Gaji Cukup tapi Tetap Nggak Punya Tabungan: Salah Siapa?
- 13 Mei 2026 15:07 WIB
- Gunung Sitoli
RRI.CO.ID, Gunungsitoli - Pernah nggak merasa gaji sebenarnya cukup, tapi tabungan tetap tidak pernah terkumpul?
Kebutuhan sehari-hari aman, makan masih bisa enak, sesekali nongkrong juga jalan. Bahkan kadang masih sempat check-out barang yang sudah lama ada di keranjang belanja. Tapi anehnya, setiap akhir bulan muncul pertanyaan yang sama: “Uangku habis ke mana, ya?”.
Lebih membingungkan lagi ketika melihat nominal gaji yang sebenarnya tidak kecil-kecil amat. Tidak sampai kekurangan untuk makan, tidak juga benar-benar terlilit. Namun tabungan tetap sulit terkumpul. Kalau pun ada, biasanya hanya numpang lewat sebelum akhirnya terpakai lagi.
Fenomena ini diam-diam dirasakan oleh banyak orang, terutama generasi muda yang sedang berada di usia produktif. Bekerja keras setiap hari, tetapi tetap merasa belum punya pegangan finansial yang benar-benar aman. Padahal dulu rasanya sederhana. Saat masih sekolah atau kuliah, kita berpikir kalau sudah punya penghasilan sendiri, hidup pasti jauh lebih tenang. Bisa beli apa yang diinginkan, membantu keluarga, menabung, bahkan punya dana cadangan untuk masa depan. Namun realitanya ternyata tidak sesederhana itu.
Semakin bertambah penghasilan, semakin bertambah pula kebutuhan—atau mungkin lebih tepatnya, keinginan. Dulu kopi di minimarket sudah terasa cukup, sekarang sesekali ingin nongkrong di tempat yang lebih nyaman. Dulu jarang belanja online, sekarang hampir setiap minggu ada saja barang yang terasa “perlu”. Masalahnya, semua pengeluaran itu terlihat kecil kalau berdiri sendiri.
“Cuma dua puluh ribu.”
“Cuma diskon ongkir.”
“Cuma self reward setelah capek kerja.”
Kata “cuma” itu yang sering kali diam-diam menguras isi rekening. Belum lagi hidup di era media sosial membuat semuanya terasa harus ikut cepat. Melihat orang lain liburan, nongkrong, membeli barang baru, atau memamerkan pencapaian tertentu, kadang tanpa sadar memunculkan tekanan tersendiri. Akhirnya kita ikut membeli sesuatu bukan karena benar-benar butuh, tetapi karena takut tertinggal.
Ironisnya, sekarang mengeluarkan uang juga terasa semakin mudah. Tinggal klik, bayar, selesai. Tidak ada sensasi melihat uang fisik berpindah tangan seperti dulu. Karena terlalu praktis, pengeluaran sering kali terasa tidak nyata. Dan pada akhirnya, banyak orang hidup dalam pola yang sama setiap bulan: menunggu gajian, merasa lega sesaat, lalu perlahan panik ketika tanggal tua datang.
Lalu salah siapa?
Mungkin bukan sepenuhnya salah diri sendiri. Lingkungan, gaya hidup modern, dan kemudahan teknologi memang membuat budaya konsumtif semakin sulit dihindari. Namun bukan berarti semuanya tidak bisa dikendalikan. Kadang yang dibutuhkan bukan langsung hidup super hemat atau berhenti menikmati hasil kerja keras sendiri. Bukan juga harus menolak nongkrong, ngopi, atau membeli hal yang disukai. Yang lebih penting adalah mulai sadar ke mana uang pergi. Karena sering kali masalahnya bukan pada besar kecilnya gaji, melainkan kebiasaan kecil yang terus berulang tanpa disadari.
Menabung pun sebenarnya bukan soal nominal besar. Banyak orang gagal menabung bukan karena tidak punya uang, tetapi karena selalu menunggu “sisa”. Padahal kenyataannya, uang hampir tidak pernah benar-benar tersisa kalau tidak disisihkan sejak awal.
Pada akhirnya, memiliki tabungan bukan cuma tentang angka di rekening. Ada rasa tenang di dalamnya. Ada perasaan aman karena tahu diri sendiri punya pegangan untuk menghadapi hal-hal tak terduga. Dan mungkin, di tengah dunia yang semakin mahal dan serba cepat ini, rasa tenang itulah yang sebenarnya paling sulit dibeli.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....