Manfaat Sehat Konsumsi Singkong atau Ubi Kayu
- 30 Mar 2026 19:10 WIB
- Gunung Sitoli
RRI.CO.ID.Gunungsitoli - Ubi kayu atau singkong (Manihot esculenta) bukan merupakan tanaman asli Indonesia, melainkan berasal dari benua Amerika, tepatnya wilayah tropis di Brasil dan Paraguay. Suku Maya di Yucatan, Meksiko, telah membudidayakan singkong sebagai makanan pokok sejak abad ke-18 sebelum Masehi dan juga tanaman ini telah dibudidayakan sejak masa prasejarah (sekitar 10.000 tahun yang lalu) oleh penduduk asli di Amerika Selatan, termasuk bangsa Maya di Amerika Tengah. Bangsa Portugis dan Spanyol berperan besar dalam menyebarkan singkong ke seluruh dunia, termasuk ke Afrika, Madagaskar, India, dan Tiongkok pada masa kolonial.
Singkong diperkenalkan ke Nusantara secara bertahap oleh pedagang Portugis dan Spanyol. Salah satu jalur masuknya dipercaya melalui Maluku pada awal abad ke-17. Pemerintah Kolonial Belanda secara resmi memperkenalkan varietas singkong dari Peru sekitar tahun 1850 untuk mengatasi masalah pangan dan meningkatkan produksi pertanian di Jawa. Istilah ketela untuk ubi kayu yang sering digunakan masyarakat Indonesia sebenarnya diserap dari kata Kastila, merujuk pada bangsa Spanyol (Castile) yang membawa tanaman ini.
| Baca juga: Ubi Ungu Menjaga Berat Badan Ideal |
Singkong dikenal sebagai tanaman penyelamat karena mampu tumbuh di tanah yang kurang subur dan tahan terhadap kekeringan. Merupakan sumber karbohidrat yang tinggi, namun beberapa jenis singkong mengandung kadar asam sianida (HCN) yang beracun jika tidak diolah dengan benar melalui proses perendaman atau pemasakan. Selain singkong dan ubi kayu, tanaman ini juga disebut ketela pohon, kaspe atau ubi prancis. Singkong tumbuh subur di iklim tropis seperti Indonesia dan menjadi makanan pokok ketiga setelah padi dan jagung.
Singkong mengandung karbohidrat tinggi yang berfungsi sebagai bahan bakar utama tubuh untuk beraktivitas sehari-hari. Hal ini menjadikannya pilihan yang baik untuk menjaga stamina, termasuk bagi ibu hamil. Serat membantu pertumbuhan probiotik di usus yang menekan risiko peradangan. Membantu proses pembuangan sisa makanan menjadi lebih teratur. Meskipun tinggi kalori, serat dalam singkong memberikan efek kenyang lebih lama. Hal ini membantu mengurangi keinginan untuk ngemil berlebih, sehingga potensial dalam mendukung program diet jika diolah dengan benar (seperti direbus atau dikukus).
| Baca juga: Tips Membuat Jus Terong Belanda |
Singkong memiliki indeks glikemik yang cenderung lebih rendah dibanding nasi putih jika diolah dengan tepat, sehingga membantu metabolisme tubuh dan mengurangi risiko lonjakan gula darah yang ekstrem. Singkong mengandung kalsium dan fosfor yang merupakan komponen utama struktur tulang. Konsumsi rutin dapat membantu mencegah kondisi seperti osteoporosis di masa mendatang, sebagaimana dilansir laman hellosehat.
Kandungan kalium dalam singkong berperan penting dalam meredakan ketegangan pada pembuluh darah dan menyeimbangkan kadar garam dalam tubuh, yang bermanfaat bagi penderita hipertensi. Kaya akan vitamin C dan antioksidan, singkong membantu tubuh melawan infeksi dan meningkatkan daya tahan tubuh secara keseluruhan, seperti dirilis alodokter.
Jangan mengonsumsi singkong mentah karena mengandung senyawa sianida alami yang bisa beracun. Pastikan singkong dikupas, direndam, dan dimasak hingga benar-benar matang. Lebih disarankan untuk merebus atau mengukus daripada menggoreng guna menghindari tambahan lemak jenuh dan kalori berlebih seperti dirilis laman alodokter.
Kebanyakan makan singkong dapat menyebabkan keracunan sianida (mual, pusing, sesak napas), kenaikan berat badan karena kalori tinggi, gangguan tiroid, dan masalah pencernaan. Singkong yang kurang matang mengandung glikosida sianogen yang berbahaya, terutama bagi anak-anak dan ibu hamil, Dilansir laman klikdokter.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....