Dua Dosen Universitas Nias Bekali Guru Hadapi Era Generasi Stroberi
- 12 Jun 2026 16:36 WIB
- Gunung Sitoli
Gunungsitoli, 11 Juni 2026 – Tantangan dunia pendidikan yang semakin kompleks menuntut guru tidak hanya berperan sebagai pengajar, tetapi juga sebagai pembimbing dan pendamping bagi peserta didik. Menjawab kebutuhan tersebut, Dinas Pendidikan Kota Gunungsitoli menyelenggarakan Pelatihan Bimbingan Konseling (BK) dan Penguatan Karakter bagi Guru Jenjang SMP se-Kota Gunungsitoli Tahun 2026 yang berlangsung pada 9–11 Juni 2026 di Gedung A’Luck Gunungsitoli.
Kegiatan yang diikuti oleh 68 guru SMP, terdiri dari guru BK, guru mata pelajaran, dan wali kelas, menghadirkan dua dosen Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Nias, yakni Justin Foera-era Lase, S.Tr.Sos., Sp.P.S.P.D. dan Destin Ricardo Lase, S.Fil., M.Pd., sebagai narasumber utama.
Selama tiga hari pelatihan, peserta dibekali berbagai materi tentang paradigma baru bimbingan dan konseling, pendidikan karakter, pendidikan inklusif, teknik pendampingan peserta didik, serta strategi menghadapi berbagai persoalan yang dihadapi generasi muda saat ini.
Dalam pemaparannya, Justin Foera-era Lase menjelaskan bahwa layanan bimbingan dan konseling modern telah mengalami perubahan paradigma, dari pendekatan yang berfokus pada masalah peserta didik menuju pendekatan yang berorientasi pada pengembangan potensi.
“Setiap anak memiliki potensi yang perlu ditemukan, dikembangkan, dan diarahkan. Oleh karena itu, guru tidak cukup hanya menjadi pengajar, tetapi juga harus mampu menjadi pembimbing yang membantu peserta didik bertumbuh secara optimal,” jelasnya.
Sementara itu, Destin Ricardo Lase menekankan bahwa peserta didik saat ini hidup pada era yang penuh tantangan, mulai dari pengaruh media sosial, tekanan lingkungan, hingga rendahnya ketahanan menghadapi kegagalan. Kondisi ini sering dikaitkan dengan istilah generasi stroberi, yaitu generasi yang memiliki banyak potensi namun rentan terhadap tekanan.
“Anak-anak saat ini membutuhkan pendampingan yang lebih kuat. Mereka membutuhkan guru yang tidak hanya mengajar dengan pikiran, tetapi juga membimbing dengan hati. Ketika hubungan guru dan peserta didik terbangun dengan baik, maka pendidikan karakter akan lebih mudah ditanamkan,” ungkapnya.
Pelatihan berlangsung secara interaktif melalui diskusi kelompok, studi kasus, simulasi layanan BK, dan refleksi pengalaman peserta. Metode ini memberikan kesempatan kepada guru untuk berbagi pengalaman serta menemukan solusi atas berbagai persoalan yang mereka hadapi di sekolah masing-masing.
Pada acara penutupan, Kepala Bidang Pembinaan Guru dan Tenaga Kependidikan Dinas Pendidikan Kota Gunungsitoli, Arlin Kurniaman Laoli, S.Kom., menyampaikan bahwa pelatihan ini merupakan bentuk perhatian pemerintah terhadap pentingnya penguatan peran guru dalam membimbing peserta didik.
Menurutnya, di tengah tantangan pendidikan pada era generasi stroberi, guru memiliki peran strategis dalam membentuk karakter, membangun ketahanan diri, dan mengembangkan potensi peserta didik.
“Kami berharap ilmu yang diperoleh selama pelatihan ini dapat diimbaskan kepada rekan-rekan guru lainnya dan memberikan dampak nyata bagi peningkatan kualitas pendidikan di Kota Gunungsitoli. Pendidikan yang hebat lahir dari guru-guru yang terus belajar dan terus beradaptasi dengan perkembangan zaman,” ujarnya.
Melalui kegiatan ini, kolaborasi antara Dinas Pendidikan Kota Gunungsitoli dan Universitas Nias diharapkan semakin memperkuat upaya peningkatan mutu pendidikan, khususnya dalam menghadirkan layanan bimbingan dan konseling yang lebih humanis, inklusif, dan berorientasi pada pengembangan karakter peserta didik.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....