Tren Lari di Gunungsitoli Kian Digemari Anak Muda
- 13 Mei 2026 08:27 WIB
- Gunung Sitoli
RRI.CO.ID, Gunungsitoli - Tren olahraga lari belakangan semakin diminati kalangan anak muda di Kota Gunungsitoli. Setiap pagi, sore hingga malam hari, kawasan Alun-Alun Kota terlihat ramai dipadati warga yang jogging santai maupun menjalani latihan lari secara serius.
Bagi sebagian anak muda, lari kini bukan hanya sekadar olahraga. Aktivitas tersebut juga menjadi sarana berkumpul bersama teman, melepas penat, hingga membangun lingkungan pertemanan yang positif.
Salah satu penggiat lari di Gunungsitoli, Bryan Mendrofa, mengatakan minat masyarakat terhadap olahraga lari memang mengalami peningkatan dalam beberapa waktu terakhir. Menurutnya, lari menjadi pilihan karena mudah dilakukan dan tidak membutuhkan biaya besar.
“Sekarang lari memang lagi naik banget, terutama di kalangan anak muda. Tidak perlu alat mahal, cukup pakai sepatu sudah bisa mulai. Selain itu, media sosial juga cukup berpengaruh karena banyak orang melihat konten lari yang terlihat seru, jadi muncul rasa tertarik untuk mencoba,” kata Bryan, Selasa (12 Mei 2026.
Bryan menilai kesadaran anak muda terhadap pentingnya menjaga kesehatan juga menjadi salah satu faktor meningkatnya tren olahraga lari.
“Sekarang anak-anak muda mulai sadar kesehatan. Jadi lari dianggap olahraga yang simpel tapi efektif,” ujarnya.
Bryan yang juga founder komunitas lari Fagohi mengaku awalnya mulai rutin berlari hanya untuk menjaga kebugaran tubuh. Namun, seiring waktu aktivitas tersebut berubah menjadi hobi hingga bagian dari gaya hidupnya sehari-hari.
“Awalnya cuma karena ingin sehat. Lama-lama jadi hobi, bahkan sekarang sudah jadi bagian dari gaya hidup. Di tengah kesibukan kerja, lari jadi olahraga yang paling bisa diandalkan,” ucapnya.
Konsistensi Bryan dalam berlatih juga membuahkan hasil. Ia diketahui beberapa kali meraih prestasi dalam berbagai event lari di Gunungsitoli. Terbaru, Bryan berhasil meraih Juara 1 pada ajang Gunungsitoli Run 10K dalam rangka Hari Ulang Tahun Kota Gunungsitoli.
Menurut Bryan, menjaga konsistensi dalam berolahraga memang tidak selalu mudah. Rasa malas terkadang muncul, namun hal itu bisa diatasi dengan kembali mengingat tujuan awal saat mulai berlari.
“Rasa malas itu pasti ada dan menurut saya normal. Biasanya saya ingat lagi tujuan awal kenapa mulai lari. Kadang dipaksa mulai dulu saja, nanti di tengah jalan rasa malas itu hilang sendiri,” katanya.
Selain berlari sendiri, Bryan juga aktif membangun komunitas lari bernama Fagohi yang telah berdiri sejak September 2021. Komunitas tersebut dibentuk bersama teman-temannya saat masih duduk di bangku SMA.
“Saat itu memang lagi tren lari, jadi kami membentuk Fagohi sebagai wadah untuk saling menyemangati. Sampai sekarang komunitas ini masih berjalan dan sudah memiliki anggota baru,” ujarnya.
Ia menambahkan, keberadaan komunitas membuat aktivitas lari terasa lebih menyenangkan karena para anggota dapat saling mendukung dan berbagi pengalaman.
“Kalau lari bareng komunitas itu lebih seru karena bisa saling support. Tapi kadang saya juga lari sendiri kalau lagi fokus mengejar target jarak atau latihan kecepatan,” katanya.
Menurut Bryan, komunitas lari juga memberikan banyak manfaat lain, seperti membuka kesempatan mengikuti event di luar daerah dan menambah relasi pertemanan.
“Semenjak ikut komunitas dan beberapa event di luar kota, pertemanan saya jadi lebih luas, bukan cuma di Gunungsitoli tapi juga di daerah lain,” ucapnya.
Ia berharap tren lari di Gunungsitoli terus berkembang dan didukung dengan penyelenggaraan event-event besar di masa mendatang.
“Harapannya tentu semoga makin banyak event lari di Gunungsitoli, bahkan mungkin ada full marathon atau half marathon. Semoga juga makin banyak anak muda yang menjadikan lari bukan sekadar tren, tapi bagian dari gaya hidup sehat,” tutup Bryan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....