Dosen UNIAS Jadi Pemateri pada Pelatihan BK bagi Guru SD

  • 20 Mei 2026 08:39 WIB
  •  Gunung Sitoli

RRI.CO.ID, Gunungsitoli - Pendidikan Kota Gunungsitoli resmi membuka kegiatan Pelatihan Bimbingan Konseling dan Karakter bagi Guru Kelas Jenjang SD se-Kota Gunungsitoli Tahun 2026 di Gedung Sangehao, Gunungsitoli, Selasa 19 Mei 2026. Kegiatan ini diikuti oleh 107 guru SD dari berbagai sekolah di wilayah Kota Gunungsitoli dan akan berlangsung selama tiga hari, mulai 19 hingga 21 Mei 2026.

Pembukaan kegiatan dilakukan oleh Plt. Kepala Dinas Pendidikan Kota Gunungsitoli, Drs. Arham Dusky Hia, M.Si. Dalam sambutannya, Ia menegaskan bahwa guru sekolah dasar harus menjadi guru hebat yang tidak hanya berfokus pada proses mengajar, tetapi juga mampu memastikan perkembangan karakter peserta didik dan berperan sebagai konselor di lingkungan sekolah.

“Guru SD harus menjadi guru hebat. Selain mengajar, guru juga harus memastikan perkembangan karakter peserta didik dan menjadi konselor yang mampu mendampingi siswa dalam berbagai tantangan belajar maupun kehidupan sehari-hari,” ujarnya.

Ia juga menekankan bahwa guru merupakan garda terdepan dalam membentuk fondasi karakter anak sejak usia dini. Karena itu, pendekatan pembelajaran yang humanis, aman, nyaman, dan menggembirakan menjadi hal penting dalam dunia pendidikan saat ini.

Kegiatan pelatihan menghadirkan dua narasumber dari Dosen Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Nias, yakni Justin Foera-era Lase, S.Tr.Sos., Sp.P.S.P.D, C.PS., C.MTr. dan Destin Ricardo Lase, S.Fil., M.Pd. Kedua narasumber memberikan materi terkait layanan bimbingan konseling di sekolah, penguatan karakter peserta didik, pembelajaran sosial emosional, serta pendekatan pendidikan yang berorientasi pada potensi siswa.

Pada hari pertama pelaksanaan, kegiatan berlangsung secara interaktif dan partisipatif. Para peserta terlihat antusias mengikuti setiap sesi yang dikemas melalui diskusi kelompok, refleksi pengalaman, simulasi kasus, permainan edukatif, hingga role play yang melibatkan guru secara langsung.

Materi awal membahas konsep dasar dan pendekatan Bimbingan Konseling, khususnya perbedaan antara Problem Based Services dan Potential Based Services. Peserta diajak merefleksikan bagaimana pendekatan guru terhadap siswa selama ini sering kali lebih berfokus pada masalah dibandingkan pengembangan potensi peserta didik.

Selain penyampaian materi, suasana pelatihan juga dibangun secara aktif dan partisipatif sehingga peserta tidak hanya mendengar, tetapi turut terlibat dalam proses pembelajaran. Banyak guru mengaku mendapatkan pengalaman baru terkait cara membangun komunikasi empatik dengan siswa dan menciptakan lingkungan belajar yang lebih positif.

Kegiatan ini diharapkan mampu meningkatkan kompetensi guru dalam memberikan layanan bimbingan dan konseling di sekolah dasar serta memperkuat pendidikan karakter di lingkungan satuan pendidikan. Dengan demikian, sekolah tidak hanya menjadi tempat transfer ilmu, tetapi juga ruang tumbuh yang aman, nyaman, dan mendukung perkembangan peserta didik secara menyeluruh.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....