Workshop Peningkatan Kompetensi Guru Demi Peserta Didik Berkebutuhan Khusus

  • 23 Jun 2026 16:14 WIB
  •  Gunung Sitoli

RRI.CO.ID, Gunungsitoli - Sebagai upaya meningkatkan kompetensi guru dalam memahami aspek psikologi peserta didik berkebutuhan khusus, SLB Negeri Gunungsitoli menyelenggarakan Workshop bertema “Peningkatan Kompetensi Guru dalam Memahami Aspek Psikologi Peserta Didik Berkebutuhan Khusus untuk Mewujudkan Pembelajaran yang Inklusif, Humanis, dan Berpusat pada Kebutuhan Anak”. Kegiatan ini dilaksanakan pada 20 dan 22 Juni 2026 di lokasi sementara SLB Negeri Gunungsitoli, UPTD SD Negeri 077272 Lolofaoso Tabaloho, Kecamatan Gunungsitoli Selatan.

Workshop menghadirkan sejumlah narasumber dari berbagai latar belakang profesi yang memiliki kompetensi dalam bidang pendidikan inklusif, psikologi, dan perlindungan anak. Kegiatan ini bertujuan memperkuat kapasitas guru dalam memberikan layanan pendidikan yang lebih responsif terhadap kebutuhan peserta didik berkebutuhan khusus.

Salah satu narasumber yang hadir adalah Justin Foera-era Lase, S.Tr.Sos., Sp.P.S.P.D., C.PS., C.MTr., dosen Program Studi Bimbingan dan Konseling (BK) FKIP Universitas Nias. Pada sesi yang dilaksanakan Senin, 22 Juni 2026, Justin menyampaikan dua materi penting yang relevan dengan tantangan pendidikan inklusif saat ini.

Materi pertama bertajuk “Strategi Membangun Hubungan Positif antara Guru dan Peserta Didik.” Dalam paparannya, Justin menekankan bahwa hubungan yang hangat, suportif, dan penuh penghargaan merupakan fondasi utama keberhasilan pembelajaran, khususnya bagi peserta didik berkebutuhan khusus. Guru diharapkan mampu menciptakan lingkungan belajar yang aman secara emosional sehingga peserta didik merasa diterima, dihargai, dan termotivasi untuk berkembang secara optimal.

Selanjutnya, pada materi kedua yang berjudul “Pengelolaan Perilaku dan Dukungan Kesehatan Mental Peserta Didik serta Kolaborasi Guru, Orang Tua, dan Tenaga Profesional dalam Mendukung Perkembangan Anak,” Justin mengajak para peserta untuk memahami bahwa keberhasilan pendidikan tidak hanya ditentukan oleh aspek akademik, tetapi juga oleh kondisi psikologis dan kesejahteraan mental peserta didik. Ia menjelaskan berbagai strategi pengelolaan perilaku yang positif, pentingnya deteksi dini terhadap masalah kesehatan mental, serta perlunya membangun kemitraan yang kuat antara sekolah, keluarga, dan tenaga profesional guna mendukung tumbuh kembang anak secara menyeluruh.

Menurut Justin, pendekatan kolaboratif menjadi salah satu kunci dalam pendidikan inklusif.

“Anak berkebutuhan khusus memerlukan dukungan yang terintegrasi dari berbagai pihak. Guru, orang tua, dan tenaga profesional perlu memiliki visi yang sama agar layanan yang diberikan benar-benar sesuai dengan kebutuhan anak,” ucapnya.

Selain Justin Foera-era Lase, workshop ini juga menghadirkan Senikariwati Laiya, M.A., M.Psi., Psikolog, yang membawakan materi tentang pemahaman karakteristik dan perkembangan psikologis peserta didik berkebutuhan khusus serta identifikasi kebutuhan belajar dan potensi peserta didik berkebutuhan khusus. Pada sesi lainnya, Kepala Seksi SMA/PK Cabang Dinas Pendidikan Wilayah XIII menyampaikan materi mengenai implementasi pembelajaran inklusif yang berpusat pada kebutuhan anak. Sementara itu, Kepala Dinas Sosial Kota Gunungsitoli memaparkan upaya pemerintah dalam meningkatkan akses pendidikan, kesehatan, dan perlindungan bagi anak berkebutuhan khusus.

Kepala SLB Negeri Gunungsitoli Eka Karsa Suryani Zendrato, S.Pd menyampaikan apresiasi kepada seluruh narasumber yang telah berbagi pengetahuan dan pengalaman kepada para peserta. Melalui kegiatan ini, diharapkan para guru semakin memahami karakteristik peserta didik berkebutuhan khusus serta mampu menerapkan praktik pembelajaran yang lebih inklusif, humanis, dan berorientasi pada kebutuhan setiap anak.

Workshop ini menjadi salah satu bentuk komitmen SLB Negeri Gunungsitoli dalam meningkatkan kualitas layanan pendidikan bagi peserta didik berkebutuhan khusus sekaligus memperkuat sinergi antara sekolah, perguruan tinggi, pemerintah, dan tenaga profesional dalam mewujudkan pendidikan yang inklusif dan berkeadilan bagi semua anak.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....