Review Frankenstein (2025): Kisah Penciptaan Yang Berujung Tragis
- 24 Nov 2025 07:18 WIB
- Kendari
KBRN, Kendari: Sejak pertama kali muncul dalam novel klasik Mary Shelley tahun 1818, Frankenstein telah menjadi ikon horor dan filsafat yang terus menginspirasi generasi demi generasi. Kini, lebih dari dua abad kemudian, sutradara visioner Guillermo del Toro menghadirkan kembali kisah ilmuwan ambisius dan makhluk ciptaannya dalam adaptasi terbarunya yang penuh nuansa emosional dan ketegangan gothic.
Dengan pendekatan sinematik khasnya yang berakar kuat pada tema kemanusiaan, keluarga, dan kegelapan batin, Guillermo del Toro meramu ulang legenda Frankenstein dalam versi yang lebih intens, menyentuh, dan penuh nuansa dongeng gelap yang menghipnotis.
Film ini bukan sekadar remake dari versi klasik Universal tahun 1931 maupun interpretasi ulang lainnya, tetapi sebuah penghormatan sekaligus ekspansi dari mitos tragis yang terinspirasi dari novel Frankenstein; or, The Modern Prometheus karya Mary Shelley. Dengan durasi yang lebih panjang sekitar 150 menit (2 jam 30 menit) dan tambahan elemen cerita yang memperkaya mitologinya, Frankenstein (2025) menjadi proyek paling ambisius Guillermo del Toro hingga saat ini.
ALUR CERITAFilm ini dibagi menjadi tiga bagian utama, seperti buku, yang berfokus pada awal mula (Pendahuluan), kisah pencipta (Victor Frankenstein), dan kisah makhluk ciptaannya (The Creature).
Pendahuluan
Film dibuka di Utara Paling Jauh pada tahun 1857. Sebuah kapal ekspedisi prajurit Denmark menabrak lapisan es yang tebal, membuat kapal mereka terperangkap di daratan es.
Saat malam tiba, beberapa awak kapal menemukan tubuh seorang pria tergeletak tak sadarkan diri di tengah es. Pria tersebut ternyata sedang diburu oleh sesosok Makhluk besar yang misterius.
Para awak kapal segera mengevakuasi pria tersebut ke atas kapal untuk diselamatkan. Makhluk raksasa itu datang mendekat, dan para awak kapal berusaha menahannya dengan tembakan senapan. Peluru-peluru tidak mampu membunuhnya, tetapi Makhluk itu berhasil dicegat dan dijatuhkan kembali ke dalam es, menghilang ke kedalaman beku.
Pria yang diselamatkan itu siuman dan memperkenalkan dirinya kepada kapten kapal sebagai Victor Frankenstein (Oscar Isaac) sebagai orang yang menciptakan Makhluk Tersebut. Dari sinilah, Victor mulai menceritakan seluruh kisah ambisius yang membawanya ke ujung dunia tersebut.
Bagian 1 : Kisah Victor
Pada awal abad ke-19, Victor Frankenstein muda (Oscar Isaac) tumbuh di bawah bayang-bayang trauma keluarga.
Ibunya (Mia Goth) meninggal saat melahirkan adiknya, William (Felix Kammerer), dan ayahnya (Charles Dance) adalah figur otoriter yang keras, membuat Victor terdorong untuk menaklukkan kematian itu sendiri.
Dan di satu sisi ayah dari Victor lebih menyayangi William daripada Victor itu sendiri. Setelah kematian sang ayah, Victor dan William berpisah, William ke Wina, dan Victor fokus pada pendidikan ilmu pengetahuannya yaitu ketertarikannya dengan jenazah yang bisa dihidupkan di London.
Pada tahun 1855 di Sidang Pendisiplinan, Victor mempresentasikan penemuannya ke hadapan para ilmuwan, yaitu membuktikan bila mayat bisa dihidupkan kembali dengan aliran listrik dan battery, namun eksperimen itu sangat ditentang oleh para ilmuwan karena berlawanan dengan agama yaitu penciptaan Tuhan.
Namun di satu sisi, ada yang tertarik dengan hal itu, yaitu Baron Henrich Harlander (Christoph Waltz). Victor akhirnya bertemu Baron Henrich Harlander, seorang dermawan kaya raya yang diam-diam mengidap penyakit mematikan.
Henrich Harlander memberikan dukungan finansial dan sebuah menara tua untuk laboratorium Victor, dengan harapan rahasia bahwa Victor bisa memindahkan jiwanya ke tubuh baru.
Victor, dengan obsesinya, mengumpulkan bagian-bagian tubuh dari korban kriminal dan tentara Perang Krimea—sebuah detail historis yang menambahkan lapisan realisme abad ke-19.
Victor kemudian merakit jasad Makhluk dari bagian tubuh korban kriminal dan tentara Perang Krimea.
Di malam badai, Victor menyulut ciptaannya dengan arus listrik yang dahsyat. Namun, disatu sisi Baron Henrich meminta Victor juga untuk melakukan padanya agar penyakitnya hilang dan hidup abadi, namun Victor bersikeras tidak mau dikarenakan eksperimen ini hanya dilakukan pada mayat saja. 
Pada akhirnya Henrich terculut emosi, dan mengambil penarik petir yang akan dipasang oleh Victor diatas menara, dan terjadi perseteruan antara Henrich dan Victor, yang mana pada akhirnya Henrich berhasil dikalahkan oleh Victor dengan membuatnya terpeleset kedalam lubang yang akan menjadi jalur penghantaran petir dari menara, Victor kemudian berusaha untuk menariknya, namun apa daya seketika baju dari Henrich sobek dan membuatnya terlepas dari genggaman Victor dan terjatuh tewas ke laboratorium Victor.
Tidak berseling lama dari kejadian tewasnya Henrich, Victor masih tetap untuk melanjutkan eksperimennya untuk menciptakan makhluknya. Namun yang didapatkan adalah kegagalan, dimana makhluk itu belum memunculkan tanda-tanda kehidupan yang akhirnya membuat Victor kecewa. Dengan rasa kekecawan itu, Victor langsung bergegas kekamarnya untuk beristirahat dikarenakan sangat kelelahan.
Keesokan paginya, Victor terkejut melihat Makhluk itu tiba-tiba berdiri di hadapannya, menatapnya. Makhluk itu tidak menyerang, melainkan menirukan gerak-gerik Victor dengan polos.
Victor membuka tirai jendela, dan Makhluk itu terkejut dan takut akan cahaya, tetapi Victor dengan sabar mengajarinya untuk merasakan hangatnya matahari sebagai sumber energi. Victor, yang kini mulai mengagumi ciptaannya, mengajari Makhluk itu untuk berbicara, dan kata pertamanya adalah, "Victor."
Dalam upaya menahan dan mengontrol, Victor membawa Makhluk itu ke ruang bawah tanah dan merantainya. Meskipun dirantai, Makhluk itu menunjukkan kepolosan luar biasa, tingkahnya seperti anak berusia dua tahun yang perlahan belajar tentang lingkungan sekitarnya, seperti saat ia menyentuh dan bermain dengan genangan air di lantai.
Victor terus mengajarkan hal baru, namun ketika ia mencoba mencukur rambut Makhluk itu, Makhluk itu secara naluriah mengambil pisau cukur, menggenggamnya, dan melukai tangannya hingga berdarah. Namun di satu sisi, Victor kagum dan heran luka yang ada pada telapak Makhluk bisa regenerasi dengan cepat sehingga menutupi lukanya dengan cepat.
Tapi Victor tetap marah dan kecewa, sehingga Victor membawanya kembali ke ruang bawah tanah dan merantainya lagi, meneriakinya karena Makhluk itu hanya bisa mengucapkan "Victor."
Tidak lama kemudian, adik Victor, William Frankenstein (Felix Kammerer), dan calonnya, Elizabeth (Mia Goth), datang berkunjung. Victor mengajak William melihat catatan-catatannya, sementara Elizabeth diam-diam memasuki ruang bawah tanah. Ia terkejut namun kagum melihat sosok Makhluk itu.
Sejak saat itu, Elizabeth sering mengunjungi Makhluk itu di malam hari, mengajarinya dengan lembut dan penuh kasih. Setelah dari ruang bawah tanah, dan perdebatan kecil terjadi mengenai nasib Makhluk tersebut.
Setelah Elizabeth pergi, Victor dilanda emosi, turun ke bawah, dan menyiksa Makhluk itu dengan memukulnya menggunakan batang besi, membuat Makhluk itu menjerit kesakitan.
Esok paginya, Victor mengajak William ke kamar mayat dan memperlihatkan jasad Baron Henrich Harlander, yang tewas akibat jatuh dari penangkal petir.
Setelah itu, Victor menyuruh Elizabeth dan William untuk kembali ke kota, dan membakar bangunan itu dan seluruh laboratoriumnya untuk menghilangkan jejak jenazah dari Henrich, namun saat membakar bangunan tersebut, Victor malah meninggalkan Makhluk yang masih terantai di ruang bawah tanah.
Sambil berlari pergi, Victor mendengar jeritan sedih Makhluk itu berteriak-teriak memanggil namanya...'Victor', sempat dia mengabaikannya, namun setelah mendengar teriakan Makhluk tersebut, Victor langsung bergegas kembali untuk menyelamatkannya, namun sudah terlambat karena bangunan tersebut seketika meledak dan menghempaskan Victor, dan membuat Victor terluka parah—kehilangan kaki kanannya dalam ledakan. Inilah akhir dari cerita yang diungkapkan Victor kepada kapten.
Bagian 2 : The Creature
Inilah bagian kisah yang diceritakan oleh Makhluk itu sendiri, dimulai segera setelah ia berhasil selamat dari kebakaran Victor.
Sudut pandang kini beralih ke 'The Creature' (Jacob Elordi). Ia berhasil lolos dari api dan melarikan diri ke hutan. Di alam liar, ia belajar bertahan hidup.
Ia kemudian menemukan perlindungan di gubuk seorang kakek tua buta (David Bradley) dan cucunya.
Waktu demi waktu, Makhluk tersebut selalu belajar dengan melihat interaksi sang cucu dan kakek buta tersebut.
Bahkan Makhluk tersebut membantu keluarga dari kakek buta itu secara diam-diam, yang tentunya dia dianggap sebagai 'Roh Hutan' yang menjaga keluarga mereka.
Namun disuatu hari, keluarga dari sang kakek diserang oleh serigala yang memakan hewan-hewan ternaknya. Anak-anak dari sang kakek mencegah serigala tersebut dengan melepaskan peluru senapan, dan ini tentunya disaksikan lansgung oleh Makhluk, dimana dia mempelajari bahwa manusia mempunyai sifat perlawanan. Dan setelah kejadian itu, anak-anak dan cucu dari kakek tersebut, pergi untuk berdagang yang tentunya meninggalkan kakek seorang diri
Di malamnya, Makhluk memberanikan diri untuk bertemu kakek buta tersebut. Tanpa perlawanan apapun, justru kakek buta tersebut menyambut Makhluk itu yang dianggapnya sebagai 'Roh Hutan' dengan sangat senang.
Pada akhirnya, kakek buta tersebut mengajarkan apa arti kebaikan, kerendahan hati, dan tentunya membaca agar Makhluk itu dapat membaca, punya ilmu, dan tentunya berbicara dengan lancar, layaknya seorang kakek yang memberikan ilmu kepada cucunya, walau sang kakek itu buta.
Musim dingin tiba, sang kakek akhirnya mengajarinya tentang penciptaan kepada Makhluk sekaligus menceritakan kisahnya bagaimana dia sebelum menjadi buta. Disatu sisi , Makhluk juga menceritakan pada kakek buta itu mengenai asal usul dirinya, dan penciptanya yang sedikit samar-samar.
Untuk mengingat kembali ingatan itu, dia pergi ke bangunan lama tempat dimana dia diciptakan, perlahan-lahan dia mulai mengingat asal-usulnya dengan melihat buku anatomi tubuh, foto dirinya saat mulai diciptakan, dan melihat secarik surat dari Elizabeth kepada Victor yang tidak terbakar oleh api.
Dan setelah pulang dari bangunan itu, rumah sang kakek buta itu tiba-tiba didatangi oleh serigala dan menyerang sang kakek, dan akhirnya Makhluk itu segera berlari untuk melindunginya dari serangan serigala.
Setelah sang kakek terluka parah, dia akhirnya mengungkapkan dirinya bila dia adalah kumpulan dari mayat perang yang disambung satu per satu, namun sang kakek buta itu tidak masalah akan hal itu karena dia sudah menjadi temannya yang sangat dia sayang, ibarat sudah seperti cucunya.
Tidak lama kemudian setelah serangan serigala itu, anak-anak dari kakek buta itu datang, dan langsung melepaskan senapan ke mata Makhluk karena anak-anak sang kakek buta itu mengira diserang oleh Makhluk. Namun Makhluk itu tidak mati, tapi terluka parah dan kesakitan.
Akhirnya Makhluk itu melakukan perlawanan kepada salah satu anak sang kakek itu dengan keji karena menyerang dengan duluan ke Makhluk, hal ini sebagai bentuk untuk melindungi dirinya dari serangan.
Tapi Makhluk juga tidak menyerang dengan anak kakek yang lainnya, dia hanya langsung segera kabur dari rumah kakek buta itu untuk menghindari konflik dari anak-anak kakek buta itu. Tapi apa daya, anak-anak kakek itu tetap melepaskan peluru ke punggungnya yang mengakibatkan Makhluk itu tumbang.
Dimalam harinya setelah Makhluk sadar dari serangan sebelumnya yang dimana ini juga memperlihatkan dirinya yang regenerasi dari luka tembakan dengan cepat, dia akhirnya pergi ke malam pernikahan William dan Elizabeth.
Konflik kembali memuncak ketika Makhluk berhasil masuk ke kamar Victor dan bertemu dengannya. Makhluk itu menuntut Victor membuatkan pendamping untuknya, namun Victor menolak karena dia tidak mau menciptakan makhluk dari kematian lagi, karena dianggap mustahil makhluk yang sudah mati bisa mereproduksi sehingga melahirkan makhluk kematian yang lain, selain itu Victor juga menolak karena dia tidak mau lagi membuat makhluk yang cacat dan jahat seperti Makhluk itu.
Pada akhirnya, Makhluk itu dengan tersulut emosi langsung menyerang Victor karena keinginannya ditolak yang mana serangan ini terdengar sampai di kamar Elizabeth dan di ballroom yang juga terdengar oleh adiknya, William.
Dalam kekacauan yang terjadi Elizabeth langsung segera ke kamar Victor dan terkejut ketika melihat Makhluk itu. Namun sayang, Elizabeth tertembak saat mencoba melindungi Makhluk itu dan membuatnya kritis seketika, dikarenakan Victor melepaskan tembakan ke arah Makhluk itu.
William pun juga datang ke kamar Victor dan melihat Makhluk itu seolah menyerang Elizabeth dan Victor, dia juga segera menyerang dan menghentikan Makhluk itu dibantu dengan kakaknya, Victor. 
Namun, apa daya kekuatan Makhluk itu lebih besar dibandingakn mereka berdua, yang akhirnya membuat William terdorong dan kepalanya membentur tiang kamar Victor yang mengakibatkan dia terluka parah sehingga mengakibatkan dia kritis, dan dalam napas terakhirnya, ia menghina Victor dengan menyebutnya 'kaulah monsternya'.
Setelah Makhluk berhasil melumpuhkan mereka berdua, dia langsung membawa tubuh Elizabeth yang kritis dari mansion itu, yang tentunya disaksikan oleh tamu-tamu undangan dimalam pernikahan itu.
Setelah dari kekacauan di malam pernikahan Eliazabeth dan William, Makhluk itu membawa tubuh Elizabeth ke sebuah gua. Victor kemudian mengejarnya untuk membalaskan dendamnya dari apa kekacauan yang telah terjadi dalam satu malam tersebut, dia mempersiapkan dirinya dengan mengambil senapan dan segera mengakhiri hidup Makhluk itu.
Di gua ketika Elizabeth dan Makhluk itu bersama, Elizabeth yang sudah kritis memberikan suatu kalimat yang membuat Makhluk itu tersentuh sebelum menghembuskan nafas terakhirnya. Elizabeth mengatakan ke Makhluk itu bawha 'lebih baik seperti ini, mati...dengan matamu memandangku', dan akhirnya Elizabeth telah tiada.
Di paginya, sesampainya Victor ke gua persembunyian Makhluk itu, dia melihat tubuh Elizabeth yang sudah tidak bernyawa dan membuatnya sangat sedih. Seketika itu juga, Makhluk itu datang menyerang Victor.
Dengan perasaan yang sangat marah kepada Victor, Makhluk itu berkata 'kau memberiku hidup yang tidak kuinginkan, aku akan memberimu sama. Kau menganggap aku monster, kini aku akan membalas itu' sambil mematahkan hidung Victor. Disaat itu juga Makhluk itu berkata kepada Victor lagi bahwa dia akan menjadi tuannya dan akan memburunya untuk membunuhnya tanpa ada yang tersisa, hanya antara Victor dan Makhluk itu.
Akhirnya Makhluk itu pergi meninggalkan gua tersebut, dan dari sinilah awal permulaan perburuan Victor kepada Makhluk itu. Victor, kini semakin marah, dan mulai mengikuti kata-kata dari Makhluk itu untuk mengejar bahkan melacak jejaknya ke Kutub Utara, tentunya bertujuan untuk membalas dendam.
Mulai dari sini diperlihatkan bagaimana Victor bisa terjebak di tengah-tengah es yang membuatnya hampir mati kedinginan yang seperti di pendahuluan film.
Ketika Victor mendirikan tenda di tengah-tengah es pada malam harinya, Makhluk itu akhirnya datang menemui Victor kemudian menyeretnya keluar dari tendanya.
Victor pun sempat juga untuk melawannya dengan sebilah pisau, namun usaha itu sia-sia karena tubuh Makhluk itu yang kebal dan mudah regenerasi, justru pisau itu ditancapkan ke bahu Victor oleh Makhluk itu.
Bahkan Makhluk itu pun juga mengambil dinamit dari saku mantel Victor, lalu meminta Victor untuk menyalakan dinamit itu, dan disaat itu juga Makhluk itu menyuruh Victor untuk berlari sebelum dinamit itu meledak, karena dinamit itu akan meledak menghancurkan tubuhnya sedangkan Makhluk itu tentunya kebal juga dari ledakan.
Secara tidak langsung, bagian ini langsung melanjutkan setelah peristiwa yang ada pada pendahuluan film ketika Victor ditemukan oleh kru kapal ekspedisi Denmark di tengah-tengah es. Dimana di kapal ekspedisi kerajaan Denmark yang tersangkut es, Makhluk itu tiba-tiba menghadapi Victor. Namun, klimaksnya jauh dari pertarungan fisik.
Victor akhirnya menyesali semua kekejamannya. Dalam momen paling emosional film, ketika Victor mengenggam tangan dan mengusap pipi Makhluk itu, karena Victor anggap Makhluk itu sudah seperti ‘anaknya’ dan meminta agar ia hidup bebas.
Makhluk itu juga sudah sanggup untuk memaafkan dengan penuh rasa sayang kepada Victor yang sekarat sekaligus sudah ikhlas apa yang terjadi pada Victor, bukan itu saja. Tanpa pamrih lagi untuk pertama kalinya, Makhluk itu memanggilnya "ayah," sebelum merelakan sang pencipta wafat dengan di kapal itu.
Di momen ini juga kapten kapal tersebut menyadari bahwa Makhluk itu bukanlah sekedar monster, namun makhluk ciptaan yang seperti manusia pada umumnya, yang punya hati dan perasaan, seorang anak laki-laki yang kehilangan ayahnya.
Kemudian kapten kapal menyuruh awak kapalnya untuk tidak menyerang Makhluk itu, dan membiarkan Makhluk itu turun dari kapal dengan perasaan yang sangat sedih.
Setelah Makhluk itu turun dari kapal, dia segera mendorong kapal itu keluar dari es untuk bisa kembali ke atas laut, tentunya ini sebagai bentuk terima kasih kepada kapten yang sudah membolehkan dirinya untuk bertemu Victor, dan berterima kasih karena sudah tidak menyerangnya lagi sekaligus menunjukkan sisi kemanusiaan yang sudah dia tanamkan dalam dirinya.
Dan akhirnya, film ditutup dengan Makhluk yang menjauh dari kapal setelah mendorongnya keluar dari es, menatap matahari terbit dengan damai—sebuah simbol penebusan, penerimaan, harapan, dan perjalanan hidup yang baru.
ASPEK PLOT ATAU PENCERITAAN
Dalam Frankenstein (2025), Guillermo del Toro membangun struktur penceritaan yang lebih kompleks dengan tiga bagian yang tentunya bisa memfokuskan antara karakter Victor dan Makhluk dibandingkan versi 1931 maupun adaptasi lainnya, sehingga menghadirkan pengalaman yang tidak hanya menghormati karya klasiknya tetapi juga memberikan sentuhan baru yang lebih kaya. Tidak seperti versi original yang lebih sederhana dalam penyampaiannya bahkan dibuat menjadi horror, dalam film ini justru memberikan ruang lebih besar bagi pengembangan karakter, memperlihatkan hubungan yang lebih dalam antara Victor Frankenstein dan Makhluk serta menggali lebih jauh elemen-elemen drama psikologis yang sebelumnya hanya tersirat.
Selain itu, dalam penceritaan dalam film ini juga menambahkan lapisan-lapisan baru dalam hubungan antara manusia dan monster, menciptakan ketegangan emosional yang lebih kuat, sementara latar gothic yang semakin pekat memperdalam rasa isolasi dan ketidakberdayaan para karakter.
Tidak seperti adaptasi 1931 yang berakhir dengan cepat, film ini menghadirkan babak ketiga (ending) yang lebih panjang dan dramatis, memberikan rasa ketegangan yang lebih lama sebelum akhirnya mencapai resolusi. Setiap elemen yang diperkenalkan sejak awal dimanfaatkan dengan maksimal, memastikan bahwa setiap adegan terakhir memiliki bobot emosional yang kuat. Dengan pengembangan cerita yang lebih kompleks, pendekatan visual yang memperkuat narasi, serta karakterisasi yang lebih mendalam, Frankenstein (2025) tidak hanya menjadi penghormatan terhadap karya klasik, tetapi juga sebuah reinterpretasi yang memperkaya mitologi monster dalam sinema.
ASPEK GAYA PENYUTRADARAAN
Guillermo del Toro, sutradara yang dijuluki sebagai "Master of Dark Fairytale" atau "Master of The Monster", dikenal sebagai sutradara yang mengutamakan atmosfer dan imersi dalam setiap filmnya dengan nuansa gothic ataupun art-deco yang dibalut dengan penceritaan bergaya dongeng, dan hal ini sangat terasa dalam Frankenstein (2025). Sama persis seperti film-film pendahulunya, yang sangat khas dengan gaya Guillermo del Toro. Dimana filmnya seperti Hellboy 1 & 2, Pan’s Labyrinth (2006), Pacific Rim (2013), Crimson Peak (2015), The Shape of Water (2017), Nightmare Alley (2021), dan Pinocchio (2022) dikenal piawai menanamkan kemanusiaan dalam sosok yang dianggap monster atau aneh bagi orang awam dengan konsepnya yang khas yaitu gothic, art deco, maupun industrial.
Dengan pendekatan yang teliti terhadap sumber aslinya dari novel karya Mary Shelley, Guillermo del Toro tidak hanya membuat film sebagai tontonan hiburan, tetapi juga sebagai pengalaman yang membawa penonton masuk ke dalam dunia yang ia ciptakan. Sebagai seorang sineas yang dijuluki "Master of Dark Fairytale" karena menggabungkan fantasi yang indah namun kelam dan tragis, Guillermo del Toro selalu memastikan bahwa setiap elemen dalam filmnya memiliki dasar yang kuat dalam mitologi, maupun takhayul yang berkaitan dengan cerita yang ia bawakan. Hal ini terlihat dalam bagaimana ia membangun dunia Frankenstein dengan atmosfer yang tidak hanya dingin/kelam namun juga tetap menyentuh/indah, juga terasa seperti bagian dari realitas masa lalu, seolah-olah Guillermo del Toro mengajak untuk menyaksikan kisah yang benar-benar pernah terjadi.
Gaya penyutradaraan Guillermo del Toro dalam Frankenstein (2025) sangat mengedepankan detail, baik dalam aspek penceritaan maupun dalam cara ia mengarahkan aktor-aktornya. Ia bukan tipe sutradara yang hanya mengandalkan naskah, tetapi lebih kepada bagaimana setiap elemen dalam adegan dapat berbicara secara visual tanpa perlu banyak dialog. Ia lebih memilih membangun ketegangan melalui ekspresi, bahasa tubuh, serta gerakan kamera yang perlahan dan terkalkulasi, menciptakan rasa emosi yang tidak datang secara tiba-tiba, tetapi merayap secara perlahan hingga akhirnya mencapai puncaknya.
Sebagai seorang auteur, Guillermo del Toro selalu memastikan bahwa setiap film yang ia buat memiliki identitas khas yang tidak bisa ditemukan dalam film gothic lainnya. Dalam Frankenstein (2025), ia tidak hanya membuat adaptasi dari sebuah novel klasik, tetapi juga menghidupkan kembali atmosfer gothic yang melekat dalam cerita aslinya, sambil menambahkan elemen psikologis dan mitologis yang memperdalam pengalaman. Dengan pendekatannya yang penuh presisi dan riset mendalam terhadap novelnya, Guillermo del Toro sekali lagi membuktikan bahwa ia adalah sutradara yang tidak hanya membuat film, tetapi juga menciptakan dunia yang terasa nyata dalam setiap adegan yang ia arahkan.
PENAMPILAN AKTING DARI PARA PEMERANNYA
Penampilan para pemeran dalam Frankenstein (2025) memberikan lapisan kedalaman yang membuat film ini terasa lebih dari sekadar gothic klasik, tetapi juga sebuah eksplorasi karakter yang kompleks. Kritikus sepakat bahwa film ini ditopang oleh akting cemerlang baik dari pemeran utamanya maupun pemeran dukungannya.
Oscar Isaac sebagai Victor Frankenstein menampilkan performa yang berimbang dengan lawan mainnya terutama dengan Makhluk, dia menghadirkan karakter yang awalnya penuh semangat tetapi perlahan-lahan digerus oleh trauma yang tidak bisa ia pahami. Oscar Isaac membawa sisi arogansi yang membuat karakternya semakin tragis, karena sejak awal ia seperti tidak menyadari bahaya yang sedang mendekatinya. Dinamika antara dirinya, Makhluk, William, dan Elizabeth juga terasa begitu hidup, menciptakan lapisan emosional yang lebih kuat dibandingkan versi-versi sebelumnya. Oscar Isaac tentunya sebagai Victor Frankenstein dia berhasil menjiwai Victor sebagai sosok yang ambisius sekaligus tertekan traumanya, menampilkan kompleksitas seorang genius yang dihantui penyesalan.
Mia Goth dengan dua perannya sebagai Elizabeth dan ibu Victor memberikan performa yang begitu memukau, membuktikan bahwa bakat aktingnya benar-benar mengalir dalam darahnya. Ia bukan sekadar korban dalam kisah ini, melainkan karakter yang memiliki agency kuat, menunjukkan emosi yang begitu nyata antara ketakutan, rasa penasaran, hingga keterikatan yang sulit dijelaskan terhadap Victor dan Makhluk. Setiap tatapan matanya penuh dengan ketegangan yang perlahan-lahan membangun atmosfer menyentuh, terutama dalam adegan-adegan yang memperlihatkan bagaimana dirinya mulai memahami bahaya yang mengintai. Dalam banyak momen, ekspresinya berbicara lebih banyak daripada dialognya, menciptakan kesan bahwa ia adalah seseorang yang terjebak di antara ketertarikan dan kehancuran yang datang dari kegelapan. Dan tentunya dia juga berhasil berperan dnegan dua karakter yang berbeda namun masih memiliki peraasn yang sama, Elizabth yang lembut dan sebagai Ibu Victor yang traumatis, melalui dialog dan gestur yang halus, dan dibedakan melalui make upnya.
Namun, Jacob Elordi sebagai Makhluk (The Creature) menjadi sorotan utama. Penampilannya terbukti revelatory. Meskipun terbungkus riasan prostetik yang berat sehingga wajahnya tidak dikenali, ia mampu menyeimbangkan fisikalitas monster yang menakutkan dengan kepekaan emosional yang luar biasa, menghadirkan Makhluk yang paling puitis, tragis, dan emosional, bahkan juga mengerikan dalam waktu yang bersamaan, serta memperlihatkan sisi polos layaknya anak kecil yang ingin banyak belajar hal baru. Jacob Elordi tidak hanya mengandalkan riasan dan desain karakter yang menyeramkan, tetapi juga transformasi penuh dalam gestur, dan suara yang dibuat begitu autentik untuk menjiwai sebagai monster yang akan mencari tujuan eksistensinya sebagai Makhluk yang dihidupkan dari potongan-potongan organ dan tubuh yang sudah mati. Dia berhasil menghidupkan karakter Makhluk seperti tulisan karya Mary Shelley yaitu berupa Makhluk yang ingin dicintai, disayangai, dan diterima oleh lingkungannya. Memang dia mempunyai penampilan yang mengerikan, namun dihatinya layaknya manusia pada umumnya yang punya rasa empati yang sangat kuat dan emosional.
Aktor pendukung seperti Christoph Waltz sebagai Baron Henrich Harlander, dimana dia berhasil berperan sebagai karakter tersebut dengan sifatnya yang sombong, manipulatif, dan memanfaatkan Victor demi kebutuhannya sendiri
David Bradley sebagai Kakek Buta yang bijaksana, dia berhasil berperan sebagai karakter tersebut yang memiliki sifat yang sangat penuh kasih sayang, dan kerendahan hati, ibarat seorang kakek yang sangat menyayangi cucunya walaupun dengan keterbatasan fisiknya. Dia sangat ikhlas dalam mengajarkan ha-hal baru kepada Makhluk walaupun Makhluk itu memiliki penampilan mengerikan, namun dia dengan bijak dan bisa merasakan kepada Makhluk itu bahwa ditampilannya yang menyerupai monster, tentunya Makhluk tersebut masih mempunyai hati yang besar dan rasa ingin tahu yang sangat tinggi, layaknya anak kecil yang mau belajar.
Charles Dance sebagai Ayah Victor, dimana dia berhasil berperan sebagai Ayah yang sangat keras, abusif, dan selalu memaksakan kehendaknya kepada Victor kecil, bahkan tidak gentar-gentar untuk menyiksa Victor. Bahkan dia lebih menyayangi William..adik dari Victor daripada Victor itu sendiri.
Felix Kammerer sebagai William Frankenstein, dia juga berhasil berperan sebagai adik yang tentunya sangat penyayang, dan juga rasa ingin tahunya kepada sang Kakak. Apa yang dilakukan oleh kakaknya dia sangat mendukungnya. Karena bagi William, Victor adalah keluarga satu-satunya yang hanya dia punya
Lars Mikkelsen sebagai Kapten Anderson, kapten kapal yang bijaksana yang mampu memimpin kru kapalnya, disatu sisi juga dia melihat sang Makhluk bukanlah suatu ancaman, dimana dia bisa merasakan koneksi antara Victor dan Makhluk, yang membuatnya sadar bahwa Makhluk itu memiliki perasaan yang sama dengan manusia pada umumnya, yang membuatnya memiliki perasaan yang hangat terhadap Makhluk itu.
ASPEK VISUAL DAN SINEMATOGRAFI
Kekuatan visual yang indah dari Frankenstein (2025) tak terlepas dari sinematografer langganan Guillermo del Toro, Dan Laustsen. Dia kembali membuktikan kepiawaiannya dalam menerjemahkan visi Guillermo del Toro yang berciri khaskan "Dark Fairytale" ke dalam setiap adegannya yang sangat terasa begitu memukau. Sebagai sinematografer kepercayaan Guillermo del Toro sejak Mimic (1997), Crimson Peak (2015), The Shape of Water (2017), dan Nightmare Alley (2021).
Dan Laustsen sekali lagi menunjukkan keahliannya dalam menciptakan komposisi gambar layaknya "Dark Fairytale" suram namun indah yang tidak hanya estetis, tetapi juga mendukung atmosfer kengerian gothic yang khas. Film ini menggunakan palet warna yang jauh lebih tebal dibandingkan film gothic modern lainnya sehingga menghasilkan visual yang sangat memanjakan mata akan keindahannya ibarat dalam dunia dongeng, dengan cara menggunakan pencahayaan alami yang tentunya memberikan kesan organik serta bayangan yang semakin memperkuat nuansa misterius dan mencekam. Disatu sisi, setiap frame terasa seperti lukisan abad ke-19 yang kelam, dengan permainan chiaroscuro yang sangat menonjol untuk menegaskan kontras antara cahaya dan kegelapan, memberikan kedalaman visual yang membuat adegan-adegannya terasa lebih imersif.
Dan Laustsen memanfaatkan cahaya obor dan lampu minyak dalam banyak adegan interior untuk menciptakan efek pencahayaan yang tidak hanya realistis tetapi juga menambah nuansa klasik dari film ini, seolah-olah setiap ruangan yang diterangi hanya oleh nyala api merupakan bagian dari dunia yang perlahan-lahan dikonsumsi oleh kegelapan. Misalnya, laboratorium Victor dipancari cahaya hijau gelap yang membuatnya terlihat ‘hidup,’ sementara adegan kapal di Kutub Utara hanya diterangi oleh obor-obor yang menyala, menciptakan pencahayaan realistis dan mencekam.
Selain itu, pendekatan visual film ini mampu menerjemahkan esensi novel klasik tahun 1818 dengan penggunaan framing yang mengalir dan artistik, dan juga memperkaya pengalaman sinematik dengan elemen-elemen sinematografi modern yang menambah kedalaman dan atmosfer. Bahkan dalam penggunaan close-up, Dan Laustsen memilih untuk tidak hanya menyorot wajah karakter tetapi juga menampilkan detil-detil halus. Semua ini menciptakan pengalaman visual yang benar-benar menghidupkan dunia Frankenstein (2025) dengan sentuhan artistik yang khas dengan visi Guillermo del Toro yang sangat bergaya "Dark Fairytale" dengan nuansa gothic.
ASPEK SKORING MUSIK
/zmzcwayc2baphkz.jpeg)
Musik yang menjadi aspek pendukung juga dalam Frankenstein (2025) tentunya digubah oleh Alexandre Desplat, yang lagi-lagi menjadi orang kepercayaan Guillermo del Toro untuk mengiringi latar musik dalam setiap film-filmnya. Guillermo Del Toro secara spesifik meminta agar musik tidak bertujuan menakut-nakuti, melainkan menegaskan nada emosional dan lirikal film.
Musik dalam Frankenstein (2025) yang diaransemen oleh Alexandre Desplat memainkan peran krusial dalam membangun atmosfer gothic yang pekat, sekaligus memperkuat intensitas emosional di setiap adegan. Sebagai komposer yang sebelumnya juga mengaransmen musik dalam The Shape of Water (2017), Nightmare Alley (2021), dan Pinocchio (2022), Alexandre Desplat kembali membuktikan kepiawaiannya dalam menciptakan komposisi musik yang bukan hanya latar, tetapi menjadi bagian integral dari pengalaman sinematik itu sendiri. Musik yang ia susun untuk Frankenstein (2025) bukanlah horor konvensional dengan elemen-elemen orkestra berlebihan atau efek suara mengejutkan yang sering digunakan untuk menciptakan jump scare atau unsur kejutan tipikal musik horor pada umumnya. Sebaliknya, Alexandre Desplat memilih pendekatan yang lebih atmosferik, menggunakan suara-suara yang organik, melankolis, dan menyentuh secara perlahan, seolah-olah membiarkan emosi meresap tanpa disadari, karena pada dasarnya Frankenstein versi ini lebih menonjolkan sisi drama, dan tragisnya.
Skoring musik dalam Frankenstein (2025) dihiasi melodi yang melankolis dan agung. Tema utama Victor adalah motif tujuh nada klasik yang elegan namun sedikit terdistorsi, mencerminkan kekayaan sekaligus kegilaan. Sebagian besar skor ditampilkan lewat solo biola yang intens, yang membawa bobot emosi besar. Musiknya mengadopsi nuansa klasik abad ke-19, dengan rangkaian nada barok dan romantis yang mengikat setiap emosi cerita, menciptakan suasana Gothic yang syahdu dan menggugah.
PERBEDAAN VERSI FRANKENSTEIN VERSI 1931 DAN 2025
Perbedaan utama antara Frankenstein (2025) dengan Frankenstein (1931) terletak pada pendekatan penceritaan, karakterisasi, dan estetika yang diusung oleh Guillermo del Toro. Dalam film ini, Guillermo del Toro tidak hanya membuat reinterpretasi dari film klasik, tetapi juga menggali lebih dalam elemen filsafat dan mitologi yang menginspirasi kisah Frankenstein sejak awal. Sementara versi 1931 yang disutradarai oleh James Whale lebih menitikberatkan pada atmosfer horor ekspresionis dengan gaya visual yang menyerupai mimpi buruk, versi 2025 justru menonjolkan aspek historis dan elemen gothic yang lebih pekat, memberikan kesan bahwa kisah ini adalah legenda kelam yang nyata terjadi di masa lalu.Salah satu aspek yang paling mencolok dari perbedaan ini adalah penggambaran The Creature itu sendiri.
Dalam Frankenstein (1931), Boris Karloff membawakan sosok Monster sebagai makhluk yang sangat asing dan hampir tidak manusiawi, dengan tubuh kaku, jahitan kasar, kepala datar, dan mata yang selalu sayu, menciptakan kesan bahwa ia adalah sosok kutukan yang lahir dari kegelapan. Tidak ada kemewahan atau daya tarik dalam penampilannya; ia adalah perwujudan dari wabah dan kehancuran yang menyebar di mana pun ia berada. Berbeda dengan pendahulunya, Makhluk dalam Frankenstein (2025) yang diperankan oleh Jacob Elordi memiliki tampilan yang jauh lebih manusiawi, dengan referensi kuat kepada novel asli Mary Shelley. Dalam film ini, Makhluk bukan lagi sekadar monster yang asing, tetapi benar-benar terlihat seperti seorang raksasa yang tragis. Ia memiliki ekspresi yang penuh penderitaan, rambut yang panjang acak-acakan, serta pakaian yang lebih sederhana, menekankan statusnya sebagai "anak" yang ditolak.
Versi James Whale tahun 1931 adalah mahakarya horor yang fokus pada elemen ketakutan (shock value). Monster (Boris Karlof)f pada dasarnya bisu dan digambarkan sebagai ancaman tanpa pikiran. Sebaliknya, versi Guillermo del Toro tahun 2025 adalah drama eksistensial. Dimana Makhluk (Jacob Elordi) mengembalikan sisi humanisme dan intelektualitas Sang Makhluk seperti dalam novelnya yaitu sosok yang cerdas, puitis, dan filosofis. Dia belajar membaca, mengutip Paradise Lost, dan berdebat tentang moralitas. Dia menjadi pendendam karena penolakan, bukan karena kejahatan yang melekat.
Frankenstein (2025) adalah karya puncak Guillermo del Toro. Adaptasi Mary Shelley yang megah ini disusun rapih dalam tiga bagian yang intens, didukung oleh akting luar biasa dan aspek teknis yang spektakuler. Dimana sutradara Guillermo del Toro adalah pilihan yang sangat pas dalam menceritakan legenda ini dengan gayanya yaitu "Dark Fairytale", hal ini terlihat jelas bagaimana Guillermo del Toro membawakan ceritanya dengan unsur-unsur dongengnya yang kelam namun indah.
Perpaduan visual yang memukau dari Dan Laustsen, musik puitis dari Alex Desplat, dan pengarahan emosional dari Guillermo del Toro menjadikan film ini lebih dari sekadar film monster; ia adalah epik gotik yang indah dan menyentuh. Frankenstein (2025) menegaskan kembali bahwa del Toro mampu menyulap kisah klasik menjadi pengalaman sinematik yang kuat, gelap namun manusiawi, yang benar-benar memanjakan mata dan hati penonton.
Frankenstein (2025) bukan sekadar gothic monster biasa, tetapi sebuah film yang mengangkat unsur dongeng gelap, romansa kelam, dan psikologis dengan begitu mendalam khas dengan gaya penyutradaraan dari Guillermo del Toro. Dengan segala keunggulan dalam aspek teknis maupun naratif, film ini telah menjelma menjadi salah satu terbaik tahun 2025. Dengan narasi yang lebih kompleks, serta eksplorasi yang lebih dalam terhadap dunia tempat Makhluk berasal, film ini tidak hanya menjadi adaptasi yang setia terhadap materi aslinya, tetapi juga reinterpretasi yang membawa Frankenstein ke level yang lebih dalam dan lebih menyentuh.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....