Mengulik Tiga Karakter Film Na Willa yang Soroti Isu-isu Sosial

  • 26 Mar 2026 10:46 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Film Na Willa menghadirkan kisah anak dengan latar 1960-an, mengangkat sudut pandang polos namun kritis melalui karakter utama Na Willa dalam kehidupan sehari-hari di Surabaya.
  • Mengusung isu sosial yang relevan, seperti rasisme (melalui Na Willa), disabilitas anak (tokoh Dul), dan pernikahan dini (tokoh Martini/Mbak Tin).
  • Dikemas sebagai film keluarga yang reflektif, cerita ringan dan hangat tetap menyimpan kritik sosial mendalam tentang realitas yang dialami anak-anak sejak dulu hingga kini.

RRI.CO.ID, Jakarta - Usai melebarkan sayap film Jumbo pada Lebaran tahun lalu. Sutradara Ryan Adriandhy kembali bersama sebuah produksi film adaptasi berjudul Na Willa.

Film ini merupakan adaptasi dari buku berjudul sama karya Reda Gaudiamo. Di bawah naungan Visinema Studio, Ryan Adriandhy kembali menghidupkan karakter dan dunia anak-anak yang penuh keajaiban.

Cerita Na Willa berangkat dari keseharian seorang anak perempuan bernama Na Willa (Luisa Adreena). Ia tinggal di Krembangan, Surabaya, pada tahun 1960-an.

Dia merupakan anak perempuan semata wayang dari pasangan Marie (Irma Rihi) dan Paul (Junior Liem). Atau biasa dipanggil oleh Willa sebagai Mak dan Pak.

Sebagai anak-anak, tentunya kepala si kecil Na Willa dipenuhi rasa ingin tahu yang cukup tinggi. Willa, serta teman-temannya, memiliki sudut pandang lain tentang dunia di sekitarnya.

Sehingga kadang pertanyaan yang muncul bisa di luar ekspektasi. Meskipun begitu, Mak yang sehari-hari bersama Willa, selalu menanggapi isi kepala sang anak dengan sabar.

Di balik jalan ceritanya yang menyenangkan, film ini juga menyampaikan isu-isu sosial lewat representasi para tokohnya. Lantas, siapa tokoh representasi film Na Willa yang menyampaikan isu-isu tersebut sebagai sebuah film keluarga?

  • 1. Na Willa, Representasi Rasisme

Sejak tahun 1960-an hingga hari ini, sentimen terhadap masyarakat Tionghoa masih tinggi. Dalam film ini, Na Willa merupakan salah satu anak keturunan Tionghoa-Ambon yang mendapatkan perlakuan rasisme dari teman sekolahnya.

Sebagai siswa baru di sekolah, Na Willa sudah menerima banyak perlakuan tidak enak. Mulai dari guru kelas menyebutnya pembohong, dan teman semeja yang mengejeknya.

Adapun teman-teman lain meneriaki kata-kata kasar sambil menjambak Willa. Tentunya hal ini membuat Willa marah sekaligus sedih hingga dia mengadu kepada Mak.

Meskipun adegan tersebut dibungkus dengan kekacauan ala siswa taman kanank-kanak. Tetapi adegan tersebut menjadi penanda bahwa isu rasisme sudah berakar sejak dahulu.

Isu rasisme tidak hanya menargetkan orang dewasa yang kehidupannya dibatasi dan didiskriminasi, tetapi juga menargetkan anak-anak. Panggilan kasar kepada Willa sebagai orang Tionghoa merupakan kritik atas kegagalan orang dewasa dalam membentuk karakter anak.

  • 2. Dul, Representasi Disabilitas Anak

Dul (Azamy Syauqi) merupakan salah satu dari tiga teman dekat Na Willa di Krembangan. Dia memiliki karakter yang bebas, senang tantangan, dan bermimpi untuk bisa mengejar kereta dengan kemampuan berlarinya.

Dalam film Na Willa, Dul selalu mengajak temannya bermain ke stasiun demi melampaui kecepatan kereta. Namun, mereka menolak karena masalah keamanan.

Suatu hari, Dul mengajak Willa untuk melihat kereta lewat jalan tikus yang ditemukannya. Dul meminta Willa membantunya membaca tanda-tanda karena Willa sudah pintar membaca.

Sayangnya, Mak yang mendengar ajakan tersebut berbohong pada Dul jika Pak akan pulang. Sehingga Willa tidak bisa ikut bersamanya.

Alhasil, Dul memutuskan untuk pergi sendiri melalui jalan tikus tersebut. Beberapa menit kemudian, keadaan Krembangan menjadi heboh karena seorang anak mengalami kecelakaan kereta.

Rupanya, itu adalah Dul yang baru saja pergi ke sana sendirian. Kecelakaan tersebut membuat Dul harus kehilangan fungsi kakinya, bahkan harus diganti dengan kaki palsu yang dibuat dari kayu.

  • 3. Martini, Representasi Pernikahan Dini

Salah satu teman dekat Willa selain Dul, yaitu Farida (Freya Mikhayla) memiliki saudara yang cukup banyak di rumahnya. Salah satunya adalah Martini alias Mbak Tin (Nayla Purnama) yang dibanggakan oleh Farida.

Dalam salah satu adegan film Na Willa, Farida mengajak Willa untuk pergi ke rumahnya. Di sana, banyak orang sedang bahu-membahu memasak berbagai macam hidangan.

Farida mengajak Willa makan kue cucur di kamar Mbak Tin. Dan memberitahu Willa jika sang kakak akan melangsungkan pernikahan.

Mendengar Farida dan Willa membicarakan pernikahannya, Mbak Tin langsung menangis tersedu-sedu. Namun, Farida menganggapnya wajar karena orang-orang yang akan menikah memang menangis sebelum hari pernikahan.

Potret ketidakbahagiaan Mbak Tin dalam film Na Willa tidak sekadar adegan lucu dan kepolosan Farida dan Willa. Tokoh Mbak Tin yang masih remaja merepresentasikan fenomena pernikahan dini yang tidak bisa ditolaknya dan dianggap fenomena lazim.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....