Tembus Berlin 2026, Humor Lokal di 'Ghost in the Cell' Tuai Respons Positif
- 09 Apr 2026 19:21 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Joko Anwar sempat khawatir humor khas Indonesia dalam film Ghost in the Cell tidak bisa diterima penonton global saat tayang di Berlinale 2026.
- Kekhawatiran itu terjawab setelah penonton internasional justru menikmati film tersebut, dengan tawa yang konsisten sepanjang pemutaran.
- Joko Anwar menyimpulkan bahwa karya yang autentik secara Indonesia justru memiliki daya tarik yang lebih kuat bagi pasar global.
RRI.CO.ID, Jakarta - Sutradara Joko Anwar membawa warna humor dan satire khas Indonesia ke panggung global lewat film Ghost in the Cell. Film ini sebelumnya telah menjalani pemutaran perdana dunia di Berlin International Film Festival atau Berlinale 2026.
Dalam pemutaran tersebut, Joko hadir bersama produser Tia Hasibuan serta dua pemainnya, Abimana Aryasatya dan Endy Arfian. Ia mengaku sempat merasa khawatir dengan respons penonton internasional terhadap filmnya.
Menurut Joko, kekhawatiran itu muncul karena banyak unsur humor dalam film yang sangat khas Indonesia. Ia takut lelucon dan satire yang dihadirkan tidak dapat dipahami oleh penonton global.
“Kita waktu itu sangat khawatir banget, karena jokenya kan Indonesia banget ya. Kita berpikir, gimana kalau dibawa ke Berlin dan tidak diterima, takut kena imbas ke Indonesia, ujarnya dalam press conference film Ghost in the Cell di XXI Epicentrum, Jakarta, Kamis 9 April 2026.
Rasa tegang bahkan sudah dirasakan sejak sebelum pemutaran. “Bahkan ketika kita melihat ada poster besar di pinggir jalan, kita nggak bisa kayak ih keren banget ada film kita karena deg-degan banget,” katanya menambahkan.
Hal serupa juga dirasakan oleh Abimana Aryasatya pemeran Anggoro. Ia sempat mempertanyakan apakah materi dalam film tersebut akan terasa relevan bagi penonton dari berbagai latar belakang budaya.
“Apalagi setelah melihat yang datang, lebih takut lagi saya. Karena mix of culture, mix of age. Ada ibu-ibu yang 80-90 tahun dengan suaminya, ada anak-anak remaja, ada dari Meksiko, ada dari Perancis, wah ini random banget ya,” kata Abimana.
Namun, kekhawatiran itu perlahan terjawab saat film mulai diputar. Abimana menilai Berlinale justru menjadi tempat yang tepat untuk menguji respons pasar global terhadap film tersebut.
“Tapi sebetulnya menjadi tempat yang cocok untuk test film, test pasar pertama. Terus ternyata pas mereka menonton filmnya bisa tersampaikan. Ternyata bisa beda-beda pengaruhnya ke orang-orang ini,” ujarnya.
Hasilnya di luar dugaan, penonton ternyata bisa menerima bahkan menikmati humor yang disajikan. Joko mengungkapkan bahwa sejumlah dialog yang dianggap biasa saja di Indonesia justru memicu tawa besar di sana.
Tawa terdengar sepanjang pemutaran, termasuk pada bagian-bagian yang tidak terlalu dianggap lucu oleh penonton Indonesia. “Pecahnya itu dari mulai awal sampai akhir itu ketawa terus, bahkan yang di Indonesia kita anggap gak begitu lucu ya,” kata Joko Anwar.
Abimana menambahkan, kekuatan film ini terletak pada perpaduan berbagai gaya komedi. Selain humor khas Indonesia dan Asia, terdapat juga unsur komedi sarkastik yang lebih mudah diterima oleh penonton internasional.
“Saat pesan sarkas disampaikan, kena banget ke mereka ternyata. Menurut saya tidak jadi masalah saat negara lain memiliki keresahan yang sama,” ucapnya.
Joko pun menyimpulkan bahwa pengalaman di Berlinale semakin menguatkan keyakinannya soal pentingnya keaslian dalam berkarya. Ia menilai, cerita yang autentik justru memiliki daya jangkau yang lebih luas.
“Kalau kita bikin film yang authentically Indonesia dengan masalah kita, dengan cara berpikir yang kita punya, itu akan menjadi lebih universal. Akan lebih menarik buat global, Karena mereka melihat masalah yang sama,” katanya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....