Ekraf Perkuat Hilir Perfilman Nasional agar Berdaya Saing Global

  • 27 Jan 2026 21:16 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

RRI.CO.ID, Jakarta - Kementerian Ekonomi Kreatif (Ekraf) menegaskan komitmennya memperkuat sektor hilir perfilman nasional, khususnya pada aspek promosi, distribusi, dan pemasaran. Hal ini guna mendorong karya film Indonesia agar semakin berkualitas dan mampu bersaing di pasar global.

“Bahwa kami membantu promosi gitu karena Ekraf ini lebih ke hilir gitu ya fokusnya. Jadi dari karya yang ada menjadi karya berkualitas dan berdaya saing global,” ujar Deputi Bidang Kreativitas Media Kementerian Ekonomi Kreatif Agustini Rahayu usai mengikuti Rapat Panja bersama Komisi VII DPR RI di Kompleks Parlemen, Jakarta Pusat, Selasa, 27 Januari 2026. 

Rahayu mengungkapkan Ekraf juga menyusun guideline dalam perihal syuting dengan mengkompilasi kebijakan dari berbagai kementerian terkait. Ia menilai persoalan utama selama ini adalah kurangnya kejelasan dan kelengkapan informasi perizinan.

Ia menyebut terdapat tujuh kementerian, lembaga, dan organisasi dengan kebijakan masing-masing terkait perfilman. Menurutnya, kebijakan tersebut kemudian dikompilasi menjadi satu pintu informasi yang terintegrasi.

Rahayu juga menilai tantangan terbesar perfilman nasional dari perspektif ekonomi kreatif adalah dalam hal distribusi dan pemasaran. Ia menegaskan fokus Panja selaras pada penguatan kreativitas dan distribusi film nasional.

“Kalau dari kacamata ekonomi kreatif yang tadi, yang saya sebutkan beberapa kali ya ini masalah distribusi. Terus kemudian pemasaran pastinya kalau udah distribusi pasti harus ada pemasarannya ya kan, terus dari situ investasi masuk,” ucapnya. 

Sementara itu, Wakil Ketua Komisi VII DPR RI Chusnunia Chalim menyoroti keterbatasan jumlah layar yang menjadi kendala utama distribusi film nasional. Ia menilai meskipun produksi film sudah banyak, persaingan tema dan selera penonton masih menjadi tantangan nyata.

“Kita ketemu dengan PH-PH itu mereka punya komitmen besar untuk memproduksi dengan kualitas yang diupayakan terjaga semaksimal mungkin. Tapi selera pasarnya memang larinya ke hantu-hantu, pocong-pocong, kuntilanak, apa segala itu lebih tinggi dibandingkan dengan yang lain,” katanya. 

Nunik menambahkan, sebagian besar penonton cenderung menyukai genre horor dibandingkan genre lain. Ia menyebut produser film tetap berkomitmen menjaga kualitas produksi meski selera pasar lebih condong ke genre populer.

Ia menekankan perlunya penambahan layar di berbagai kota untuk memaksimalkan jumlah penonton yang terus meningkat setiap tahunnya. Ia menyoroti perhatian khusus kepada Gen Z dan Gen Alpha, karena konsumsi mereka cenderung ke platform video daring.

“Tantangan atau kesempatannya itu kalau mau digarap sebenarnya masih layak apa enggak untuk dikejar. Jika kita memperhatikan selera Gen Z, Gen Alpha yang larinya ke video, Netflix dan sebagainya,” ujarnya. 

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....