. Salah satu adegan melibatkan ratusan pemain dan direkam dengan teknik long take, sehingga membutuhkan koordinasi dan pemahaman tempo yang matang.
Dengan kombinasi cerita yang kuat, isu yang relevan, serta jajaran pemain yang solid, Ghost in the Cell diharapkan menjadi tontonan yang tidak hanya menghibur, tetapi juga menggugah kesadaran penonton.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....