Waspada, Resiko Kejahatan Siber Dialami Oleh Anak-anak di Kota Gunungsitoli

  • 18 Mei 2026 16:49 WIB
  •  Gunung Sitoli

RRI.CO.ID, Gunungsitoli - Anak menjadi kelompok yang rentan terhadap berbagai risiko kejahatan siber seperti cyberbullying, penipuan online, eksploitasi digital, dan penyalahgunaan data pribadi.

Hal ini dikemukakan Manager PKPA Cabang Gunungsitoli Chairidani Purnamawati pada Dialog Isu Aktual “Smart Teen, Safe Screen: Jurus Sakti Lawan Kejahatan Siber di Pro 1, Senin 18 Mei 2026.

Ia mengungkapkan kejahatan yang mengancam anak-anak khususnya di kota Gunungsitoli kepulauan Nias saat ini bukan lagi kejahatan konvensional seperti kekerasan yang pada anak namun kejahatan yang diakibatkan penggunaan digital dalam kehidupan sehari-hari yakni HP dan aktivitas bermedia sosial.

PKPA sebutnya pada tahun 2025 yang lalu telah menerima 3 laporan terkait kejahatan siber yang dialami oleh anak dan remaja, dan jika tidak disikapi dengan tepat maka anak-anak di kepulauan Nias akan menjadi sasaran empuk penjahat siber.

“Kejahatan siber ini ternyata bukan hanya terjadi di kota-kota besar, PKPA menerima beberapa kasus kejahatan siber yang korbannya adalah anak, jadi kami resah karena selama ini kan kami bertahun-tahun di kota Gunungsitoli, Pulau Nias ini fokusnya hanya kejahatan-kejahatan klasik saja, kejahatan yang langsung, tapi ternyata Pulau Nias juga sudah cengkraman para penjahat siber,” ucapnya.

Kondisi ini menurutnya diperparah dengan keengganan dari anak dan remaja untuk menceritakan apa yang dialaminya kepada orang tua, guru atau orang yang lebih dewasa dari pada mereka.Mereka lebih nyaman untuk bercerita kepada temen-teman yang seusia dengan mereka, namun permasalahannya solusi yang mereka harapkan dari sesama mereka tidak ada, kalaupun ada mungkin tidak tepat dan semakin memperburuk keadaan.

“Karena biasanya yang kami pahami, kejahatan-kejahatan siber jarang terekspose ke orang dewasa karena anak-anak itu takut, biasanya mereka hanya cerita kepada teman-temannya, permasalahannya teman-temannya pun tidak paham apa solusi terhadap masalah tersebut,” kata Chairidani.

Belum lagi orangtua khususnya yang tinggal di pedesaan yang tidak paham akan bahaya yang mengintip dari gadget yang mereka berikan bagi anak-anak mereka. Mereka hanya tahunya bahwa bermain hp terlalu lama tidak baik untuk kesehatan mata, bahwa bermain hp membuat anak-anak mereka tidak fokus belajar untuk mengerjakan PR selama di rumah.

Maka menurut Dani, saatnya semua pihak melakukan penguatan peran anak sebagai peer educator dalam mengedukasi dan mempengaruhi sesama anak terkait penggunaan ruang digital yang aman dan bertanggung jawab.

“Tidak hanya anak-anak tetapi orangtua pun wajib memiliki pengetahuan tentang penggunaan ruang digital yang aman dan bertanggung jawab, bukan sekedar melarang anak tidak boleh berlama-lama bermain gadget, tapi orangtua juga paham apa bahaya gadget jika tidak bijaksana dalam menggunakannya,” katanya.

Page break

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....