Sejarah Hari Radio Republik Indonesia
- 30 Sep 2026 11:43 WIB
- Gunung Sitoli
RRI.CO.ID, Gunungsitoli - Radio Republik Indonesia (RRI) didirikan pada 11 September 1945 yang kini diperingati setiap tahun sebagai Hari Radio Nasional. Pendirian RRI dipelopori oleh para tokoh radio yang sebelumnya aktif di stasiun siaran milik pemerintah Jepang, Hoso Kyoku seperti dirilis laman indonesiana.id
Pada tanggal 19 Agustus 1945 siaran radio Hoso Kyoku resmi dihentikan oleh pemerintah Jepang setelah mereka kalah dalam Perang Dunia II. Akibatnya, masyarakat Indonesia sempat mengalami buta informasi di awal kemerdekaan. Kemudian pada awal September 1945 situasi memanas karena radio luar negeri mengabarkan bahwa tentara Sekutu dan Belanda akan mendarat untuk menduduki kembali Indonesia. Para pejuang radio menyadari perlunya alat komunikasi yang cepat untuk membakar semangat rakyat dan menyebarkan instruksi pemerintah. Hingga pada tanggal 11 September 1945, perwakilan dari 8 stasiun bekas Hoso Kyoku berkumpul di gedung Raad Van Indje Pejambon, Jakarta. Pertemuan ini dipimpin oleh Dr. Abdulrahman Saleh. Melalui rapat tersebut, diputuskan pembentukan Radio Republik Indonesia (RRI) dengan Dr. Abdulrahman Saleh sebagai Pemimpin Umum pertamanya sebagaimana dirilis laman muspen.komdigi.go.id
Selain Dr. Abdulrachman Saleh, ada delapan tokoh pelopor serta para delegasi dari berbagai daerah yang menjadi pilar penting dalam pembentukan Radio Republik Indonesia (RRI) pada 11 September 1945.
Berikut adalah daftar tokoh-tokoh kunci pendiri dan pelopor sejarah penyiaran RRI:
1. Jusuf Ronodipuro
Jusuf Ronodipuro merupakan salah satu tokoh paling ikonik dalam sejarah RRI. Beliau adalah penyiar yang dengan berani mengudara dan membacakan teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia ke seluruh dunia melalui stasiun radio Hoso Kyoku yang saat itu masih dikuasai Jepang sebagaimana dimuat laman rri.co.id
| Baca juga: Sejarah Bulan Jumadil Awal |
2. Sutarjo Kartohadikusumo
Ia adalah keturunan ningrat dan politisi yang gigih memperjuangkan hak penyiaran bagi bangsa pribumi di masa kolonial. Beliau tercatat sebagai ketua Perikatan Perkumpulan Radio Ketimuran (PPRK), sebuah wadah yang dibentuk untuk melawan monopoli radio kolonial Belanda (NIROM).
3. KGPAA Mangkunegoro VII
Mangkunegoro VII berjasa besar meletakkan batu pertama penyiaran nasional. Beliau mendirikan Solosche Radio Vereeniging (SRV) pada tahun 1933 yang merupakan stasiun radio siaran pertama di Indonesia yang dimiliki dan dikelola sepenuhnya oleh bumiputera.
4. Maladi
Ia adalah perwakilan dari stasiun radio Surakarta dalam rapat pembentukan RRI. Di kemudian hari, Maladi memegang peran krusial sebagai Menteri Penerangan RI dan sempat memimpin RRI untuk memperkuat fungsi radio sebagai alat diplomasi serta perjuangan bangsa.
| Baca juga: Simak Asal Usul Radio |
5. Adang Kadarusman
Adang merupakan tokoh radio dari studio Jakarta yang aktif menggerakkan pembentukan RRI pasca-menyerahnya Jepang. Ia juga ikut serta dalam delegasi yang menghadap Menteri Sekretariat Negara guna meresmikan status RRI di bawah pemerintah Indonesia seperti dirilis laman muspen.komdigi.go.id
6. Sukardi dan Sutardi Hardjolukito
Kedua tokoh ini merupakan bagian dari penggerak radio ketimuran (Sukardi dari Jakarta dan Sutardi dari Surakarta) yang merumuskan visi agar radio nasional bisa sepenuhnya menyuarakan kepentingan republik bukan lagi kepentingan propaganda asing.
7. Sumarmadi dan Sudomomarto
Merupakan delegasi perwakilan pejuang radio dari Yogyakarta. Keduanya memastikan jalur komunikasi penyiaran di wilayah Jawa Tengah tetap menyatu dan terkonsolidasi dengan pusat pertahanan informasi di Jakarta.
| Baca juga: Berikut Sejarah Hari Radio Nasional |
8. Sakti Alamsyah dan R.A. Darya
Tokoh radio yang mewakili wilayah Bandung. Mereka berkontribusi besar dalam mengamankan aset-aset pemancar radio peninggalan Jepang di daerah Jawa Barat agar bisa dialihkan menjadi studio-studio daerah lokal RRI sebagaimana dirilis laman muspen.komdigi.go.id
Seluruh tokoh di atas, bersama perwakilan daerah lain seperti Suhardi (Semarang) dan Sutardjo (Purwokerto) berkumpul di Pejambon, Jakarta, untuk berikrar menyelamatkan alat pemancar radio guna menyuarakan kedaulatan Indonesia seperti dirilis laman muspen.komdigi.go.id
Pertemuan bersejarah tersebut menghasilkan beberapa kesepakatan sidang, di antaranya:
Menetapkan RRI sebagai satu-satunya badan siaran radio nasional dengan pusat di Jakarta dan cabang di 8 kota (Jakarta, Bandung, Purwokerto, Yogyakarta, Surakarta, Semarang, Surabaya dan Malang).
Menetapkan semboyan "Sekali di Udara Tetap di Udara" yang bermakna janji setia RRI untuk terus mengudara membela tanah air seperti dirilis laman rri.co.id
Berkomitmen merebut seluruh alat pemancar dari tangan Jepang untuk menyebarluaskan cita-cita proklamasi 17 Agustus 1945 ke seluruh nusantara dan dunia sebagaimana dirilis laman muspen.komdigi.go.id.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....