Minimnya Hiburan Anak di Bioskop Jadi Inspirasi Lahirnya Film 'Pelangi di Mars'
- 15 Mar 2026 01:34 WIB
- Pusat Pemberitaan
RRI.CO.ID, Jakarta - Sutradara film 'Pelangi di Mars' Upie Guava membahas minimnya tontonan anak yang berkualitas di Indonesia. Ia menyampaikan kegelisahan terhadap kekurangan hiburan bagi anak yang mampu memicu imajinasi serta mimpi besar.
Upie mengatakan produksi film ini memerlukan pengembangan teknologi serta infrastruktur tim sejak awal tahun 2020. Upie mengawali proses pembuatan dengan membangun pabrik produksi sendiri karena teknologi tersebut masih tergolong baru.
“Untuk bikin film aja harus ngebangun infrastrukturnya dulu, harus belajar teknologi dulu. Kita bangun pabriknya, kita belajar dari nol, ngebentuk tim di mana teknologi ini tuh gak ada sekolahnya,” ujarnya dalam press screening dan konferensi pers film ‘Pelangi di Mars’ di Epicentrum XXI, Jakarta Selatan, Sabtu, 14 Maret 2026.
Upie menjelaskan anggota tim mempelajari teknologi secara mandiri sebab belum tersedia lembaga pendidikan khusus di Indonesia. Anggota tim tersebut memanfaatkan media internet dan mencari referensi pelaku industri serupa dari wilayah luar negeri.
Pengalaman berharga ini menjadikan pihak tim produksi sebagai salah satu pelopor yang mengadopsi teknologi Virtual Production (VP). Langkah strategis tersebut bertujuan agar industri kreatif dalam negeri tidak tertinggal perkembangan teknologi produksi skala global.
“Sembilan puluh sembilan persen tim yang tergabung sama ‘Pelangi di Mars’ belajar dari Youtube, bener-bener tidak ada edukasinya. Kita berkomunikasi dengan pelaku industri serupa di luar negeri untuk dapat knowledge dan lain-lain, bisa dibilang kita mungkin juga salah satu early adopters dari teknologi ini,” katanya.
Upie berniat memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat lewat karya film yang mengandung nilai literasi fiksi ilmiah. Kesuksesan karya ini diharapkan menjadi langkah awal untuk pengembangan semesta cerita film tersebut pada masa mendatang.
Produser film 'Pelangi di Mars' Dendi Reynando mengatakan ide membuat karya keluarga ini muncul tahun 2020. Perjalanan panjang produksi film bergenre fiksi ilmiah ini melibatkan proses belajar mendalam mengenai teknologi digital virtual.
“Ini perjalanan panjang buat karir saya juga sama Upie, saya kenal Upie udah belasan tahun lalu. Dari tahun 2020, saya punya kegelisahan bahwa Kids and Family movie itu under supply (kekurangan pasokan) di Indonesia,” ujarnya.
Dendi menyadari tontonan anak sangat terbatas ketika ia mengajak anaknya menonton di gedung bioskop wilayah Jakarta. Ia melihat karakter mainan yang tersedia di toko retail umumnya berasal dari Intellectual Property (IP) luar negeri.
Upie dan Dendi kemudian menyatukan visi untuk menghadirkan hiburan anak berkualitas melalui pengadopsian sistem virtual produksi. Keduanya sepakat teknologi produksi virtual ini sudah mulai banyak digunakan secara luas oleh industri perfilman skala global.
Teknologi tersebut baru dipahami oleh tim tersebut setelah menyaksikan kesuksesan dari serial luar berjudul The Mandalorian. Sistem canggih itu belum tersedia di Indonesia sehingga tim internal wajib melakukan studi teknis secara menyeluruh.
Proyek film bertajuk 'Pelangi di Mars' akhirnya merangkul banyak talenta kreatif melalui penggabungan unsur animasi dan laga. Karya seni ini diharapkan dapat menyediakan ruang tontonan aman bagi keluarga saat berkunjung ke bioskop Indonesia.
“Harapannya mudah-mudahan film ini bisa jadi seperti niat kita di awal, jadi tontonan keluarga Indonesia. Karena anak berhak untuk mendapat ruang aman bagi mereka di cinema untuk film mereka, itu yang kita mau coba sampaikan lewat film ini,” ucapnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....