Lailatul Qadar : Malam Seribu Bulan

  • 03 Mar 2026 08:54 WIB
  •  Gunung Sitoli

RRI.CO.ID, Gunungsitoli - Lailatul Qadar adalah malam yang paling agung dalam kalender spiritual umat Islam. Ia hadir di sepuluh malam terakhir Ramadan, membawa suasana yang berbeda, lebih hening, lebih khusyuk, dan lebih penuh harap. Allah ﷻ menegaskan kemuliaannya dalam Al-Qur'an melalui firman-Nya: “Lailatul Qadar lebih baik daripada seribu bulan” (QS. Al-Qadr: 3). Satu malam ini dinilai lebih utama daripada ibadah selama delapan puluh tiga tahun lebih, sebuah gambaran yang menunjukkan betapa luasnya rahmat dan kemurahan Allah kepada hamba-Nya. (Sumber: Al-Qur’an, Surah Al-Qadr ayat 1–3)

Keistimewaan malam ini tidak hanya pada hitungan pahala. Dalam lanjutan ayat disebutkan bahwa para malaikat dan Ruh (Jibril) turun dengan izin Tuhan mereka membawa segala urusan, dan malam itu penuh kesejahteraan hingga terbit fajar (QS. Al-Qadr: 4–5). Ulama tafsir menjelaskan bahwa turunnya malaikat menjadi simbol limpahan keberkahan dan ketenangan bagi orang-orang yang beribadah. Karena itulah banyak Muslim merasakan suasana batin yang lebih damai dan penuh harap ketika menghidupkan malam-malam terakhir Ramadan. (Sumber: Al-Qur’an, Surah Al-Qadr ayat 4–5)

Rasulullah ﷺ memberikan teladan yang sangat kuat dalam menyambut malam-malam terakhir Ramadan. Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Aisyah binti Abu Bakar disebutkan bahwa ketika memasuki sepuluh malam terakhir, beliau “mengencangkan ikat pinggangnya, menghidupkan malamnya, dan membangunkan keluarganya.” Hadis ini tercantum dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim, menunjukkan betapa seriusnya beliau mempersiapkan diri untuk meraih Lailatul Qadar. Teladan ini menjadi pesan bahwa kemuliaan malam tersebut harus dijemput dengan kesungguhan, bukan sekadar dinanti. (Sumber: HR. Bukhari no. 2024; Muslim no. 1174)

Selain itu, Rasulullah ﷺ juga bersabda: “Barang siapa menghidupkan Lailatul Qadar karena iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” Hadis ini diriwayatkan oleh Muhammad dan tercantum dalam Shahih al-Bukhari serta Shahih Muslim. Janji ampunan ini menjadi motivasi terbesar bagi setiap Muslim untuk memaksimalkan ibadah—shalat malam, tilawah, dzikir, dan doa—di sepuluh malam terakhir Ramadan. (Sumber: HR. Bukhari no. 1901; Muslim no. 760)

Menariknya, waktu pasti Lailatul Qadar dirahasiakan. Dalam berbagai riwayat disebutkan bahwa malam ini berada pada salah satu malam ganjil di sepuluh hari terakhir Ramadan. Para ulama seperti Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa dirahasiakannya waktu tersebut merupakan bentuk pendidikan ruhani agar umat Islam bersungguh-sungguh beribadah secara konsisten, bukan hanya pada satu malam tertentu. Hikmah ini mengajarkan ketekunan, keikhlasan, dan semangat memperbaiki diri sepanjang akhir Ramadan. (Sumber: An-Nawawi, Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab; HR. Muslim no. 1167 tentang pencarian Lailatul Qadar di malam ganjil)

Lailatul Qadar bukan sekadar malam dengan angka pahala yang berlipat. Ia adalah momentum perubahan diri—malam ketika doa dipanjatkan dengan air mata, ketika hati dibersihkan dari dendam dan kelalaian, dan ketika tekad diperbarui untuk menjadi hamba yang lebih baik. Malam Seribu Bulan adalah undangan ilahi untuk kembali, memperbaiki, dan memulai lembaran baru. Maka ketika sepuluh malam terakhir tiba, jangan biarkan ia berlalu tanpa makna. Siapa tahu, di salah satu malam sunyi itu, takdir kebaikan sedang dituliskan untuk masa depan yang lebih bercahaya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....