Pelemahan Nilai Tukar Rupiah, Bebani Petani dan Wiraswasta di Gunungsitoli
- 02 Jun 2026 05:29 WIB
- Gunung Sitoli
RRI.CO.ID, Gunungsitoli - Sebagai petani, pelemahan rupiah adalah beban, hal ini memicu lonjakan biaya produksi seperti harga pupuk. Seperti diungkapkan salah seorang petani cabai dari Kecamatan Gunungsitoli, Kurniawan Harefa yang sehari-harinya juga bertugas di DPRD Kota Gunungsitoli. Ia berharap ada solusi dari Pemerintah sehingga petani tidak merasakan dampak dari kenaikan dolar ini.
“Sesuai dengan keadaan pada saat ini kita merasakan efek dari kenaikan dolar ini, yang mana menjadi berpengaruh pada rupiah yang melemah sehingga daya beli masyarakat pasti menurun. Ini menjadikan masyarakat lebih mementingkan bagaimana untuk memenuhi kebutuhan dasar saja. Kita sebagai para petani juga sangat membutuhkan termasuk pupuk. Tentang pengaruh dolar ini atas melemahnya rupiah maka secara langsung tidak berpengaruh sekali tetapi sedikit ada efeknya, termasuk pembelian bahan-bahan material pupuk untuk tanaman dan berpengaruh juga pada efek penjualan,” ujar Kurniawan, Senin 1 Juni 2026.
Ia berharap kepada pemerintah untuk menyikapi situasi seperti ini. Ujar Kurniawan, pemerintah diharapkan memberikan subsidi kepada Petani atau memberikan suatu solusi sehingga petani tidak merasakan dampak dari kenaikan dolar ini agar petani juga bisa sejahtera.
“Kita ketahui bersama bahwa di kota Gunungsitoli kita mengalami kelangkaan pupuk, para kelompok tani agak merasakan penyaluran pupuk subsidi ini tidak sampai di titik-titik distribusi dimana kelompok tani itu berada dan sangat membutuhkan tindakan dari pemerintah kota Gunungsitoli,” kata Kurniawan.

Warga lainnya, Firman Zawato Hulu sebagai Pengusaha Meubel mengaku kesulitan akibat pelemahan rupiah yang menembus kisaran tujuh belas ribu rupiah per Dolar AS. Menurutnya, dalam situasi seperti ini penjualan meubel ini dihadapkan pada penurunan daya beli masyarakat.
”Dampak kenaikan harga dolar bagi kami sebagai pengusaha meubel yakni adanya kenaikan harga bahan baku seperti kayu dan lain sebagainya. Seperti pembelian harga cat juga ikut naik salahsatunya merek nya dari harga Rp.85.000 menjadi Rp.95.000. jadi membuat kami kewalahan dalam pembuatan meubel ini, dampaknya bagi kami seperti berkurangnya daya beli masyarakat seperti meja, lemari dan lain sebagainya. Jadi dampaknya omsetnya berkurang. Untuk itu kami mengharapkan kepada Pemerintahan saat ini agar berupaya memperbaiki nilai rupiah sehingga bisa stabil kembali,’ ujarnya mengakhiri.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....