Penurunan Volume Penjualan Drastis, Perolehan Omzet Pedagang Ikut Menurun
- 02 Jun 2026 19:44 WIB
- Gunung Sitoli
RRI.CO.ID, Gunungsitoli - Melemahnya nilai tukar rupiah memicu kenaikan harga modal cabai melonjak tajam. Seperti diungkapkan salah seorang pedagang di kawasan pasar tradisonal jalan Sudirman kecamatan Gunungsitoli Miska, akibatnya, harga jual di pasaran naik dan pembeli terpaksa memangkas porsi belanjaan mereka, yang secara langsung menyebabkan omzet pedagang menurun drastis.
“Saya Miska pemilik UD.MISKA di jalan Sudirman Kelurahan Pasar. Untuk kami para pedagang yang setiap hari berjualan sembako dan keperluan lainnya yang dibutuhkan rumah tangga seperti cabe, bawang dan sayur-sayuran, kami merasa tingkat penjualan kami saat ini sangat lemah karena rupiah lemah sementara pencaharian orang sekarang sulit. Jadi kami pun sebagai pedagang merasa omset kami menurun. Bukan hanya menurun sedikit tapi memang banyak yang berkurang dibanding sebelumnya,’ ujarnya, Selasa 2 Juni 2026.
Ia bercerita jika biasanya melayani para ibu-ibu yang setiap hari berbelanja di pasar, sekarang tampak sepi kemungkinan para ibu-ibu sudah mulai menghemat pengeluaran karena uang pemasukan berkurang, atau bahkan sumber pendapatan tidak ada. “Sekarang ibu-ibu yang biasanya membeli cabe sebanyak seperempat atau setengah kilo sekarang malah tinggal satu ons saja sekali pakai atau bahkan itupun yang satu ons bisa dibagi-bagi menjadi dua-tiga hari yang penting cukup atau menjadi bumbu masak dan memberi rasa di masakan,” katanya.
Dampak yang lebih besar lagi, ucap Miska, harga barang sudah melonjak naik. Pada minggu sebelumnya, harga cabe sekitar Rp.20.000-Rp.25.000/ kg sekarang sudah menuju ke harga Rp.45.000/ kg. Begitu juga dengan harga bawang merah sekarang sudah mencapai Rp.48.000/ kg.
Warga berharap kebijakan strategis dari pemerintah untuk menjaga stabilitas ekonomi ditengah tingginya tekanan ekonomi global.
“Besar harapan kami, ada usaha dari pemerintah agar bisa mengurangi bagaimana dampak kesulitan ekonomi ini. Semoga ada program dari pemerintah untuk membantu masyarakat dan kami para pedagang, untuk memenuhi keperluan sehari-hari. Sebagai penjual, kami juga membutuhkan dagangan kami sendiri, sehingga ketika juga kami hendak mengkonsumsi dagangan kami sendiri kami juga mikir, pendapatan kami berapa, sedangkan kami harus mengeluarkan biaya berapa. Jadi harus hematlah, harus pintar membagi pendapatan dan pengeluaran,” kata Miska.

Hal yang sama juga disampaikan salah seorang padagang kain di pusat pasar kota Gunungsitoli, Hendra, mengaku daya beli masyarakat saat ini semakin menurun. Masyarakat sekarang ini semakin selektif dalam berbelanja.
“Adapun dampak dari melemahnya rupiah saat ini daya beli pembelinya berkurang karena kemungkinan otomatis warga mementingkan kebutuhan sehari-hari terlebih dahulu, sementara untuk kebutuhan tambahan bisa dikesampingkan dulu. Harapan kami kedepannya semoga pemerintah dapat menstabilkan kembali nilai rupiah sehingga kami para pedagang dapat kembali menikmati daya jual dan daya beli yang lebih maksimal. Tidak muluk-muluk untuk meraup keuntungan besar, bahkan ini hanya untuk membiayai kebutuhan sehari-hari. Semoga kita secepatnya terbebas dari dampak melemahnya rupiah ini,” ucap Hendra.
Hendra merasakan keuntungan pedagang tergerus, sehingga dirasakan pada omzet harian anjlok drastis karena sepinya pembeli dan volume penjualan yang semakin berkurang.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....