Sejarah Awal Mula Pembuatan Kerupuk

  • 08 Jul 2026 10:02 WIB
  •  Gunung Sitoli

RRI.CO.ID,Gunungsitoli - Kata kerupuk berasal dari bahasa Jawa Kuno, yaitu kurupuk, yang secara onomatope (tiruan bunyi) menggambarkan suara renyah atau kriuk atau garing saat camilan ini dikunyah dan digigit, yaitu bunyi "krupuk... krapuk", dilansir laman Wikipedia.

Eksistensi istilah dan makanan ini memiliki rekam jejak sejarah yang sangat panjang di Nusantara. Catatan sejarah kuliner membuktikan bahwa kerupuk telah menjadi makanan pelengkap masyarakat di Nusantara.

Catatan linguistik menunjukkan kata ini berakar dari kata kurupuk dalam bahasa Jawa Kuno. Berdasarkan kamus Jawa Kuno karya PJ Zoetmulder (1995), istilah tersebut sudah digunakan oleh masyarakat Jawa sejak berabad-abad lalu. Kata kerupuk ditemukan dalam berbagai karya sastra kuno pra-abad ke-10 hingga abad ke-13 Masehi. Beberapa di antaranya adalah naskah Kakawin Ramayana, Kakawin Bhomakawya karya Mpu Panuluh, dan Kakawin Sumanasantaka karya Mpu Monaguna sebagaimana dimuat laman Wikipedia.

Keberadaan varian kerupuk tertua, yaitu kerupuk rambak (terbuat dari kulit sapi atau kerbau), bahkan telah tercatat di dalam Prasasti Batura (Batu Pura) yang berasal dari abad ke-9 Masehi. Seiring perkembangannya, kuliner ini menyebar ke luar pulau Jawa. Pada abad ke-19, dalam naskah Melayu klasik karya sastrawan Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi, kata ini diserap dan ditulis sebagai keropok atau kerupuk, dilansir laman Wikipedia.

Camilan ini awalnya dibuat sebagai solusi ketahanan pangan masyarakat Nusantara untuk memanfaatkan bahan sisa atau melimpah agar bisa disimpan dalam waktu yang lama setelah dikeringkan.

Sejarah mencatat bahwa kerupuk bermula sebagai makanan masyarakat kelas bawah sebelum akhirnya menjadi lauk pelengkap yang disukai berbagai kalangan termasuk penjajah Belanda.

Menurut sejarawan kuliner Fadly Rahman, kerupuk menyebar dari Jawa ke wilayah pesisir Kalimantan, Sumatera hingga Semenanjung Melayu. Karena wilayah pesisir kaya akan potensi laut, masyarakat Melayu mulai memodifikasi pembuatan kerupuk menggunakan bahan baku ikan dan udang hingga kemudian melahirkan cikal bakal kerupuk udang modern seperti dimuat laman historia.

Makanan ini menyebar ke wilayah pesisir dan berevolusi menggunakan hasil laut seperti ikan dan udang sebelum berkembang menjadi hidangan pokok pada abad ke-19. Masyarakat pesisir mulai mencampur sari hasil laut dengan tepung tapioka untuk menciptakan kerupuk ikan dan udang, sebagaimana dimuat laman historia.

Pada masa penjajahan Belanda dan masa sulit (Great Depression), masyarakat kelas bawah mengalami kesulitan pangan. Guna menyambung hidup, masyarakat memanfaatkan sisa singkong untuk diolah menjadi tepung tapioka (kanji). Tepung ini dicampur air dan bumbu, lalu dikeringkan dan digoreng hingga menghasilkan kerupuk aci yang murah meriah. Pada masa itu, kerupuk bahkan sempat beralih fungsi dari sekadar camilan menjadi makanan pokok pelengkap nasi bagi masyarakat miskin. Seperti dimuat laman tekpan unimus.

Pada tahun 1950-an, tradisi lomba makan kerupuk mulai diperkenalkan saat memperingati Hari Kemerdekaan RI. Lomba ini diadakan untuk menghibur rakyat sekaligus mengingatkan generasi muda akan masa-masa sulit perjuangan, di mana pejuang sering kali hanya makan nasi dengan lauk kerupuk. Kini, proses pembuatan kerupuk telah berkembang pesat dari industri rumahan tradisional yang dijemur di bawah matahari hingga industri pabrik modern berskala besar dengan berbagai macam varian rasa dan bentuk seperti dimuat laman indonesiabaik.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....