Tradisi Sambut Ramadan, Pererat Tali Persaudaraan
- 25 Mar 2026 20:49 WIB
- Gunung Sitoli
RRI.CO.ID. Gunungsitoli - Ramadan bukan sekadar bulan ibadah, tetapi juga momentum merawat identitas dan kebersamaan umat. Masyarakat tidak hanya mempersiapkan diri secara spiritual, tetapi juga mempererat silaturahim dan melestarikan warisan budaya yang telah diwariskan turun-temurun. Melansir dari situs kemenparekraf.go.id, berikut ini tradisi menyambut ramadan di daerah-daerah Indonesia:
Munggahan (Sunda, Jawa Barat)
Di kalangan masyarakat Sunda, tradisi Munggahan menjadi momen penting sebelum memasuki Ramadan. Kegiatan tersebut biasanya dilakukan dengan berkumpul bersama keluarga dan kerabat atau tetangga untuk makan bersama, biasanya sering dilakukan di alam terbuka. Tradisi ini dimeriahkan dengan menu nasi tumpeng dengan berbagai lauk pauk pendukung. Kemudian dilanjutkan dengan berdoa serta saling maaf memaafkan satu sama lain sebelum memasuki bulan ramadan. Tujuannya adalah mempererat tali silaturahim dan mempersiapkan diri secara spiritual sebelum menjalankan ibadah puasa pada bulan ramadan.
Cucurak (Sunda, Jawa Barat)
| Baca juga: Tradisi Ziarah Kubur Jelang Ramadhan |
Cucurak dalam bahasa Sunda diartikan sebagai bersenang-senang dan berkumpul bersama keluarga besar dalam menyambut bulan suci Ramadan. Selain berkumpul, tradisi Cucurak biasanya diisi dengan makan bersama beralas daun pisang sambil duduk lesehan. Menu yang disajikan mulai dari nasi liwet, tempe, ikan asin serta sambal dan lalapan.Menurut kepercayaan masyarakat Sunda, tradisi Cucurak tidak hanya sebagai kegiatan kumpul-kumpul dan makan bersama saja. Kegiatan ini bertujuan sebagai ajakan untuk saling bersyukur dan momen silaturahim antar sesama.
Nyorog (Betawi, Jakarta)
Nyorog merupakan salah satu tradisi masyarakat Betawi dalam menyambut bulan suci Ramadan. Tradisi ini memberikan bingkisan berupa bahan makanan seperti daging kerbau, ikan bandeng atau sembako kepada anggota keluarga yang lebih tua, kerabat dekat atau tetangga. Ada juga yang mengirimkannya berupa masakan jadi berupa nasi uduk, ketupat atau lauk-pauk khas Betawi. Zaman dahulu dikirimkan menggunakan rantang susun. Selain makanan, beberapa keluarga juga mengirimkan perlengkapan ibadah sebagai bagian dari tradisi ini.
Tadisi ini bertujuan dilakukan sebagai bentuk penghormatan sekaligus menjalin silaturahim guna mempererat tali persaudaraan antar sesama, mempererat hubungan kekeluargaan, hubungan sosial dan menumbuhkan rasa kebersamaan di antara masyarakat.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....